Kutulis ini sebagai caraku
mengingatmu, atau mungkin caraku mengurai rindu kepadamu.
Ada banyak hal yang ingin kutulis
disini, sayangnya aku bukan penulis hebat jadi kucoba saja sebisaku, seingatku.
Berawal disini;
Perkenalan
Hari itu Rabu, sore, di sebuah kampus
yang cukup dikenal dikota ini, tempat yang sangat ingin segera kutinggalkan
saat itu. Tempat dimana kisah ini dimulai. Aku, adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tak kunjung lulus,
tepatnya mahasiswa “terakhir” yang belum lulus di angkatanku. Malu, frustasi,
hmmm jangan bayangkan rasanya. Tapi hari itu aku sedang senang, bagaimana tidak,
dihari itu, dihari bersejarah itu, skripsiku diterima dan jadwal sidangku
adalah besok.
Rumput masih basah sore itu, sisa
hujan semalam, sinar mataharipun masih terasa hangatnya, sore yang bagus, dan
entah kenapa aku mendadak peduli dengan tempat ini, aku ingin sedikit lebih
lama disini, menikmati waktu-waktu terakhirku ditempat ini. Kebetulan mahasiswa
masih ramai saat itu, ada yang yang bermain bola, main voli, atau hanya sekedar
gitaran, dan bercengkrama satu sama lain.
Ah aku baru ingat, ini tahun
ajaran baru, banyak mahasiswi baru, dan seperti sudah hukum alam itulah
periode dimana dedengkot kampus fakir asmara turun gunung mencari mangsa,
konsep senior yang peduli dengan junior jadi jualan paling laku, beberapa
berhasil kenalan, bertukaran pin bb, mengantar pulang, hingga berpacaran.
Beberapa lagi hanya berhasil mengantar pulang sebelum akhirnya ditikung rekan seperjuangan, Beberapa malah harus gugur lebih cepat dimedan pertempuran dibombardir
oleh hujatan dan sorakan merendahkan (sekali lagi oleh rekan seperjuangan).
sisanya lebih buruk, tak dapat apa-apa gagal dan mesti menunggu lagi tahun
depan. Kampus memang medan perang yang kejam.
Lelah bermain bola, aku memilih
untuk bergabung dengan rombongan dedengkot kampus, ditempat paling strategis,
kenapa kusebut strategis? Tempat itu berada tepat ditengah, kursi bulatan
dengan meja dan atap yang disponsori oleh sebuah provider lemot. Dari situ kau
bisa melihat sekeliling, dari situ pula kau bisa dilihat oleh sekeliling,
tempat yang sungguh ideal untuk mengintai, menggoda siapa saja yang lewat, atau
sekedar tebar pesona atau sengaja tertawa terbahak-bahak agar dilihat oleh orang-orang sekeliling
seolah memberi pesan “kamilah penguasa disini!”. konon saking strategisnya,
tempat itu seringkali jadi rebutan, entah antar angkatan atau antar jurusan.
Dan sore itu, aku ada disitu.
Dan seperti biasa Adrian masih selalu
menjadi bintangnya, kau tentu tau disetiap perkumpulan pasti selalu saja ada yang
paling menonjol, paling berisik, paling lucu, paling kurang ajar dan paling berdosa karena
menceritakan aib masing-masing orang yang ada disitu dan sesekali menggoda anak
baru, keduanya punya alasan yang mulia, agar semua yang disitu tertawa, dan
sukur-sukur yang digoda mau.
Sampai lah didetik itu, detik dimana kali
pertama aku melihatmu, seorang anak manusia, perempuan, dengan kaos hitam
kebesaran, celana training, sandal jepit, dan muka tanpa make up keliatan seperti orang yang baru
bangun tidur. Wajah oval itu, dengan mata bulat, dan rambut sebahu.
Pendeknya, Kau cantik.
Aku terdiam saat itu, mengamati
tiap tingkahmu, dan paparan sinar matahari yang sesekali mengenai wajahmu justru membuatmu semakin mempesona. Cantik, tepatnya indah.
Tak terhitung jumlah film yang
memakai scene ini ; Semua mendadak Slow motion, lagu cinta berkumandang,
lalu sang perempuan mengibaskan rambut dan bergerak pelan seperti fotomodel
dengan pencahayaan extra. Klise, sayangnya aku mengalami itu, hanya tak ada
lagu cinta yang kudengar, aku mendadak tuli, aku hanya bisa melihat gerak mulut
Adrian yang sibuk bercerita disusul gerakan mereka yang terbahak-bahak. Semua seperti
melambat saat itu, sekeliling redup hanya ditempatmu berdiri bergelimang cahaya, hatiku tergelitik seperti ada yang menyiramkan Cocacola dingin. Ya, aku
jatuh cinta.
“Dia
siapa?” Aku bertanya kepada Adrian, karena memang baru kali ini aku
melihatmu dan manusia yang satu ini semacam punya database para mahasiswi dikampus.
“Anak
baru”, jawabnya. Lalu tanpa komando tiba-tiba ia mendatangimu, mengganggu
urusan Roni (Dedengkot/Luwak veteran) yang sedang berbicara denganmu. Aku tak
tau apa yang dikatakannya saat itu, yang jelas setelah itu kau menatap ke
arahku, dan mendatangiku. Meninggalkan Roni sendiri.
Dan Adrian dengan bangganya
mengenalkan kau kepadaku, "Ini Reiza, kamu harus kenal senior blablabla". Seperti penjual obat yang ingin menjualku. Kau
tentu ingat ekspresiku saat itu hanya diam, menatapmu dan tersenyum kecut, tanpa
menjabat tangan, tanpa berbicara. Dan setelah mengenalkan diri, kau pergi. Maaf
kalau saat itu aku membuatmu malu. Kurasa aku melecehkan harga dirimu saat itu.
Mungkin setelah itu sebagian dari
dirimu membenciku, sebagian lagi akan mengumpat, “Senior sok keren! Didatangin kok diam! Kau fikir aku datang karna
mau?! Cih, Aku cuma anak baru!!”.
Aku mengutuk diriku saat itu,
yang lain pun menertawakanku, Cupu katanya. Mustahil aku menjelaskan ke mereka apa yang kurasakan saat itu tentang betapa takutnya aku, takut kelihatan buruk, cupu, takut berucap atau bertindak
bodoh yang nanti membuatmu ilfil, takut disamakan dengan yang lain yang menggoda siapa saja. Menjelaskan ke mereka bahwa kau berbeda dari yang lain atau kau adalah anomali langka yang hanya terjadi sesekali akan lebih sulit lagi. Sederhananya, Aku terlalu takut apapun tindakan atau ucapan yang keluar dari mulutku pada perjumpaan pertama ini, akan membuatmu hilang. Begitulah, bahkan hanya untuk berkenalan aku berfikir sejauh itu. Berlebihan? Mungkin, tapi memang itu yang
kurasakan saat itu, Kau memang sehebat itu.
Kebodohanku tak berhenti disitu,berlanjut, karena
setelah itu aku mengajak Adrian ketempat yang agak jauh dari situ, mengatakan
semuanya, tentang aku yang sangat ingin berbicara denganmu tapi tak berani. Dan
Sekali lagi, aku ditertawakan.
Saking lamanya aku
menimbang-nimbang, maghrib pun datang, dan si penakut ini, laki-laki cupu ini dengan berat hati memutuskan untuk pulang, meninggalkanmu dengan Roni, Predator
paling berbahaya disitu.
Sampai diparkiran aku masih ragu
untuk beranjak pergi dari situ, tapi selalu, dalam tiap hal buruk yang terjadi selalu
saja ada hal baik yang harus dipetik, tentu saja untuk menghibur diri. Dan hal baiknya adalah, setidaknya aku tau namamu,
Tiara…
Mutiara..
Perempuanku.
Sore itu kufikir akan berakhir
begitu saja, ternyata tidak. Saat didepan pintu gerbang parkiran, kita berpapasan lagi, dengan Roni yang terlihat senang sekali berjalan
disampingmu. Mungkin bangga. Pandangan kita beradu, beberapa detik dan;
“Orang bugis bro!”. Roni tiba-tiba bicara, entah apa tujuannya. Tapi
syukurlah, dari situ aku bisa berbicara denganmu, untuk kali pertama. Dan kata-kata
yang bisa ku ucapkan adalah;
“Oh,
Iya ya? Bisa bikin Burasak?”
“Bisa”.
Jawabmu
“Itu
cukup”. Lalu aku bergegas memacu motorku.
Kalau kuingat lagi saat itu, aku
merasa bodoh sekali, tapi mau bagaimana lagi, dipertemuan yang sesingkat itu, dalam sepersekian detik aku harus mencari topik pembahasan yang bisa membuat kita berbicara. Dan jujur, tentang Bugis saat itu yang terfikir olehku
hanya, makanan khas, Jusuf Kalla, dan PSM Makasar.
Kufikir itu pertanyaan terbaik,
bisa kau bayangkan jika pertanyaanku;
“Kamu
kenal pak Jusuf Kalla?”
Atau
“Siapa
pemain baru PSM Makasar?”
Mungkin setelah itu kau akan
benar-benar hilang dari aku.
Dirumah, aku memikirkan lagi sore
tadi, apa-apa saja yang sudah terjadi. Kuingat lagi sebulan lalu, saat ditengah
malam aku mengerjakan skripsi, tiba-tiba aku mendadak begitu mempercayai
tuhan, dengan berdo’a agar membantuku segera menyelesaikan skripsi, dan kalau
bisa memberiku bonus berupa pendamping wisuda nanti. Setahun sendiri kufikir cukup untuk
membuatku tau, bahwa aku butuh pendamping. Bukan hanya untuk wisuda tapi hidup.
Dan hari ini, skripsiku diterima
dan aku menemukanmu, saat itu, aku berfikir bahwa tuhan terlalu baik dengan
mengabulkan, tidak satu, tapi kedua do’aku.
Yang jelas, hari itu aku sangat
bahagia
Terimasih Tuhan sudah mau..
Terimakasih Tia sudah ada..
Dan maaf malam ini tidak kuhabiskan
untuk memikirkanmu, sekalipun ingin, aku mesti sidang besok.
Tapi percayalah, setelah ini, Aku
akan mengejarmu!
Pencarian
Hari itupun tiba, hari yang telah kutunggu-tunggu sejak lama. Hari itu, Kamis, sore, aku menyelesaikan kuliahku,
ternyata sidang skripsi tak seseram yang kubayangkan, dan hasilnya lebih dari
apa yang aku harapkan. Semua terlihat ikut berbahagia hari itu, kawan-kawanku
datang dari segala penjuru. Salah satu moment terbaik dalam hidupku, dan aku
berharap ada kau disitu.
Euforia kelulusanku masih terasa
hingga malam, dirumah tak kalah riuh, menyambut Sarjana pertama di keluarga
kami. Sayangnya kau tak ada disini.
Keesokan harinya, aku telah siap
dengan misi yang telah kurencanakan sejak kemarin;
Revisi..
Atau,
Mencari
informasi tentangmu
Mmmm..
Revisi
sambil mencari informasi tentangmu..
Tepatnya,
Mencari
informasi tentangmu sambil revisi..
Mmmm..
Revisi
bisa lain kali saja..
Toh,
ini tak akan memakan waktu lama.
Laptop kuhidupkan .Pencarian pun
dimulai.
Yang terfikir olehku, mustahil kau
tak punya sosmed setidaknya satu.
Aku seolah lupa, bahwa selain kau,
ada ribuan orang lain yang memiliki nama ;”Mutiara”, dan aku tidak tau nama lengkapmu, atau data lain yang sekiranya membantu.
Facebook sudah menghabiskan waktuku
berjam-jam. Nihil, malah justru membuat ingatanku dengan wajahmu terkikis,
karena terlalu banyak melihat foto orang-orang yang belum pernah kulihat
sebelumnya.
Ini waktunya kopi dan ngudud,
aku hanya perlu sedikit tenang. Menunggu ide baru. Berfikir..
Tanyakan ke Adrian? Lalu semua orang dikampus akan tau.
Datang kekampus mencari? Puluhan
ruangan, ratusan mahasiswi. Tidak akan efektif, atau aku yang tak berani.
AH YA! TWITTER!! Aku belum
mencarimu disitu.
Pencarian pun dimulai lagi,
Kali ini dengan cara yang sedikit
berbeda. Kalau kugunakan cara sebelumnya tentu saja akan ada lagi ratusan
Mutiara-Mutiara lain.
Ruang lingkupnya kuperkecil,
sebagai anak baru biasanya akan Follow akun Kampus, Fakultas, Jurusan.
Perasaanku mengatakan kau ada disitu, ini akan lebih mudah, fikirku. Kucari akun
perhimpunan mahasiswa jurusan, followernya ada beberapa ribu, 60% adalah
perempuan, aku buka satu persatu yang kupilih acak, mencarimu tak semudah itu
ternyata. Pun banyak godaan, dari situ aku baru tau, ternyata banyak mahasiswi
cantik dikampus. Ah aku cari yang tercantik!
Sampai dimana aku akhirnya
menemukanmu, Sempat ragu, tapi mata dalam Foto itu membuatku begitu yakin.
Itu kau, perempuanku.
Silahkan Bartholomeus Diaz senang dengan penemuannya, dia
yang telah hampir menyerah dalam pencarian rute ke dunia baru, ia yang hampir
mati ditelan ombak dan kelaparan, sampai akhirnya menemukan Tanjung Harapan.
Aku cukup dengan ini, toh sama-sama memberi harapan.
“Mutiara Elza Dewi”. Nama lengkapmu.
Oke, aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Dari situ kucari tau semua tentangmu, apa yang kau suka, apa yang tidak, musik, film, apa
yang kau fikirkan, pandanganmu akan sesuatu, statusmu, bahkan Capres pilihanmu.
Kufikir itu berguna untukku kedepannya.
Belum, sabar aku belum akan follow
kamu. Sekali lagi ini harus ditangani secara bijak dan tak boleh gegabah. Kufikir dengan paras secantik itu, diajak kenalan via dm
minta nomer hp/pin bb bukan sesuatu yang baru bagimu, hal biasa.
Dari situ aku tau, kau suka menulis, aku membaca tiap kata
dari apa yang kau tulis dalam blog-mu. Harus aku akui kau berbakat dengan itu
dan aku semakin menyukaimu.
Dan aku sudah semakin tau beberapa hal tentangmu.
Waktunya kembali ke akunku, mengumpulkan lagi beberapa puisi/tulisan
pendek yang pernah kutulis, berlagak seperti penyair, dan mempostingnya. Setelah
kufikir semuanya siap;
Bismillah , Klik, Reiza Followed you
Sekarang aku
hanya menunggu notif di hpmu berbunyi, melihat twittku, suka, Followback, dan
jalanku akan semakin terbuka.
Ternyata semua tak semudah itu. Aku harus
menunggu sedikit lebih lama.
Saat itu,
terfikir olehku, aku mungkin telah menjadi Stalker psikopat karena selama mencarimu dan kerepotan dengan itu, aku menyukainya.
Tia,
segeralah buka HP, buka Twitter, aku menunggumu..
Bersambung..