Senin, 25 Desember 2017

Float...

Kutulis ini sebagai caraku mengingatmu, atau mungkin caraku mengurai rindu kepadamu.
Ada banyak hal yang ingin kutulis disini, sayangnya aku bukan penulis hebat jadi kucoba saja sebisaku, seingatku.

Berawal disini;

Perkenalan

Hari itu Rabu, sore, di sebuah kampus yang cukup dikenal dikota ini, tempat yang sangat ingin segera kutinggalkan saat itu. Tempat dimana kisah ini dimulai. Aku, adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tak kunjung lulus, tepatnya mahasiswa “terakhir” yang belum lulus di angkatanku. Malu, frustasi, hmmm jangan bayangkan rasanya. Tapi hari itu aku sedang senang, bagaimana tidak, dihari itu, dihari bersejarah itu, skripsiku diterima dan jadwal sidangku adalah besok.

Rumput masih basah sore itu, sisa hujan semalam, sinar mataharipun masih terasa hangatnya, sore yang bagus, dan entah kenapa aku mendadak peduli dengan tempat ini, aku ingin sedikit lebih lama disini, menikmati waktu-waktu terakhirku ditempat ini. Kebetulan mahasiswa masih ramai saat itu, ada yang yang bermain bola, main voli, atau hanya sekedar gitaran, dan bercengkrama satu sama lain.

Ah aku baru ingat, ini tahun ajaran baru, banyak mahasiswi baru, dan seperti sudah hukum alam itulah periode dimana dedengkot kampus fakir asmara turun gunung mencari mangsa, konsep senior yang peduli dengan junior jadi jualan paling laku, beberapa berhasil kenalan, bertukaran pin bb, mengantar pulang, hingga berpacaran. Beberapa lagi hanya berhasil mengantar pulang sebelum akhirnya ditikung rekan seperjuangan, Beberapa malah harus gugur lebih cepat dimedan pertempuran dibombardir oleh hujatan dan sorakan merendahkan (sekali lagi oleh rekan seperjuangan). sisanya lebih buruk, tak dapat apa-apa gagal dan mesti menunggu lagi tahun depan. Kampus memang medan perang yang kejam.

Lelah bermain bola, aku memilih untuk bergabung dengan rombongan dedengkot kampus, ditempat paling strategis, kenapa kusebut strategis? Tempat itu berada tepat ditengah, kursi bulatan dengan meja dan atap yang disponsori oleh sebuah provider lemot. Dari situ kau bisa melihat sekeliling, dari situ pula kau bisa dilihat oleh sekeliling, tempat yang sungguh ideal untuk mengintai, menggoda siapa saja yang lewat, atau sekedar tebar pesona atau sengaja tertawa terbahak-bahak agar dilihat oleh orang-orang sekeliling seolah memberi pesan “kamilah penguasa disini!”. konon saking strategisnya, tempat itu seringkali jadi rebutan, entah antar angkatan atau antar jurusan. Dan sore itu, aku ada disitu.

Dan seperti biasa Adrian masih selalu menjadi bintangnya, kau tentu tau disetiap perkumpulan pasti selalu saja ada yang paling menonjol, paling berisik, paling lucu, paling kurang ajar dan paling berdosa karena menceritakan aib masing-masing orang yang ada disitu dan sesekali menggoda anak baru, keduanya punya alasan yang mulia, agar semua yang disitu tertawa, dan sukur-sukur yang digoda mau.

Sampai lah didetik itu, detik dimana kali pertama aku melihatmu, seorang anak manusia, perempuan, dengan kaos hitam kebesaran, celana training, sandal jepit, dan muka tanpa make up keliatan seperti  orang yang baru bangun tidur. Wajah oval itu, dengan mata bulat, dan rambut sebahu. Pendeknya, Kau cantik.

Aku terdiam saat itu, mengamati tiap tingkahmu, dan paparan sinar matahari yang sesekali mengenai wajahmu justru membuatmu semakin mempesona. Cantik, tepatnya indah.

Tak terhitung jumlah film yang memakai scene ini ; Semua mendadak Slow motion, lagu cinta berkumandang, lalu sang perempuan mengibaskan rambut dan bergerak pelan seperti fotomodel dengan pencahayaan extra. Klise, sayangnya aku mengalami itu, hanya tak ada lagu cinta yang kudengar, aku mendadak tuli, aku hanya bisa melihat gerak mulut Adrian yang sibuk bercerita disusul gerakan mereka yang terbahak-bahak. Semua seperti melambat saat itu, sekeliling redup hanya ditempatmu berdiri bergelimang cahaya, hatiku tergelitik seperti ada yang menyiramkan Cocacola dingin. Ya, aku jatuh cinta.

“Dia siapa?” Aku bertanya kepada Adrian, karena memang baru kali ini aku melihatmu dan manusia yang satu ini semacam punya database para mahasiswi dikampus.
“Anak baru”, jawabnya. Lalu tanpa komando tiba-tiba ia mendatangimu, mengganggu urusan Roni (Dedengkot/Luwak veteran) yang sedang berbicara denganmu. Aku tak tau apa yang dikatakannya saat itu, yang jelas setelah itu kau menatap ke arahku, dan mendatangiku. Meninggalkan Roni sendiri.

Dan Adrian dengan bangganya mengenalkan kau kepadaku, "Ini Reiza, kamu harus kenal senior blablabla". Seperti penjual obat yang ingin menjualku. Kau tentu ingat ekspresiku saat itu hanya diam, menatapmu dan tersenyum kecut, tanpa menjabat tangan, tanpa berbicara. Dan setelah mengenalkan diri, kau pergi. Maaf kalau saat itu aku membuatmu malu. Kurasa aku melecehkan harga dirimu saat itu.

Mungkin setelah itu sebagian dari dirimu membenciku, sebagian lagi akan mengumpat, “Senior sok keren! Didatangin kok diam! Kau fikir aku datang karna mau?! Cih, Aku cuma anak baru!!”.

Aku mengutuk diriku saat itu, yang lain pun menertawakanku, Cupu katanya. Mustahil aku menjelaskan ke mereka apa yang kurasakan saat itu tentang betapa takutnya aku, takut kelihatan buruk, cupu, takut berucap atau bertindak bodoh yang nanti membuatmu ilfil, takut disamakan dengan yang lain yang menggoda siapa saja. Menjelaskan ke mereka bahwa kau berbeda dari yang lain atau kau adalah anomali langka yang hanya terjadi sesekali akan lebih sulit lagi. Sederhananya, Aku terlalu takut apapun tindakan atau ucapan yang keluar dari mulutku pada perjumpaan pertama ini, akan membuatmu hilang. Begitulah, bahkan hanya untuk berkenalan aku berfikir sejauh itu. Berlebihan? Mungkin, tapi memang itu yang kurasakan saat itu, Kau memang sehebat itu.

Kebodohanku tak berhenti disitu,berlanjut, karena setelah itu aku mengajak Adrian ketempat yang agak jauh dari situ, mengatakan semuanya, tentang aku yang sangat ingin berbicara denganmu tapi tak berani. Dan Sekali lagi, aku ditertawakan.

Saking lamanya aku menimbang-nimbang, maghrib pun datang, dan si penakut ini, laki-laki cupu ini dengan berat hati memutuskan untuk pulang, meninggalkanmu dengan Roni, Predator paling berbahaya disitu.

Sampai diparkiran aku masih ragu untuk beranjak pergi dari situ, tapi selalu, dalam tiap hal buruk yang terjadi selalu saja ada hal baik yang harus dipetik, tentu saja untuk menghibur diri. Dan hal baiknya adalah, setidaknya aku tau namamu,

Tiara…
Mutiara..
Perempuanku.

Sore itu kufikir akan berakhir begitu saja, ternyata tidak. Saat didepan pintu gerbang parkiran, kita berpapasan lagi, dengan Roni yang terlihat senang sekali berjalan disampingmu. Mungkin bangga. Pandangan kita beradu, beberapa detik dan;

“Orang bugis bro!”. Roni tiba-tiba bicara, entah apa tujuannya. Tapi syukurlah, dari situ aku bisa berbicara denganmu, untuk kali pertama. Dan kata-kata yang bisa ku ucapkan adalah;

“Oh, Iya ya? Bisa bikin Burasak?”
“Bisa”. Jawabmu
“Itu cukup”. Lalu aku bergegas memacu motorku.

Kalau kuingat lagi saat itu, aku merasa bodoh sekali, tapi mau bagaimana lagi, dipertemuan yang sesingkat itu, dalam sepersekian detik aku harus mencari topik pembahasan yang bisa membuat kita berbicara. Dan jujur, tentang Bugis saat itu yang terfikir olehku hanya, makanan khas, Jusuf Kalla, dan PSM Makasar.
Kufikir itu pertanyaan terbaik, bisa kau bayangkan jika pertanyaanku;

“Kamu kenal pak Jusuf Kalla?”
Atau
“Siapa pemain baru PSM Makasar?”
Mungkin setelah itu kau akan benar-benar hilang dari aku.

Dirumah, aku memikirkan lagi sore tadi, apa-apa saja yang sudah terjadi. Kuingat lagi sebulan lalu, saat ditengah malam aku mengerjakan skripsi, tiba-tiba aku mendadak begitu mempercayai tuhan, dengan berdo’a agar membantuku segera menyelesaikan skripsi, dan kalau bisa memberiku bonus berupa pendamping wisuda nanti. Setahun sendiri kufikir cukup untuk membuatku tau, bahwa aku butuh pendamping. Bukan hanya untuk wisuda tapi hidup.

Dan hari ini, skripsiku diterima dan aku menemukanmu, saat itu, aku berfikir bahwa tuhan terlalu baik dengan mengabulkan, tidak satu, tapi kedua do’aku.
Yang jelas, hari itu aku sangat bahagia

Terimasih Tuhan sudah mau..
Terimakasih Tia sudah ada..

Dan maaf malam ini tidak kuhabiskan untuk memikirkanmu, sekalipun ingin, aku mesti sidang besok.
Tapi percayalah, setelah ini, Aku akan mengejarmu!

Pencarian

Hari itupun tiba, hari yang telah kutunggu-tunggu sejak lama. Hari itu, Kamis, sore, aku menyelesaikan kuliahku, ternyata sidang skripsi tak seseram yang kubayangkan, dan hasilnya lebih dari apa yang aku harapkan. Semua terlihat ikut berbahagia hari itu, kawan-kawanku datang dari segala penjuru. Salah satu moment terbaik dalam hidupku, dan aku berharap ada kau disitu.
Euforia kelulusanku masih terasa hingga malam, dirumah tak kalah riuh, menyambut Sarjana pertama di keluarga kami. Sayangnya kau tak ada disini.
Keesokan harinya, aku telah siap dengan misi yang telah kurencanakan sejak kemarin;

Revisi..
Atau,
Mencari informasi tentangmu
Mmmm..
Revisi sambil mencari informasi tentangmu..
Tepatnya,
Mencari informasi tentangmu sambil revisi..
Mmmm..
Revisi bisa lain kali saja..
Toh, ini tak akan memakan waktu lama.

Laptop kuhidupkan .Pencarian pun dimulai.

Yang terfikir olehku, mustahil kau tak punya sosmed setidaknya satu.
Aku seolah lupa, bahwa selain kau, ada ribuan orang lain yang memiliki nama ;”Mutiara”, dan aku tidak tau nama lengkapmu, atau data lain yang sekiranya membantu.

Facebook sudah menghabiskan waktuku berjam-jam. Nihil, malah justru membuat ingatanku dengan wajahmu terkikis, karena terlalu banyak melihat foto orang-orang yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ini waktunya kopi dan ngudud, aku hanya perlu sedikit tenang. Menunggu ide baru. Berfikir..

Tanyakan ke Adrian?  Lalu semua orang dikampus akan tau.
Datang kekampus mencari? Puluhan ruangan, ratusan mahasiswi. Tidak akan efektif, atau aku yang tak berani.

AH YA! TWITTER!! Aku belum mencarimu disitu.

Pencarian pun dimulai lagi,

Kali ini dengan cara yang sedikit berbeda. Kalau kugunakan cara sebelumnya tentu saja akan ada lagi ratusan Mutiara-Mutiara lain.
Ruang lingkupnya kuperkecil, sebagai anak baru biasanya akan Follow akun Kampus, Fakultas, Jurusan. Perasaanku mengatakan kau ada disitu, ini akan lebih mudah, fikirku. Kucari akun perhimpunan mahasiswa jurusan, followernya ada beberapa ribu, 60% adalah perempuan, aku buka satu persatu yang kupilih acak, mencarimu tak semudah itu ternyata. Pun banyak godaan, dari situ aku baru tau, ternyata banyak mahasiswi cantik dikampus. Ah aku cari yang tercantik!

Sampai dimana aku akhirnya menemukanmu, Sempat ragu, tapi mata dalam Foto itu membuatku begitu yakin. Itu kau, perempuanku.

Silahkan Bartholomeus Diaz senang dengan penemuannya, dia yang telah hampir menyerah dalam pencarian rute ke dunia baru, ia yang hampir mati ditelan ombak dan kelaparan, sampai akhirnya menemukan Tanjung Harapan. Aku cukup dengan ini, toh sama-sama memberi harapan.

“Mutiara Elza Dewi”. Nama lengkapmu.

Oke, aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Dari situ kucari tau semua tentangmu, apa yang kau suka, apa yang tidak, musik, film, apa yang kau fikirkan, pandanganmu akan sesuatu, statusmu, bahkan Capres pilihanmu. Kufikir itu berguna untukku kedepannya.

Belum, sabar aku belum akan follow kamu. Sekali lagi ini harus ditangani secara bijak dan tak boleh gegabah. Kufikir dengan paras secantik itu, diajak kenalan via dm minta nomer hp/pin bb bukan sesuatu yang baru bagimu, hal biasa.

Dari situ aku tau, kau suka menulis, aku membaca tiap kata dari apa yang kau tulis dalam blog-mu. Harus aku akui kau berbakat dengan itu dan aku semakin menyukaimu.

Dan aku sudah semakin tau beberapa hal tentangmu.
Waktunya kembali ke akunku, mengumpulkan lagi beberapa puisi/tulisan pendek yang pernah kutulis, berlagak seperti penyair, dan mempostingnya. Setelah kufikir semuanya siap;

Bismillah , Klik, Reiza Followed you

Sekarang aku hanya menunggu notif di hpmu berbunyi, melihat twittku, suka, Followback, dan jalanku akan semakin terbuka. 

Ternyata semua tak semudah itu. Aku harus menunggu sedikit lebih lama.

Saat itu, terfikir olehku, aku mungkin telah menjadi Stalker psikopat karena selama mencarimu dan kerepotan dengan itu, aku menyukainya.


Tia, segeralah buka HP, buka Twitter, aku menunggumu..


Bersambung..