Sabtu, 30 September 2017

Alettertoyou

25 Oktober 2013 (02.18 Pagi, Hujan)


Hey, saat menulis ini kau sebaiknya tau aku sedang memikirkanmu dan mengingat lagi awal pertemuan kita. Apa-apa saja yang akan terjadi besok lalu bayangan akan menjadi seperti apa kita di kemudian hari atau sebutlah itu harapan. 

Harapanku.

Kau mungkin tak akan membaca ini dalam waktu dekat tapi percayalah, kelak kau akan membacanya atau aku sendiri yang akan membacakannya untukmu. Entah itu dihadapanmu seorang atau didepan banyak orang dengan kau yang tersipu malu dalam balutan gaun putih yang tentunya membuatmu jadi yang paling cantik di hari itu. Semoga yang kedua, tentu dengan perubahan seperlunya jika itu terjadi.

Awal pertemuan dulu yang kuingat tak banyak, tak seperti kebanyakan orang yang berujar akan persamaan diawal perkenalan, kita tidak.

Sedikit persamaan kita dulu hanya sama-sama menyukai anjing dan sama-sama tak diperbolehkan untuk memeliharanya oleh orang tua kita masing-masing.

Aku harus berterimakasih dengan Goldy si Golden retriever yang tersesat saat itu, dialah yang membuatku mengenalmu, kufikir dia anjingmu waktu itu.

Ya mengenalmu, kau yang ramah hanya masih terkesan menjaga jarak, lumrah. Selain karena baru kenal juga karena kekakuanku dalam berbahasa dan bertutur, mungkin kau menganggapku orang aneh saat itu.

Setelahnya semua menjadi lebih mudah untuk kita. Terimakasih Tekhnologi!
Tapi tetap, kita masih tak memiliki banyak kesamaan. Kita berbeda, kau lebih hebat, Kau dengan mudah menyamakan diri denganku, menyesuaikan, melengkapi.

Aku ingat dulu setelah kita lebih akrab, kau menanyakan sesuatu padaku, sesuatu yang kau bilang terlihat dari sorot mataku, sesuatu yang kau sebut dapat kau rasakan saat melihatku. Kesedihan, katamu. 
Lama aku meyakinkanmu, bahwa kau sok tau tapi saat itu, kau lebih keras kepala dari biasanya. Sampai akhirnya kucoba ceritakan sebagian dari apa yang kufikirkan, apa yang kusimpan dalam-dalam yang tak pernah ku ceritakan pada siapapun. Padahal saat itu kau tak memaksaku untuk bercerita, kau hanya mampu membuatku percaya aku bisa berbagi denganmu.

Kau ingat apa yang terjadi setelah itu? Kau menangis, aku bingung saat itu. Lalu kau berujar, kau tidak mengasihaniku, kau hanya sedih dan bingung kenapa setelah semua yang menimpaku, aku masih bisa tertawa lalu sejurus kemudian kau memelukku. Padahal aku belum mengatakan kepadamu agar jangan mengasihani aku karena aku membenci itu.

Di pelukanmu saat itu, aku menemukan kedamaian, aku menyukai perasaan itu. Setelah hari itu, entah kenapa aku menjadi begitu bersemangat untuk apapun yang kulakukan. 

Untuk hidup.

Hey, kau tau apalagi yang membuatku menyukaimu?
Aku suka caramu berpura-pura antusias atas apa saja yang kuceritakan kepadamu. Atau apa-apa saja yang kulakukan untukmu, karena aku tau berpura-pura itu sulit apalagi dengan mata yang berbinar-binar seperti itu atau mungkin kau memang sedang tak berpura-pura?

Denganmu aku bisa bercerita tentang apapun. Seringnya sesuatu yg mungkin kebanyakan orang menganggap itu aneh atau tak penting tapi kita menyukainya.

Denganmu pulalah aku jadi tau bahwa diam pun bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kita hanya bertatapan tak bersuara lalu tersenyum satu sama lain, bahkan kadang sampai tertawa. Entah menertawakan apa.

Lalu caramu menunjukkan kesenangan dari tiap hal sederhana yang bisa kuberikan untukmu. Kadang kufikir reaksimu berlebihan tapi kau bilang, ini lucu, ini unik, tak terfikirkan olehmu.

Pernah suatu kali kau memintaku menciptakan lagu untukmu lalu aku menyanyikan lagu yang saking sembarangannya sampai-sampai aku tak bisa mengulang untuk yang kedua kalinya. Bagus katamu, ingin kau rekam. Haha lain kali aku akan lebih serius lagi tentang itu, aku rekam sendiri lalu ku hadiahkan untukmu.

Atau dihari lain kau berkata agar berhenti menggombalimu. Jawabanku tetap sama, aku tidak sedang menggobalimu aku tak ahli tentang itu, aku hanya mengatakan apa yang kufikirkan saat itu, saat aku melihatmu jika itu adalah pujian itulah yang memang kurasakan saat itu. Toh kau memang indah. Dimataku.

Banyak hal yang ingin ku ceritakan tentangmu tapi sebaiknya terlebih dulu aku harus memberikanmu es krim coklat kesukaanmu sebanyak yang kau mau, sebagai tanda terima kasih karena sudah mau berada disampingku. Melengkapi apa yang kurasa kurang dihidupku lalu bersyukur kepada Tuhan karena sudah menciptakanmu, menurunkan kau ke bumi lalu menghadirkan sore itu.
Sore dengan Goldy yang tersesat.

Akupun harus berterima kasih kepada ibumu karena sudah melahirkanmu, membesarkanmu, menurunkan kecantikannya lalu mendidikmu sebaik-baiknya didikan sehingga kau jadi sehebat ini.
Tenang, aku tidak melupakan ayahmu.
Tentu saja karena kelak, bukan hanya berterima kasih, aku juga akan meminta izin padanya untuk mempercayakan anak bungsu kesayangannya untuk ku jaga, ku jadikan orang yang akan ku ajak menghabiskan sisa hidupku dengannya.

Dan sekarang yang ingin ku katakan kepadamu hanya sedikit, terima kasih sudah ada, kau jangan jauh-jauh dari aku. Sehat selalu. Seperti ini saja dulu, aku belum akan melamarmu. Lain kali mungkin. 

 ***

17 September 2014 (01.14 Pagi, Hujan)

Erika. Ternyata aku salah, kau tak akan pernah membaca ini atau mendengarkan aku membacakan ini untukmu. Sejak hari itu, aku membenci diriku sendiri, membenci dunia, menghujat Tuhan tapi aku ingat kau membenci aku yang seperti itu. Aku takut kau marah.

Kadang aku masih selalu berandai-andai tentang hari itu.
Andai hari itu aku tak jauh sehingga aku bisa menjemputmu pulang.
Andai hari itu kamu mendengarkan ayah untuk mengantarmu.
Atau andai hari itu kamu mendengarkan ibu untuk jangan bekerja dulu, kan baru sembuh.
Atau andai hari itu kau tak lewat dijalan itu
,di jam itu.
Andai supir truk itu mau berhenti untuk tidur sehingga tak mengantuk.
Atau andai ia bisa mengerem lebih cepat.
Atau dia membanting stirnya ke arah lain, apapun atau siapapun yang bukan kau.
Andai orang-orang disitu lebih cepat menolongmu. 
Andai tuhan mau sedikit saja melebihkan belas kasihannya kepadaku, kepada kami. Orang-orang yang mencintaimu, yang ingin kau hidup puluhan tahun lagi untuk menemani kami.

Kau curang sayang, kau yang selalu bilang kepadaku untuk terus bertahan hidup, mensyukuri apapun yang terjadi di hidupku, tapi kau pergi. Sementara kau tau, kau pulalah salah satu alasanku untuk terus hidup. Apa inipun harus ku syukuri?
Ah datanglah kau ke mimpiku, tolong jelaskan kepadaku, kali ini aku tak tau apa yang mesti ku syukuri. Datanglah setiap hari, di setiap tidurku, jelaskanlah selalu. Mungkin aku tak kan faham tapi setidaknya aku bisa melihatmu. Ya, aku rindu kau. 

Bagaimana di sana? Indah? Kau bahagia? Katakanlah kau di surga atau apapun itu namanya, mintalah ke Tuhan beberapa ekor golden retriever untuk menjadi kawanmu di situ. Jika Ia menolak, bilang padanya di dunia kau tak boleh memelihara anjing masa di surgapun tidak? Memelaslah dengan mata sendu saktimu seperti yang biasa kau tunjukan kepadaku, kau ahli dalam hal itu, tak ada yang bisa menolaknya.

Jika ia masih menolak, katakan lagi kepadanya itu sebagai ganti keikhlasanku atas kau. Bilang ke Dia, ada salah seorang penduduk bumi yang meragukannya tapi jika Ia mau mengabulkan permintaanmu, orang tersebut akan mempercayainya dan berjanji akan jadi manusia yang lebih baik.

Oh ya, jika permintaanmu dikabulkan, Ingat! jangan mau dikasih satu. Tiga atau empat kufikir bagus. Kau pasti akan menyayangi semuanya tapi carilah satu yang paling kau sayang, yang paling menyayangimu, yang paling tak bisa diam, yang paling sering membuatmu kesal. Setelah kau temukan berikan namaku padanya. Jangan tertawa, itu amanah!

Tentang ayah dan ibumu mereka baik-baik saja, tenanglah. Beberapa kali sempat ku kunjungi.
Ibumu bahkan selalu memeluk dan menciumku tiap bertemu. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya dulu.
Kabar ibuku juga baik.

Ingin ku katakan padamu, aku pun baik-baik saja disini tapi kau selalu tau saat aku berbohong, tapi demi anjing-anjingmu aku janji akan lebih baik lagi dari kemarin.
Aku akan belajar mengikhlaskanmu.

Banyak yang ingin ku tulis, sangat banyak.
Tapi aku mulai ngantuk. Hahaa, aku menangis? Tidak, aku habis menguap tadi.

Hmmm..
Jadi datanglah kau malam ini.
Datanglah, jika kau tak mau menjelaskan, kita bisa menceritakan hal lainnya. Apapun.
Bahkan jika kau hanya ingin diam tak apa-apa biar aku sendiri yang bicara, menciptakan lagu atau ikut diam bersamamu atau apapun yang kau mau tapi tolong datanglah. 

Iya, aku merindukanmu.
Sangat.













Rabu, 27 September 2017

Eigengrau

Pada yang tuli
Pada yang buta
Pada daun terakhir yang kan gugur
Menyerahlah, aku sudah.

Kunamai kau malam
Akulah siangmu
Pada apa yang diciptakan bersama
Tapi tak untuk bersama

Pada yang kehausan akan keharusan
Jadilah ia titik, dari dialog tanpa jeda.

Pada hujan bulan September
Yang mengiringi upacara pemakaman
Jadilah ia akhir, bagi ringkih tanpa rintih

Rianglah ia dalam liang
Terkubur bersama segalanya
Kecuali penyesalan.

Hamba sudah berusaha, tuan. 
Sudah.

Senin, 25 September 2017

Aphrodisia...

Alena :” Kudengar dari orang-orang, kau penyair handal?, berpindah dari kota satu ke kota lainnya, menuliskan syair dan puisi bagi orang-orang yang sedang dimabuk cinta? Berapa banyak uang yang bisa kau dapatkan dari situ?”

Hugo   : ”Mungkin kau salah dengar. Atau orang-orang yang terlalu melebih-lebihkan. Uang? Kurasa tak semua orang menjadikan itu sebagai ukuran. Tapi jika kau ingin jawaban, kurasa cukup. Cukup untuk membuatku hidup sampai hari ini, membeli beberapa botol bir, dan membayarmu malam ini”.

Alena  : “Haha. Kau tersinggung? Oke, bayar aku dengan puisimu”.

Hugo   : “Maksudmu?”

Alena  : ”Buatkan aku puisi, seumur hidup belum ada yang pernah melakukannya untukku”.

Hugo   : “Aku sedang tak ingin, pun aku masih punya uang”.

Alena  : “Ayolah, tak inginkah kau membuat  pelacurmu senang malam ini? atau harga puisimu lebih mahal dari hargaku? Oh, aku akan marah jika kau meng-iya kannya”.

Hugo   : “Nanti kau akan membenciku”.

Alena  : “Hah? Kenapa aku harus membencimu?”

Hugo   : “Karena puisiku”

Alena  : “Haha. Tenanglah, seburuk apapun puisimu. Aku akan berpura-pura menyukainya. Toh yang ku tau, puisi berisi segala ungkapan puja-puji atau segala hal tentang sepi. Kemana perginya kepercayaan dirimu tadi?”

Hugo   : “Hmmmm..”

Hugo   : “Angka berapa yang kau suka?”

Alena  :  “Maksudmu?”

Hugo   :  “Jawab saja pertanyaanku”.

Alena  :  “Oh, 19. Angka sempurna menurutku, awal dan akhir”.

Hugo   :  “ Apa lagi yang kau suka?”

Alena  :  “Uang”.

Hugo   : “Bukan, maksudku sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang sentimentil,   sesuatu yang membuat kau teringat akan sesuatu, atau yang membuatmu senang”.

Alena  : “Oh aku faham, itu yang akan kau jadikan isi dalam puisimu, aku mulai menyukai ini”

Alena : “Kufikir tak ada lagi yang membuatku senang selain uang. Tapi, mmm waktu kecil dulu aku suka hujan, hujan dipagi hari, disiang hari, atau disore hari, tapi tidak dimalam hari”.

Hugo   : “Kenapa?”

Alena  : “Aku sering ditinggal sendiri saat itu, berlindung dalam rumah dengan penerangan seadaanya, dengan dentuman petir yang bersahut-sahutan diluar. Aku sangat takut saat itu. Kau tentu bisa membayangkannya. Hey, kau akan membuatkan puisi, atau akan terus menanyaiku?”

Hugo   : “Hmmmm.. Baiklah, beri aku 15 menit, jangan kau ganggu, dan tetaplah telanjang”.

Alena  : “Wow, tubuhku menjadi inspirasi. Aku tersanjung. Baiklah tuan penyair”


***

Hugo   : “Puisimu telah selesai, mau kau baca sendiri? Atau ingin kubacakan?”

Alena  : “Tolong kaubacakan, buat aku terbuai dengan itu sayang”.

Hugo   : “Oke. Tapi sebelumnya, bolehkah aku mengikat kaki dan tanganmu, dan menutup mulutmu?”

Alena  : “Hey, kau ingin membunuhku?”

Hugo   : “Ya. Jika kau terus bicara”

Hugo   : “Aku ingin bermain sekali lagi denganmu, kali ini sedikit lebih liar”

Alena  : “Haha. Aku faham. Aku tau, tiap laki-laki punya fantasinya sendiri. Tapi aku tak menyangka kau seliar ini. Kau tau? orang-orang harus membayar lebih untuk itu. Kau tak perlu, anggap itu bonus karena membacakannya untukku. Ambilkan sapu tanganku. Pakai saja itu untuk menutup mulutku. Jangan terlalu kuat. Dan jangan kecewakan aku!”

***

Hugo   : “Puisi ini untukmu, khusus untukmu”.



Hey Pelacur, Lihat lah dirimu hari ini
Sudah berapa laki-laki yang mengangkangimu?
19, 20, 50,100, 1000?
Atau kau lupa saking banyaknya?.
Kau suka uang
Uang menyukaimu. tubuhmu
Tapi kau lupa.
Kau akan tua, sementara uang tetap ada. Meninggalkanmu.
Lihatlah dirimu hari ini
Kemana perginya buah dada membusungmu dulu?
Atau bokong padat berisi segala imajinasi dari laki-laki yang kau lewati?
Mereka hilang, Mereka akan hilang.


Hugo   : “Hey, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau sudah mulai membenciku?dengarkan saja dulu, ini bahkan belum setengahnya”.


Hey Pelacur, kau serupa ahli nujum
Ahli meramu, segala yang palsu
Liurmu serupa nanah, hanya menjadi anggur dihadapan yang buta.
Yang lidahnya tak peka.
Pangkal pahamu?
Hanya tumpukan daging busuk, Lalu kau hidangkan sedemikian rupa
Menjadi santapan para raja.
Bibir tipismu?
Ah sudahlah, biar gincu merah murahmu yang bercerita
Lidahmu lah yang terhebat
Dari situlah segala desah dan janji dimuntahkan
Layaknya rapal mantra paling kuat
Masuk ke pembuluh darah, dan mengikat hebat.


Hugo   : “Hey, Kenapa kau memberontak?Sia-sia. Kau hanya membuang-buang tenaga, tunggulah sebentar lagi. Ini akan selesai”


Hey Pelacur, Kau lupa?
Bahwa wanita membawa kutukan sejak dari lahirnya
Kutukan tentang, masa lalu
Ya, wanita dinilai dari masa lalunya.
Suka tak suka. Kau harus setuju dengan itu.
Ibumu, pasti pernah bicara tentang itu.


Hugo   : “Hey kenapa kau menangis? Sabar, sedikit lagi”.


Hey Pelacur, Kau tak bocah lagi.
Aku yakin kini kau tak takut lagi dengan hujan diwaktu malam
Sekarang ia temanmu, yang memberi tanda
Agar kau lebih bersemangat menjajakan satu-satunya yang kau punya
Konon, Saat malam dan hujan
Rasa lapar dan sepi menjadi semakin kuat
Melesat masuk menghujam kerongkongan
Turun keperut, lalu berhenti diantara selangkangan.
Semesta mendukung, fikirmu.

Hey Pelacur. Kau punya Cinta?
Bukan. Maksudku selain uang.
Mustahil kau tak punya cinta, setidaknya cinta pertama
Kutebak,
Cinta pertamamu berupa penis hitam busuk yang menjulang dihadapanmu
Berjubah segala janji manis khas penjual obat.
Jadilah ia guru pertamamu

Hey Pelacur, maaf aku menulis ini
Seharusnya bisa lebih panjang lagi.
Tapi aku ingin muntah sekarang.


Hugo   : “Jangan tatap aku dengan tatapan yang seperti itu. Kau yang memaksaku membuatkan puisi tadi”.


Hugo   : “Kau membenciku? Sayangnya aku tak peduli. Pelacur dimuka bumi bukan cuma kau”. Oh ya, Kawanku metitipkan salam untukmu, ia yang beberapa tahun lalu tergantung kaku meregang nyawa karena menangisi manusia hina penista kaum macam kau. Ia yang terlalu mencintaimu. Ia yang memaafkanmu dan mempercayai tiap jengkal cerita yang kau ceritakan. Tentang kau yang tak sadar lalu diperkosa. Ia yang bersedia menjadi bapak bagi siapa yang bukan anaknya kelak. Ia yang kemudian hidup berkalang malu di rajam tawa dan cemoohan orang sekampung. Kau seharusnya tidak pergi saat itu, setidaknya tidak dihari itu. Tidak saat semua sudah disiapkan untukmu, untuk anak harammu”.


Hugo    : "Kau tau apa yang paling menyedihkan saat itu? Saat kepergianmu dianggapnya sebagai tanda cintamu untuknya, kau yang tak mau menyiksanya dengan aib yang kau bawa, kau yang merasa gagal menjaga apa yang selama ini kalian jaga, kau yang tak mau membuatnya menanggung beban, bahkan ia malah menyalahkan dirinya saat itu. Sampai kemudian istri Si tuan tanah berkeliling kampung berteriak-teriak serupa orang gila, bahwa kau membawa lari suaminya, beserta harta yang mereka punya. Suami jalang dan gundik yang bunting”.
"Ia mencium kebusukan itu sejak dulu. Tapi terlalu takut untuk bicara. Lagipula siapa yang mau dimadu?”
       

Hugo      :“Dan Nakula kawanku. Kawanku yang dungu. sebenarnya telah mati saat itu, ia hanya menunggu malaikat maut singgah sesaat untuk menikamkan pedang mahatajamnya ke jantungnya, atau mencengkram lalu mencabut dengan paksa hati lelaki tolol itu. Hati yang pastinya telah bengkak, membiru penuh memar”.“Dan tepat dimalam laknat itu, ditengah hujan yang begitu deras, kawanku mati dikamar gelapnya. Dengan fotomu yang masih ditangannya”.
“Aku tak akan bertanya, kemana perginya Si tuan tanah, kau yang berada disini adalah sejelas-jelasnya jawaban”. Tujuanku telah sampai, setelah ini, jika kehidupan setelah mati itu memang ada, semoga kawanku bisa hidup tenang disana, seperti kau disini. sebelum hari ini".


Hugo   : “Kemana perginya tatapan angkuhmu tadi?Ah air mata itu, aku ingin sekali mempercayainya. Bersyukurlah kau, aku tak membakar kau hidup-hidup disini. Walau aku tau, beberapa iblis nyatanya tak kebal api.Tenanglah , setelah aku pergi, akan ada yang akan melepaskan ikatanmu”.


Hugo   : “Ini bayaranmu, puisi tadi gratis. Dan berharaplah kau tak akan berjumpa denganku lagi”.

Selasa, 19 September 2017

Petrichor...

Aku suka hujan
Yang berhasil menahanmu,untuk lebih lama denganku. Orang yang baru kau kenal, beberapa tahun lalu.

Aku suka hujan
Yang memaksa kita berteduh didepan ruko waktu zaman kuliah dulu

Aku suka hujan
Yang membuat sore, kau, gitar dan secangkir kopi menjadi sesuatu yang begitu khidmat saat itu

Aku suka hujan
Yang membuatmu menjadi begitu manja, memintaku membuatkanmu puisi atau lagu. Saat kita berjauhan

Aku suka hujan
Yang begitu hebat menciptakan rindu, melembutkan kepala dan hati kita yang kadang keras, untuk kemudian menyudahi pertengkaran.

Aku suka hujan
Yang membuatmu memeluk erat berkas lamaranku, saat memaksa untuk ikut menemaniku, "takut nanti basah". Katamu.

Aku suka hujan
Yang membuatku berlari menghampirimu didepan pintu rumahmu, dengan handuk dan baju kering dikedua tanganmu

Aku suka hujan
Yang membuat kita harus menepi dikedai kopi dengan banyak bapak-bapak disitu, rencana batal, popcorn berganti kacang kulit, layar bioskop berganti tv 14 inch, kau ingat dulu? Entah memang kebetulan, atau memang ingin mengejekku, tv itu menayangkan sinetron, tentang dua anak manusia yang sedang kasmaran, sitampan yang kaya raya dan sicantik, mereka juga kehujanan, tapi tak basah, mereka didalam mobil. Setelah itu kita beradu pandang, dan kau berkelakar, "Ah, dia bukan tipeku", sambil mengusap rambutku yang basah saat itu. Kau begitu ahli menghiburku.

Aku suka hujan
Yang membuatmu terpaksa memakai baju dan celana olahragaku, lalu kemudian menirukan gayaku, aku dan ibuku tertawa melihat polahmu.

Aku suka hujan
Yang membuatmu membuatkan secangkir kopi tanpa kuminta, lalu glendotan disebelahku yang sedang asik dengan tv. Seringnya kopimu terlalu manis, "aku juga mau". Katamu. Kau tak suka menonton bola, kau hanya ingin disampingku saat itu.

Aku suka hujan
Yang membuat punggung putihmu menjadi semakin indah, untuk kemudian kuciumi, sampai kemudian kau terbangun lalu menggapai tanganku, untuk memelukmu, "dingin" katamu. Lalu aku tak berangkat kerja hari itu.

Aku suka hujan
Yang membuatmu berlarian kesana kemari didalam rumah, membawa ember, dan sesekali memberikan komando kepadaku bak Jendral, untuk kemana lagi harus kuletakan gayung dan panci yang ada ditanganku. Kau tak meminta rumah baru, Sekali lagi kau berkelakar, "olahraga itu perlu" lalu kemudian menantangku memperbaiki genteng yang bocor kapanpun aku mau.

Aku suka hujan
Walau kelak itu yang akan membuatmu memarahiku, karena mengajak anakmu bermain dibawahnya, berlarian dipekarangan rumah. "Nanti sakit", katamu.

Maaf sayang, saat itu, kami tidak akan mendengarkanmu, kami justru akan menarikmu, bergabung dengan kami, karena aku tau, kami tau. Kaupun menyukai itu.

Aku suka hujan
Dengan kau yang ada disampingku






Sabtu, 16 September 2017

Mama Rock'n'Roll !!!

Ibuku, manusia paling keren di dunia
Atau, Ibu terhebat dimuka bumi.
Kalian tidak setuju? Silahkan. Toh dia ibuku
Ada banyak hal yang bisa kujabarkan tentang ibuku untuk menggambarkan ke "kerenannya".
Akan sangat panjang jika kujabarkan disini, jadi kutulis sebagian saja. Dari sebagian cerita itu pulalah aku tau, meskipun sekolahnya tidak kelewat tinggi, tapi cara beliau melihat suatu masalah itu hebat, jenius, sangat amat bijaksana, kalau tak mau disebut kelewat santai.

Jika setelah kuceritakan kalian masih menganggap itu hal biasa. Ya silahkan, toh penilaianku atas ibu tak berubah.

Oke kita mulai,

Dulu, aku pernah pacaran, pacar pertama, sayangnya kita beda agama. Saat ibu tau, aku khawatir ia akan menyuruhku putus, tapi ternyata tidak, ia hanya mengatakan “ Jangan kelewat serius ya sayang, jadiin penyemangat belajar”. Aku terharu sekaligus senang saat itu, bahkan saat pacarku itu datang kerumah ibu menyambutnya dengan ramah.

Atau pernah lagi suatu kali, diawal masa kuliah. Mot, abangku berlari menghampiri ibu, ternyata saat itu ia memegang hpku dan disitu ada foto pipiku dicium perempuan. (Bukan yang pertama tadi, itu mah udah putus). Setelah melihat itu ibu berteriak memanggilku, sekali lagi, kufikir ibu akan marah. Tapi reaksinya ternyata jauh dari dugaanku, Iya cuma bertanya itu siapa, kujawab pacarku, lalu ibu menciumku dan bilang “Mantaaap, anak ibu udah besar sekarang”, lalu menyuruhku mengajak pacarku kerumah.

Setelah itu mereka menjadi seperti ibu dan anak, beberapa kali malah ibuku nyuapin dia makan, dan marahin aku kalo kami abis berantem dan dia cerita ke ibu.

Tentang perempuan, dimata ibuku, aku selalu salah. Haha

Dulu, sebelum mereka akrab pacarku pernah bertanya ke aku, “Apa gak apa-apa aku main kesini hampir tiap hari? Dikamar pula? mendengar itu aku langsung bertanya ke ibu, yang kebetulan lagi nyapu disamping kamar, ibu hanya menjawab santai “Haha, banyak hal didunia ini yang mesti aku fikirin, soal kalian yang tiap hari pacaran, malah gak kepikiran sama aku”.

Atau pernah suatu kali pacarku bangunin aku tidur, karena janji mau jogging, bangun-bangun aku kaget, karena celananya kelewat pendek, trus aku bilang, “Kenapa gak telanjang sekalian?" Kebetulan ibu masuk saat itu, trus aku tambahin lagi “Bu, liat deh celana ini anak”. Aku bilang begitu, maksudnya agar ibu ngasih tau dia kalo celananya emang kelewat pendek. Eh, tau nya ibu malah bilang “Lah apa salahnya? “Biasa tu anak gadis, ibu dulu malah lebih lagi, lagian kan emang mau jogging bukan kepengajian”. Pacarku tertawa girang saat itu.

Tentang pacaran dikamar? Mungkin beberapa dari kalian akan menganggap itu aneh, atau gak ada aturan, kelewat bebas atau semacamnya, karena beberapa kawanku pun berfikir begitu. Tentang ini, aku pernah mencuri dengar, saat kawan ibuku menanyakan ke ibu kenapa ngebolehin perempuan masuk ke kamar anak lelakinya, jawaban ibu saat itu sederhana “Emang takut apaan? Mesum? Hamilin anak orang? Mereka udah gede, kalopun dilarang disini, kalo mereka mau mereka bisa ngelakuin itu ditempat lain, lagian mereka pasti tau batasan, pun aku tau anak aku gak punya banyak duit, aku juga gak bisa ngasi jajan banyak, kalo punya pasti lebih milih pacaran diluar, dicaffe, dibioskop, kayak orang-orang. Kalo mereka melenceng trus hamil, ya nikahin. Didaerah sini mah gak aneh kan? Kayak kejadian langka aja.” 

Mendengar jawaban itu, si ibu biang rumpi diam. Entah karna setuju dengan ibuku, entah merasa tersindir dengan keadaan anaknya. Yang jelas dalam hati aku bertepuk tangan mendengar jawaban ibuku. 

Tentang itu, benar. Kami tau batasan.

Yang jelas, pintu kamar wajib kebuka, Tentang batasan tadi kuralat, kadang-kadang lupa. Hahaa

Pernah suatu kali saat kufikir rumah kosong, ya sudah, seperti orang pacaran pada umumnya. Lagi asik-asiknya mesra-mesraan, ternyata ibu ada didepan pintu. Kami shock dong, pasti bakal dimarahin nih, eee taunya ibu bilang “ Haa?! Ngapain kalian? Eh, Biasa tu anak muda, yalah ibu mau pamit arisan tadi. Hahaa” trus pergi.

Setelahnya pacarku memaksa untuk pulang saat itu juga, malu kan. Tapi kularang, tunggu ibu dulu. Tenanglah. Dan benar dugaanku, saat ibu pulang ibu bertingkah seolah kejadian tadi tak pernah ada, entah memang mendadak amnesia, atau hanya mau membantu kami, terutama pacarku agar tidak malu atau canggung. Terimakasih ibu dan maaf.

Tentang pasangan untukku atau anak-anaknya yang lain ibu punya ke khas-an tersendiri.
Ibu tidak pernah mengiyakan atau menidakan saat aku bertanya pendapatnya tentang pacarku.
Dia selalu menjawab diplomatis “Mau yang Eja bawa gedebong pisangpun kerumah, asal Eja bahagia, ibu juga bahagia”.

Jawaban itu kadang membuatku senang kadang juga bingung, karena aku juga mau tau penilaian ibuku terhadap pacarku, karena mungkin itu yang kelak jadi menantunya. Tapi ibu paling hanya menambahkan “Baik atau nggaknya orang, butuh waktu untuk tau itu, pun Eja yang pacaran, pasti bisa nilai sendiri”. Beliau selalu bilang itu, sambil selalu mengusap rambutku saat mengatakannya.

Ibuku mulutnya ceplas ceplos, apalagi untuk sesuatu yang diyakininya, itu mungkin yang membuat ia memiliki banyak teman, jadi ketua geng, dan jadi tokoh berpengaruh di sekitaran rumah, entah karena mereka segan atau justru takut. Dulu pernah, ada kejadian, jadi disekitaran rumahku seperti kampung pinggiran pada umumnya, ada pemandian air panas umum. Nah, entah karena apa, tiba-tiba ada larangan untuk mandi disitu, kabarnya larangan datang dari orang yang “merasa” dirinya dituakan disini, yang kebetulan rumahnya dekat dengan pemandian itu. Ibu tak terima, lalu mengajak ayahku untuk menungguinya mandi disitu. Sepulang dari situ, iya tertawa sambil menceritakan, pak tua tadi sempat keluar buat ngecek siapa yang mandi disitu, begitu melihat ibu dan ayahku, ia kembali kerumahnya lalu menutup pintu. Semenjak hari itu tak ada lagi larangan itu. Romantis ya? Tentang ibu dan ayahku nanti kuceritakan lagi.

Sekarang aku mau bercerita tentang bagaimana ibu ke kawan-kawanku.
Yap! Mereka akrab. Ibuku seperti menganggap mereka seperti anak sendiri, kawanku pun begitu. Mungkin karena mereka selalu siap jadi kawan curhat ibuku tentang betapa pemalasnya aku, berantakannya kamarku, atau tentang berapa banyak tumpukan pakaian kotorku. Hampir setiap hari ada saja kawanku yang datang kerumah.

Karena itulah kamarku lebih tepat disebut rumah singgah, 24 jam tak pernah terkunci, karena selalu saja ada yang datang, entah untuk tidur, ngopi,atau sekedar singgah sebentar.

Ibu akan kecewa jika tau kawanku yang datang, tidak sempat makan dirumahku. Ia pulalah yang mengajarkan aku untuk setidaknya membuatkan teh dipagi hari saat kawanku tidur dikamarku. Katanya kasian, pagi-pagi perut kosong gak diisi masak mau langsung pergi.

Ada sebuah cerita tentang ibu dan kawanku yang masih kuingat sampai hari ini.
Waktu itu kami mau mendaki gunung, karena ibu melarangku. Teman-temanku sepakat untuk meminta ijin agar aku dibolehin pergi. Lalu terjadilah dialog seperti ini.

Kawanku: "Bu, boleh ya Eja pergi dengan kami? Diatas gunung rame kok, ada ratusan."
Ibu : "Biarlah ribuan orang diatas gunung, anakku Cuma satu, nanti dia ilang".
Kawanku diam
Lalu ibu menambahkan lagi
"Ketimbang dia manjat gunung mending dia manjat anak gadis orang, gak naruhin nyawa".
Kawanku ngakak.

Setelah itu ibuku tetap tak mengizinkan ku.
Dan aku tetap berangkat, dengan alasan ada kerjaan diluar kota tiga hari.
Saat pulang, ibu tau dari tumpukan baju kotorku yang bercampur lumpur, ibu mencubitku puluhan kali, lalu menciumku dan mengucap syukur aku gak hilang.

Setelah itu tiap aku kegunung, aku selalu minta izin ke ibu. Dan ibu, seperti biasa tidak mengiyakan tidak pula menidakkan, yang jelas ia membantuku untuk menyiapkan pakaianku. Aku tau hatinya berat melepaskanku, tapi aku juga tau hatinya juga berat untuk melarangku. Karena tau, aku senang dengan itu, aku bahagia saat melakukan itu. Dan aku tau, itu yang paling penting baginya.

Bersambung….

(Ada banyak sekali yang ingin kuceritakan tentang ibu)

Kamis, 14 September 2017

Bapak

Seperti biasa,
Bantingan pintu menjadi tanda bagi Trisno
Untuk keluar dari lemari persembunyiannya
Berlari mendatangi ibunya.

Ibu yang sedang mengusap air mata
Ibu yang menutup wajah dengan tangan lebamnya
Dengan pipi yang hari ini merona lebih merah
Ibu yang kusut
Ibu dengan rambut acak-acakan
Ibu dengan lengan baju yang robek.

“Ibu bikin salah lagi?”
Tanyanya polos.
Ibu hanya mengangguk pelan
Dalam isak yang tertahan.

“Ibu mecahin piring lagi?”
Ibu tak menjawab
Ia hanya mengusap peluh diwajah Trisno
Dengan isak yang justru menjadi semakin
Trisno Diam
Tenggelam dalam pelukan dan air mata ibunya

Ia masih terlalu muda untuk tau
“Bapak tak marah atas apapun”
“Bapak hanya malu atas dirinya”
“Atau bapak memang bukan manusia”
“Bapak binatang”
“Binatang jalang”.


Wasiat

Jika saya mati nanti

Jangan kalian tangisi
Dulu juga saya menangis sendiri

Kunjungi saja itu saya punya ibu sesekali
Tanyakan kabar.
Lalu katakan,
Kalian bertemu saya didalam mimpi
Tersenyum dalam naungan cahaya
Dengan pakaian putih bersih
Katakan juga,
Saya senang disini
Dan ibu jangan menangis lagi.

Cerpen

Adam Hawa

Hey, kami bukan pembohong.
Kami hanya pelupa. Maaf..
                        Ttd. Laki-laki

**

Undangan

Ribuan hari.
Lantas kau hilang.
Untuk semua juang yang terbuang.
Selamat untukmu.
Maaf, aku tidak bisa datang..

**

Jangan sombong

Aku masih ingat dengan sangat
lenguh dan peluhmu malam itu.
Pun pada ranum buah dadamu.
Yang hari ini sengaja kau busungkan,
Mengiringi tatap angkuh lelakimu.
Maaf, jika senyumku terlalu lebar tadi.

**

Tau diri

Kau tak perlu membela diri.
Biar cintaku yang membelamu
Toh dia memang lebih menarik.


**

Tentang perempuan

Jangan datang malam ini.
Aku membencimu.
Aku ingin tidur.
Agar besok,
Bisa mencintaimu.
Lagi.


**

Sepatu coklat

- Ini hadiah buat kamu. Kamu suka kan?
- Aku lebih suka yang warna biru.

Sepatu coklat
Beberapa orang menabung untuk itu.
Sisanya lebih suka warna biru.


**

Tentang matamu

Pada tajamnya aku patuh
Pada binarnya aku teduh
Pada sendunya aku tak kan jauh-jauh


**

27 Ramadhan

Kursi itu masih disitu, kosong
Mereka makan dengan lahapnya,
Sesekali tertawa
Sesekali mencuri pandang ke kursi itu
“Bapak masih ada disitu, tahun lalu”


**

Kasmaran

Sebelum ku tutup malamku
Biar ku titip dulu rindu
Pada tatap matamu sore tadi
Tetaplah begitu.


**

Pesan terakhir

Tenanglah,
Setelah 8 minggu, kau akan melupakan aku.
Itu kata-kata terakhir yang di ingatnya.
8 tahun lalu.


**

Untuk Perempuan

Oh sayang, jangan pernah terfikir olehmu
Untuk menyuruhku memilih
Antara kau atau sahabatku
Kecuali kau semacam penjudi tolol yang sengaja bertaruh untuk kalah.


**

Pesan Bapak

Anakku, ingat ini selalu,
“Cinta selalu benar, bahkan dikeadaan paling salah sekalipun”
Simpan itu, agar kelak kau tak terlalu kecewa.


**

Tentang memaafkan

Sudah. Jangan menangis lagi.
Tidur dengan yang lain di saat aku jauh
Tak lantas kau kuanggap pelacur
Percayalah,

Kau tak sebaik itu.





Jumat, 01 September 2017

It's not a love story ( I )

Laki-laki itu masih disitu
Gelisah
Seperti orang yang menunggu sesuatu
Sesekali menghisap rokoknya
Yang entah batang yang keberapa
Sesekali, meneguk isi dari kaleng bir nya.
Sesuatu yang telah lama tak ia sentuh.
Cukup lama ia berdiri
Berkacak pinggang
Bukan lagak pongah
Lebih ke menahan badan yang mulai sempoyongan.
Hingga akhirnya memilih duduk.
Menatap langit,dengan kedua tangan menjadi penahan.
Bergumam kecil,
Berbicara dengan tuhan mungkin
Ia terlalu yakin bahwa tuhan mau mendengar cerita orang mabuk.

Yang jelas, setelah cukup lama memaku diri disitu
Ia tersenyum
Ia tak tau kenapa ia disitu
Bahkan ia tak tau lagi apa yang sedang dirasakannya.
Atau apa yang membuatnya tersenyum.
Mungkin kebodohonnya.

Tadi pagi ia terbangun dengan tamparan dari istrinya
Menyusul jambakan dan segala umpatan dari bibir tipis wanita itu.
Belum hilang rasa terkejutnya, pertanyaan bertubi-tubi menyerangnya.
Tentang wanita lain.
Tentang kesetiaan.
Dia ingin menjawab, atau balik bertanya
tapi pagi tak seperti ini harusnya.
Bingung. Lalu ia beranjak pergi.
Duduk diam ia disitu, menyeruput kopi langganannya.
Jauh dari rumah
Kembali ia mengingat dengan siapa ia pergi

Kemarin..
Dua hari lalu..
Seminggu yang lalu..
Sebulan..
Setahun..

Lalu ia semakin bingung.
Fikirannya, terbang jauh dari tempat itu.
Sebelum memesan satu cangkir kopi lagi. Tanpa gula

***

“Hari ini begitu hebat, Dalam hitungan jam, hidupku mampu di jungkirbalik kan, seperti roller coaster”, gumamnya dalam hati.

Dalam banyak kesempatan
Pertengkaran kerap tak menyisakan hal baik setelahnya.
Penyesalan, kebencian, atau justru melahirkan pertengkaran baru.
Lalu untuk apa?

Ketahuilah, orang bijak selalu menemukan hal baik dalam keadaan terburuknya sekalipun.
Dan dipenghujung malam, biasanya tiap-tiap anak manusia menjadi lebih bijak.
Entah dipaksa untuk ikhlas, pasrah akan keadaan,
Atau cara mereka untuk menghibur diri.
Dan malam ini, ia telah menjadi lebih bijak.
Pertengkaran tadi, menjadikan ia tau.
Apa yang semula samar menjadi jelas
Apa yang semula abu-abu malah menjadi magenta
Mereka telah hilang jauh sebelum ini.
Mereka telah lupa cara mencintai.
Mereka tersesat, dan tak pernah mencoba kembali.
Kau tak butuh orang lain,
Untuk membunuh apa yang sudah mati.
Karena, beberapa orang lebih memilih membiarkan penyakitnya
Sebagian lagi, malah tak mengakui itu.

***

Hampir siang, ia kembali ke rumah.
Kosong.
Entah apa yang menuntun langkahnya,
Pelan. Ia beranjak ke ruang tamu.
Menuju sebuah lemari tua,
Mengambil sebuah kotak kecil dengan ukiran hati pada penutupnya.
Membuka,dan membaca lagi satu persatu kertas yang ada didalamnya.
Surat cintanya dulu,
Semasa pacaran dengan perempuan yang memakinya tadi.
Perhatiannya beralih ke sebuah foto, yang menguning pada sudut-sudutnya.
Dan sebuah foto mereka, yang diambil tujuh tahun lalu, saat mereka pergi kepasar malam, kencan pertama mereka. Sekaligus merayakan ulang tahun gadis itu. Gadisnya.

Ingatannya kembali kemasa itu, masa-masa setelah itu..
Sampai mereka menikah..
Setahun setelah itu..
Dua tahun..
Lima tahun..
Sampai detik itu..

Ia tersenyum, Semua kenangan adalah hal yang manis, indah.

Ia sepertinya lupa kejadian hari ini..
Kemarin..
Setahun kebelakang..
Yang bahkan istrinya menyebut itu neraka.

“Aku akan berubah”,
“Kami akan berubah”
Ia sepertinya yakin dengan itu.

Lalu ia mulai menyalahkan diri.
“Kenapa aku begini”
“Harusnya aku begitu”
“kenapa aku menyakitinya”

Kembali ia tersenyum
“Aku akan menjadi aku yang dulu”
“Aku yang dulu ia cintai”
“Aku yang memanjakannya”
“Aku yang tau cara memperlakukan gadis ku”
“Aku akan berubah, untuknya”

Ia ingin segera pergi dari situ,
Ketempat yang telah lama tak ia datangi. Toko bunga.
“Dia pasti akan senang”, yakinnya dalam hati.

Tapi, Langkah nya tertahan
Oleh suara lenguh nafas, dan bunyi ranjang yang berderit.
Ragu, ia melangkah pelan.
Kekamarnya,
Kekamar mereka. Suara itu jelas dari sana.
Dan benar,
Saat ia membuka pintu, ia melihat gadisnya dikangkangi oleh pria lain.
Bahkan butuh beberapa detik bagi mereka untuk sadar, ia ada disitu.
Nafasnya tertahan.

***

Ia tak menemukan istilah untuk menyebut apa yang dirasakannya, atau harus bereaksi seperti apa saat itu.
Istrinya, mungkin merasakan hal yang sama.
Dengan selimut yang sudah menutupi tubuh berpeluhnya.
Alih-alih mengambil pisau lalu menghujam jantung keduanya, atau memukuli hingga mati pria telanjang dihadapannya. Ia hanya terdiam.
Detik selanjutnya, yang ia ingat hanya satu
Satu pertanyaan, yang meluncur keluar dari bibir menggigilnya.

“Kau Mencintainya?”

Istrinya tak menjawab, hanya menatapnya dalam, lalu beralih menatap pria disampingnya.
Ia tak pernah menunggu jawaban itu
Ia hanya ingin menanyakan itu
Lalu beranjak pergi.
Dan malam ini,
Dengan rokok dan bir kalengan yang sejak tadi menjadi teman terbaiknya.
Iya telah menjadi lebih bijak,
Tak ada lagi pertanyaan dalam dirinya,

“Kenapa Jadi begini?’
“Harusnya aku”
“Padahal aku sudah”
“Harusnya aku mendengarkan orang-orang”
Tak ada pertanyaan..
Tak ada penyesalan..
Tak ada lagi.

Yang ia tahu, dan mungkin menjadi sebab ia tersenyum

Perempuan yang tadi memakinya,
Yang menuduhnya telah bermesraan dengan wanita lain,
Yang mengkhotbahinya tentang kesetiaan,
Dan sejak lama menggelarinya sebagai pria brengsek,
Yang membuatnya berfikir bahwa semua masalah ini adalah kesalahannya
Telah tidur dengan lelaki lain.
Dirumahnya..
Dikamarnya..
Diranjangnya..

Tentu sulit untuk mempercayai sesuatu, yang tak ingin kau percayai.

Perempuan itu, terlepas dari segala kekurangannya, adalah siapa dan apa yang iya cintai dan iya yakini mencintainya..
Dan pernikahan ini, dengan segala ke berantakannya, tak pernah terfikir oleh nya akan menjadi seluluh lantak ini.

Bir nya telah hampir habis, menyusul dua kaleng yang sudah lebih dulu.
Rokoknya pun,hanya tersisa sedikit,
Menanti hisapan terakhir.
Kemudian ia berdiri.
Kali ini lebih mantap. Tanpa perlu mengacak pinggang.
Kembali Ia menatap langit,
Menghembuskan semua asapnya.
Teringat kembali sebuah nasihat yang pernah didengarnya,

“Cinta itu membahagiakan. jika bagimu tidak, mungkin kau salah orang”.

Ia tertunduk.

 “Akulah si brengsek, si brengsek yang salah orang”.

Lalu membuang puntung rokoknya, menginjak hingga rata dengan tanah.
Dan bergegas pergi dari tempat itu.
Tempat yang tujuh tahun lalu dijadikan pasar malam.
“Tempat terkutuk!”.
Umpatnya.