Kau masih pagi, saat aku sudah ditengah hari...
Mustahil, menyamakan waktu,
Alih-alih menghujat matahari.
Aku akan memperlambat langkah,
Dengan harap, kau mau sedikit berlari.
Aku akan menunggu,
Semoga, tunggu ku yang kau tuju.
Persetan persimpangan!.
Dengan begitu, menjelang matahari bersiap pulang, kita telah datang,
Bersama menanti petang...
Senja dimanapun sama. Tenang...
Tertawalah, kita menang.
Sehabis maghrib,
Tiang gantung telah menungguku...
Aku tahu, Aku telah bersiap.
Senyumku besertanya.
Sabtu, 13 September 2014
Selasa, 09 September 2014
Kesedihan itu hebat. Aku lebih..
Kesedihan itu hebat…
Kenapa kusebut begitu?
Iya, Saat kau ditengah moment yang membahagiakan. Ada detik dimana kau akan termenung sesaat. Membayangkan tentang. Ada yang kurang disini, entah menyangkut orang, atau apapun itu. Dan jikapun semua telah lengkap. Muncul lagi dialog dalam hati. Semacam…, Mungkinkah, detik saat ini bisa diperlambat, sehingga moment ini bisa bertahan lebih lama?
Atau,
Mungkinkah, hal-hal atau orang-orang yang berada dimoment ini tak kan berubah, tetap sama, tak ada yang hilang? Lalu bagaimana jika berubah, tidak sama, atau hilang?.
Banyak pertanyaan, kebanyakan tentang kekhawatiran. Perasaan yang aneh, sulit dijelaskan. Tapi pasti pernah kau rasakan. Ah! Untung saja segera disadarkan. Sekarang sedang bahagia, Maka berbahagialah!
Begitulah. Pendeknya, saat kau bahagia, kau bisa tiba-tiba didatangi kesedihan. Itu tentang kekhawatiran atau harapan atau hal lainnya. Sejenak…
Namun, hal Seperti itu tidak berlaku saat kau bersedih.
Saat kau sedih, difikiran mu hanya ada itu. Resah, sendu,tidak tenang, menumpuk, menyebalkan. Sekuat apapun kau mencoba untuk membayangkan hal-hal membahagiakan, untuk menghilangkan perasaan itu. Kau hanya akan kalah. Lalu terperosok makin dalam. Dan detik berjalan lebih lambat. Betapa hebatnya si sedih itu.
Dari situ, aku tahu. Menurutku, Orang yang paling berbahagia adalah yang bisa memenangkan itu. Orang-orang yang kuanggap keren. Bagaimana tidak, orang-orang itu, manusia, dan hidup. Sama seperti manusia lainnya. Dan mustahil tanpa masalah, tanpa perasaan kekurangan, tapi cara mereka menjalani hidup itu yang hebat. Hidup bahagia, jikapun ada sesuatu yang membuatnya bersedih, langsung dikalahkannya dengan caranya. Mungkin dengan memikirkan hal-hal yang membahagiakannya, tentang segala yang dimilikinya bukan apa yang tidak, orang-orang baik disekelilingnya, kesempatannya untuk dapat hidup dan bernafas dibumi lalu bersenang-senang dengan segala sesuatu yang membuatnya merasa cukup.
Sepertinya itu hanya keahlian mereka mengubah sudut pandang dari segala macam hal-hal yang tidak menyenangkan mereka. Dan itu tidak mudah.
Aku fikir itu tentang syukur. Itu keikhlasan. Dan itulah hakikat hidup yang sebenarnya…, itu menurutku
Iya. Ikhlas dan tulus dalam menjalani hidup
Atas apa yang diperoleh, dialami, ditimpakan kepadamu
Atas apa yang hilang, yang diambil darimu
Pastikan untuk selalu bersyukur.
Mudahnya. Segala hal yang kau rasakan itu. Adalah, tanda kau masih hidup.
Aku belajar untuk itu. Untuk menjadi manusia yang seperti itu.
Kebanyakan dari ibuku. Ia ahli dalam hal itu.
Dan ya, saat mengetik ini, aku sedang bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)