Jumat, 09 Februari 2024

My heart just broke

Kami menangis hari ini
Tangis ter-paling sedan.
Hancur.
Mungkin karena kami tak terbiasa dengan ini.

Pertengkaran pertama.
Sayangnya jadi rasa yang terakhir.
Semua impian berbalut do'a mungkin nyatanya tak pernah menembus langit.
Mungkin hanya menguap lalu terbawa angin entah kemana.

Satu yang pasti.
Kita tak akan pernah sama lagi.
Setidaknya untuk saya.

Minggu, 29 Mei 2022

Laraku

Kerap kali kau minta aku menulis tentangmu.
Susah, ku bilang.
Aku menulis hanya disaat patah.
Sedang kau penyembuh.
Tak sesuai dengan namamu.
Lara.
Nyatanya tak pernah sekalipun kau jadi lara bagiku.

Sering kukatakan dunia ini terlampau berisik, senyummu itu sunyi, aku tenang di situ.
Tawamu lain lagi,
Tawamu itu karnaval penghujung tahun.
Meriah.
Aku bahagia di situ.

Aku ingin bercerita sedikit tentang hari ini, tadi pagi aku membantu temanku yang baru sebulan lalu menikah pindahan rumah.
Rumahnya sederhana kalau tak ingin disebut kecil, berwarna perpaduan putih, coklat terang dan coklat gelap, masih tersisa sedikit tanah di halamannya, nanti disini akan kami bikin kolam kecil katanya. 

Lalu cerita berlanjut tentang bagaimana mereka bertemu, sampai akhirnya menikah lalu memberanikan diri untuk mencicil sebuah rumah untuk keluarga kecil mereka.
Fikiranku tertuju padamu saat itu.
Membayangkan kelak kita akan seperti ini.

Menikah ternyata tak semenyeramkan itu fikirku.
Perasaanku bahagia sekali tadi.
Sampai ketika urusanku selesai lalu pulang.
Rasa itu masih ku bawa bersamaku.

Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk mengenali seseorang, bahkan kabarnya itupun tak cukup.
Dulu menikah jadi sesuatu yang begitu menyeramkan untukku. Bagaimana tidak, aku harus membagi separuh kehidupanku kepada orang lain. Segala hal, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang baik sampai yang buruk, dari yang indah sampai yang paling hancur, dari yang manis sampai yang pahit, dari yang kasat sampai yang tidak. Semua hal. Dan aku terlalu tamak untuk itu.

Sampai aku ingat lagi hal-hal yang kita lalui setahun ini.
Kita tak pernah bertengkar sekalipun.
Untuk orang lain mungkin biasa.
Untukku yang tempramen dan egois tentunya ini prestasi.
Hubungan kita bukan tanpa masalah.
Tapi kau selalu yakin dan memberiku keyakinan bahwa kita bisa melewati semua ini.
masih melekat hebat dalam ingatanku saat kau katakan: "Sekalipun itu artinya tersesat, selagi bersamaku kau akan ikut".
Kata-kata itu akan selalu kuingat.
Bukan sebagai pembenaran untuk mengajakmu tersesat tapi lebih kepada kesadaran bahwasanya ada orang di sebelahku yang mempercayakan jalan hidupnya kepadaku. Aku harus hati-hati.
Aku harus lebih baik lagi.
Aku harus menjaga kami.

Lara,
Kamu jelas bukan jadi pertama yang pernah aku cintai.
Bahkan bisa saja bukan jadi yang terakhir meskipun aku sangat menginginkan itu.

Dan jika memang kehidupan kedua setelah kematian itu ada, jika itu tanpamu aku tak ingin dihidupkan lagi, cukuplah hidupku sekali ini saja.

Setahun sudah, ayo terus. 
Jangan takut.
Kita kuat.





Rabu, 20 Januari 2021

...

Ingin sekali aku kembali ke masa kecilku.
Tak ada yang kupikirkan.
Tak banyak hal yang kutakutkan.
Tidurku nyenyak.
Ibu masih muda waktu itu.

Kamis, 03 Desember 2020

"D"

Saat menulis ini aku bingung sekali.

Tentang perasaan ini.

Siapa yang mau ku salahkan?

atau

Apa yang bisa disalahkan?

atau

Kenapa bisa begini?

atau

Mau ku kemanakan luka ini?


Lama ku renungkan.

Pada malam-malam yang belakangan serasa lebih panjang dan seringnya mencekik.

Sampai akhirnya aku tau,

Mungkin memang tak ada yang harus disalahkan.

Ya sudah ikhlaskan.

Mudah sekali itu ku ucapkan, semoga bisa ku upayakan.

Toh ini bukan kali pertama dalam hidup aku tak diberi pilihan.

Atau setidaknya diberi kesempatan untuk didengarkan.


Ya sudah ikhlaskan.


Pada akhirnya, segala mimpi dan janji menguap, bertebangan.

Yang sampai ke langit akan tercampur dalam hujan jatuh kebumi lalu masuk ke selokan.

Yang buruk-buruk lupakan.

Yang baik semoga jadi kenangan.

Memang begitukan kehidupan berjalan.


Setidaknya kita jadi tau


Aku tidak sehebat seperti katamu.

Dan

Kau juga tak sesabar itu.


Paling tidak ada yang berbahagia setelah ini, semoga itu kamu.


Ya sudah teruskan hidup.

Hiduplah sebaik-baiknya hidup, tersenyumlah.

Menangis biar aku saja.

Sabtu, 14 November 2020

00.40

Tangisan kesekian,
Masih sama.
Tanpa air mata.
Sesak.
Sesal.
Isi perutku seperti meronta ingin memuntahkan semuanya.
Jantungku membengkak ingin meledak.
Hatiku beku, membiru.

Aku ingin memaafkan diriku dulu.
Lalu kau.
Kalian.


Kamis, 20 Agustus 2020

Yeye

Aku ingat sekali dulu, hari setelah papa membelikanku sepeda, si kecil Fika belum lahir saat itu.

Kau selalu ingin ikut aku, ingin dibonceng katamu sambil merengek.

Ya sudah, jadilah itu kegiatan wajibku.

Setiap sore aku akan bersepeda mengitari halaman rumah dengan kau dibelakangku. Kau senang sekali waktu itu, Akupun.

Jangan jauh-jauh teriak mama dari dalam rumah.

Lalu, ada hari dimana kau dengan sok beraninya bersepeda sendiri, tak mau menunggu abangmu.

Lalu kau terjatuh, lututmu luka. Kau menangis lama, sampai maghrib. Aku marah saat itu, pada keberanianmu.

Pada ketiadaanku.

Lalu sampailah hari ini, puluhan tahun setelah hari itu. Aku menikahkanmu.

Adikku yang dulu selalu merengek untuk kubonceng, tak perlu merengek lagi.

Setelah hari ini.

Kau akan terus bersepeda tapi bukan aku lagi yang memboncengimu.

Ada dia, laki-laki yang kufikir paling beruntung di muka bumi saat mendapat kamu.

Ada dia, laki-laki yang ku percaya akan selalu memboncengmu menyusuri jalan kehidupan yang ku yakin akan panjang.

Ada dia, laki-laki yang kupercaya akan menjagamu agar tidak terjatuh lagi.

Dan jika ia lelah mengayuh, berhentilah sejenak, berikan ia minum.

Namun jika kelak diperjalanan kau terjatuh, menangislah sebentar, jangan lama-lama. 

Karena percayalah, kau tidak sendiri saat itu.

Disini, aku. Abangmu. 

Akan selalu melihatmu dari jauh, menghampirimu, Mengobati lukamu. Karena ada darahku di dagingmu.

Tia, Adikku.

Berbahagialah.

Trifad.

Tolong jaga dia, aku menyayanginya.




Senin, 06 Juli 2020

1/3 Malam

Manusia memang tak ada puasnya.
Dulu waktu saya gelisah
Saya cuma ingin tenang
Lalu saya diberi tenang
Tenang sekali.

Lalu hari ini saya ingin senang.
Tenang tak cukup ternyata.
Dulu saya fikir senang dan tenang itu sama.
Ternyata berbeda.

Manusia tak ada puasnya.
Atau cuma saya saja.