Aku ingat sekali dulu, hari setelah papa membelikanku sepeda, si kecil Fika belum lahir saat itu.
Kau selalu ingin ikut aku, ingin dibonceng katamu sambil merengek.
Ya sudah, jadilah itu kegiatan wajibku.
Setiap sore aku akan bersepeda mengitari halaman rumah dengan kau dibelakangku. Kau senang sekali waktu itu, Akupun.
Jangan jauh-jauh teriak mama dari dalam rumah.
Lalu, ada hari dimana kau dengan sok beraninya bersepeda sendiri, tak mau menunggu abangmu.
Lalu kau terjatuh, lututmu luka. Kau menangis lama, sampai maghrib. Aku marah saat itu, pada keberanianmu.
Pada ketiadaanku.
Lalu sampailah hari ini, puluhan tahun setelah hari itu. Aku menikahkanmu.
Adikku yang dulu selalu merengek untuk kubonceng, tak perlu merengek lagi.
Setelah hari ini.
Kau akan terus bersepeda tapi bukan aku lagi yang memboncengimu.
Ada dia, laki-laki yang kufikir paling beruntung di muka bumi saat mendapat kamu.
Ada dia, laki-laki yang ku percaya akan selalu memboncengmu menyusuri jalan kehidupan yang ku yakin akan panjang.
Ada dia, laki-laki yang kupercaya akan menjagamu agar tidak terjatuh lagi.
Dan jika ia lelah mengayuh, berhentilah sejenak, berikan ia minum.
Namun jika kelak diperjalanan kau terjatuh, menangislah sebentar, jangan lama-lama.
Karena percayalah, kau tidak sendiri saat itu.
Disini, aku. Abangmu.
Akan selalu melihatmu dari jauh, menghampirimu, Mengobati lukamu. Karena ada darahku di dagingmu.
Tia, Adikku.
Berbahagialah.
Trifad.
Tolong jaga dia, aku menyayanginya.