Senin, 07 April 2014

Saat Senja Menjelang....



“Percayalah, sampai kapanpun laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa bersahabat”…

Tiba-tiba, Kata-kata itu kembali terngiang difikiran Virgo, dia ingat pertamakali mendengarkan ungkapan itu hampir setahun lalu. Itu tengah malam, didepan warung buk Jum. kata-kata itu diucapkan kang Asep saat si Amin cerita tentang rasa sukanya kepada Ningsih, teman sekelasnya. Menjadi masalah  karena Ningsih adalah teman Amin sejak TK.

Di lantai dua gedung sekolahnya itu, Virgo mencoba mengingat , apalagi yang dikatakan oleh kang Asep kala itu. Karena saat kang Asep bercerita dulu. Virgo tengah sibuk meladeni buk Jum yang bercerita tentang, anak bungsunya si Kifli yang tidak tinggal kelas tahun ini. Betapa bangganya dia.

“Hey! Buruan, Dinan udah mau tampil! Ayook!” Suara Popi memecahkan lamunan Virgo.
“Hah! Serius?!”
Tanpa menunggu jawaban Popi, Virgo melompat dari tempat duduknya .
“Iya! Lagian apa enaknya sih disini? Betah amat duduk sendirian”
“Disini tenang, dari atas kita bisa ngeliat orang-orang”. Jawab Virgo pendek.
“Yok!” Sambungnya, Sambil menepuk pelan bahu Popi.

Mereka  berjalan menuruni anak tangga.

“Anak-anak mana?” Tanya Virgo
“Semua udah dilapangan, Cuma si Dido yang gak keliatan sejak tadi”.
“Dia gak tau Dinan tampil hari ini?”
“Kayaknya nggak”. Jawab Popi

Dilapangan, Semua Siswa-siswi Tumpah Ruah. Ramai, Maklum ini pertengahan bulan Agustus, dan sudah jadi even wajib di SMA Harapan Bangsa , menjelang hari kemerdekaan, diadakan berbagai macam lomba, mulai dari Festival band, Fashion Show, Dance competition, Bazar, Lomba Mading dan perlombaan khas 17an lainnya.  Murid-murid tentunya senang, bagaimana tidak, selama tiga hari kegiatan belajar mengajar ditiadakan.

Suasana di lapangan sekolah riuh rendah. Virgo menatap sekelilingnya ,seperti mencari sesuatu..

“Popii,Igoo siniii! “ Teriak Eca, dari kejauhan. Sambil  terus melambaikan tangannya.
Virgo, melambailan tangannya. Popi setengah berlari, mendatangi  Eca, disitu juga duduk Imel yang tengah asik bercanda dengan Adit.
Virgo berjalan pelan, namun pandangannya tertuju ke kelas IIIA2.
Disitu ada Citra yang sedang asik ngobrol dengan teman-temannya.
Pandangan mereka sempat beradu, sampai kemudian Citra memalingkan wajahnya, lalu kembali tertawa bersama teman-temannya.
Virgo menghela nafas panjang. Kemudian berjalan pelan…
“Plak! Kembalian yang kemaren hehe”. Kepala Virgo ditepuk seseorang dari belakang.
“Kampret!”  Teriaknya. Sedetik kemudian Virgo dan Dido sudah kejar-kejaran, Dido berlari kearah Eca, bersembunyi di balik badan mungilnya. Eca kaget . Bungkusan Syomai  yang dipegangnya  jatuh.
“DIDOOO! IGOOOOO!! GANTIIII!! “ Teriak Eca dengan matanya yang langsung berkaca-kaca, Eca mewek.
 Mereka berlima tertawa melihatnya. Eca makin manyun.

“Eh, itu Fashion Show udah mulai!” Imel berdiri, sambil nunjuk kearah panggung.
Tanpa aba-aba mereka langsung lari ke arah panggung, Bersama siswa-siswi lainnya.
“Dari kelas IIIA4 Dinan dan Putriiii!” Aba-aba Pipit, anak kelas I yang ternyata jago ngeMC.

Sorak sorai dan tepuk tangan penonton menggema, “suit..suit..! Putri ! Putri juaranya! Putri Ozawa ! Hidup Putri!”  Teriakan para Siswa bersahut-sahutan. Iya, di SMA Harapan Bangsa, putri dikenal sebagai cewek paling bohay. Dengan postur tinggi dan wajah oriental, wajar bila ia dielu-elukan cowo sesekolahan. Termasuk Dido. Yang langsung menerobos kedepan panggung.

Dari balik panggung, muncul Dinan dan Putri diikuti peserta lainnya.

Penonton hening, mereka kecewa…

Ternyata tema tahun ini adalah pakaian muslim. Putri tampil dengan gamis lengkap dengan jilbabnya, yang sukses menutupi lekuk tubuhnya.
Dan Dinan tampil menggunakan pakaian model ulama jaman dulu, lengkap dengan sorban merah putih yang melingkar dilehernya. Tidak seperti Putri ,langkah Dinan gontai. Tatapannya kosong.

Selang beberapa detik kemudian….

“WUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAK!!!!!!”  Keheningan dipecahkan oleh tawa Virgo dan Adit.
“HASALAMUALAIKUMMMM WAK HAJIIII  !!!!” Teriak Adit sambil tangan kirinya merangkul Virgo, dan tangan kanannya terus melambai ke panggung.
“WUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!”  Virgo dan Adit masih terus saja tertawa. Imel, Popi, Eca mencoba menahan tawa mereka.
Dido yang sebelumya tertunduk lesu didepan panggung, akhirnya sadar diatas panggung ada Dinan.
Dia langsung bergabung dengan Virgo dan Adit. Lengkap sudah penderitaan Dinan.
Dinan semakin tertunduk, Namun ketiga sahabatnya itu tak berhenti tertawa.
“Udah dong!, kasian Dinan”, gerutu Popi.
“Ho’oh. Jahat ih”. Timpal imel, namun dengan wajah yang memerah karena sejak tadi menahan tawanya. Ngeliat itu Popi malah tertawa.
Emang lucu sih ya mel? Hahaa”
“DINAN KEREN! CAKEP!!”  Eca tiba-tiba teriak. Dua jempolnya diangkatnya ke atas
Popi, Imel tersenyum ngeliat Eca. lalu langsung merangkulnya.
“DINAN CAKEP! DINAN PUTRI JUARANYA! BANG DINAN KEREN EUY!”  Bertiga mereka bersahut-sahutan.
Dinan, yang semula tertunduk, mulai mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum.
Ngeliat itu , Virgo, Dido, Adit pun serentak mengikuti.
“Woi, kalian gak denger itu teriakan?!”  Ujar Adit kepada penonton yang sejak tadi diam melihat polah mereka. Kebanyakan anak kelas I dan II.
“Denger bang”. Jawab mereka.
“Ikutin dong!” Sergah Adit
“Ya, ya, ya ikutin-ikutin”.Tambah Dido, sambil menepuk-nepuk pundak mereka.
Akhirnya, teriakan DINAN! DINAN! DINAN! Berkumandang, Senyum Dinan semakin lebar.
Virgo, Adit, Dan Didopun tersenyum lebar dan mengacungkan jempol mereka kearah Dinan. Dinan mencibir.
Dan tak diduga, Dinan dan Putri menjadi juara 2. Dinan kaget, Putri senengnya gak ketulungan, langsung reflex meluk Dinan. Dinan sumringah.

***

Sorenya, begitu acara selesai, mereka ngumpul di warung bakso langganan mereka, gak jauh dari sekolah. Dinan yang traktir katanya.
“Dinan, kemana sih?” Tanya Dido, sambil nyomot tahu goreng yang ada di meja.
“Katanya tadi, mau nemuin wali kelas bentar. Abis itu langsung nyusul kesini”. Sahut Imel
Nah,itu dia!
Dinan datang dengan grasak-grusuk , masih dengan pakaiannya yang tadi.
“Lah, gak jadi nan, nemuin Buk Lastrinya?” Ujar Popi.
“Itu dia masalahnya Pop”. Dinan langsung duduk disebelah Imel, “,Mbok es teh nya satu ya”.  
“Maksudnya?” Tanya Popi lagi.
 “Gini Pop, yang nyediain baju ama dandanin  aku  kan buk Lastri, Jadinya bajunya aku, aku titipin kedia.  Eh, Tadi pas aku mau ganti baju lagi. Taunya dia udah pulang”.
“Kebayang gak, aku mesti pulang pake pakaian kaya begini?. Mana gerah lagi”. gerutu Dinan, sambil mengelap keringatnya dengan sorban.
Virgo dan Dido yang sejak tadi asik membaca Majalah Bola, ngikik , mendengar gerutuan Dinan.
Dinan cuek.
“Gak apa-apa kali nan, yang pentingkan juara . Hehee”. Popi senyum coba menenangkan
“Bener juga sih.Eh, Eca mana Pop? Udah dijemput ya?”
“Ho’oh, ada kali sejaman yang lalu, dijemput papanya”. Potong Imel
“Si bontot mah, semboyannya pantang pulang sebelum maghrib” . Celutuk Adit
“Haha.. bener “, sahut Popi
“Wiiiiih… Anak lanange sopo iki? guanteng tenan” . Sambar mbok Darsih, sambil menaruh pesanan ke meja mereka.
Dinan senyum kecut. “Ah., mbok ngenyek ih”
“Nggak kok, emang gantenge tenanan”.  Jawab mbok Darsih yakin.
Virgo dan Dido yang sejak tadi duduk agak jauh dari tempat Dinan, langsung mendekat.  
 “Mbok, ini tulang nya udah banyakan? Laper lo”. Virgo memelas
“Udah go, nanti kalo kurang, ambil sendiri”. Sahut mbok, lembut
“Asik!”  
Virgo duduk didepan Popi. Langsung masukin saos, kecap, dan cabe ke mangkok baksonya.
“Banyak amat go cabenya, tar usus buntu, baru tau rasa”. Celutuk Popi
“Elah Pop, gak bakalan deh. Paling top juga mencret”. Balas Virgo
“Virgo, stop!” Sergah Imel, sambil mengarahkan telunjuk ke bibirnya.
“Hehehe.. Iya, eh nan tolong kerupuk”. Pinta Virgo
Dinan tak bergeming. Terus saja melahap baksonya.
Imel , menggeser tempat kerupuk didepannya , kearah Virgo.
“Tuh kan Do, Kau sih. Becanda nya kelewatan, marahkan wak Haji”. Ujar Virgo
“Lah kok aku?, yang duluan ngetawain kan kau ama Adit”. Bela Dido sambil menarik kuat mie kedalam mulutnya.
“Nah, berarti Adit yang salah”. Timpal Virgo lagi, sambil nunjuk Adit yang sejak tadi tenang menikmati mie pangsitnya.
“Kapan sih Virgo salah?” . Sindir Adit sambil ngelirik kearah Dinan, Imel, dan Popi.
“Hihihi”. Virgo nyengir.
“Tapi beneran, keren lo tadi Nan, serius”. Popi menatap sekelilingnya, meminta persetujuan.
Imel, Adit, Dido ngangguk.
“Keren Nan!”, sahut Imel sembari nyeruput es teh nya.
“Hohem..Hohemm..Hohemm..” Virgo ngangguk-ngangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Abisin dulu, itu yang dimulut”. Sergah Popi
“Bukan gitu Pop, diketawain kalian mah udah biasa, tapi tau nggak kenapa aku yang kepilih jadi Model kaya tadi?” Tambah Dinan
“Uhuk!” Virgo tersedak. Langsung menenggak habis es teh nya.” Mbok es teh nya satu lagi ya”. Pintanya.

Lalu Dinan bercerita, bagaimana 5 hari yang lalu, buk Lastri ngadain rapat kelas, buat nentuin siapa-siapa aja yang jadi perwakilan kelas buat ikutan lomba. Untuk lomba fashion Show, buat yang perempuan udah kepilih Putri. Nah, yang buat cowonya belum ada yang berani ngajuin diri. Tiba-tiba Virgo, ngangkat tangannya. Cowo-cowo satu kelas lega. Ketua kelas berani ngajuin diri, fikir mereka
“Ya, Virgo?” Tanya buk Lastri
Virgo berdiri, lalu menghela nafas. Kelas hening… 

“Buk, sebelum rapat ini dimulai, kami tadi sebenarnya udah bikin rapat kecil-kecilan, dan kami semua bersepakat, menunjuk Dinan sebagai model cowonya buk. Mengingat sebelumnya, Dinan emang pernah jadi model  buk, malah pas kemaren ada lomba di kelurahan, dia juaranya buk. Ya kan, ya an?” Virgo mengangguk-anggukan kepalanya, melirik seisi kelas, untuk mengiyakan perkatannya. Dinan yang sejak tadi asik tidur dibangkunya, shock. Lalu narik-narik baju Virgo.

“YA BUK! BENAR BUK! DINAN MAH UDAH PRO BUK! DINAN AJA BUK! “ Serempak cowo-cowo satu kelas berteriak riuh rendah. Kelas heboh
“Sudah tenang! “ Teriak buk Lastri, sambil memukul pelan tangannya kemeja.
“Benar Dinan?”  Tambahnya lagi
“Nggak buk! Bohong, Saya gak pernah…”
Sebelum Dinan meneruskan perkataannya, Virgo langsung memotong.
“Dinan, memang suka merendah buk. Dia kuatir dikira sombong”. Sambil melirik dan mengelus pundak Dinan.
“Oke, jadi udah diputuskan perwakilan kelas kita buat fashion show, Putri dan Dinan. Dinan, Putri, nanti pas jam istirahat temui ibuk ya”. perintah buk Lastri sambil mencatat sesuatu dibukunya.
Cowo-cowo satu kelas berteriak kegirangan, mereka selamat…
Dinan pasrah, Virgo langsung kabur keluar kelas.
“Hahahaaa..” Imel, Dido dan Adit tertawa mendengar cerita Dinan, Popi geleng-geleng sambil tersenyum ngeliat Virgo.
Dinan, meneruskan makannya.
“Hih!, udah ah, pamali tau, marah-marah dimeja makan. Lagian kan dapat juara, dipeluk Putri pula, kan enak?, coba kemaren kalo nolak? Mungkin sekarang kita gak disini. Ya kan?”. Ujar Virgo ngebela diri, sementara garpunya udah nancap di baksonya Popi.
“Pop, cewek gak boleh makan bakso banyak-banyak lo, tar susah dapat jodoh”. Sambil memasukan bakso tadi kemulutnya.
“Apa hubungannya?!” Sergah Popi.
 Dinan tersenyum melihat ulah sahabat baiknya itu.

***

Senja sudah menghinggapi langit Kota sore itu, Sayup-sayup terdengar kumandang adzan maghrib. Lampu-lampu jalanpun sudah menyala, berlomba-lomba dengan cahaya matahari yang perlahan tenggelam .
Mereka kini tinggal berlima, Dido udah pergi. Katanya  ada janji dengan Ranti anak kelas 2 yang tadi kenalan dengannya, di sekolah.
“Bentar ya”, ujar Dinan. Lalu dia pergi
Semua tau, dia pergi ke mesjid. Karena selain Eca, diantara mereka, Dinan yang paling rajin Sholat.
“Trus kita kemana nih?”  Tanya Imel.
“Tau”. Jawab Popi
Virgo hanya diam, dan terus berjalan kearah sebuah warung yang masih tutup, kebetulan disitu ada kursi.
Mereka semua akhirnya duduk disitu.
“Eh, Dit temenin aku beli pulsa dong”. Pinta Imel, Adit mengangguk lalu berjalan bersama Imel.
Virgo membakar rokoknya. Popi membenarkan ikat rambutnya.
“Citra gimana go? Kalian udah baikan?”  Tanya popi tiba-tiba.
“Hmmmm?” Virgo menaikan alisnya. Semacam isyarat, meminta popi mengulangi pertanyaannya.
“Citraa.. . kata Dinan kalian berantem”. Ulang Popi
“Ooh, Iya sih, ada kali 3 hari. Tapi biarin deh, tar juga baik sendiri”. Jawab Virgo cuek, sambil menghisap rokoknya.
“Jangan kelewat dikerasin go. Citra anaknya baik lo, cewe mah Cuma minta diperhatiin”. Popi menatap Virgo.
“Iya, tau”. Jawab Virgo pendek
“Emang berantem kenapa?”  Tanya Popi lagi
“Yah, biasalah. Gak percayaan gitu. Padahal aku gak ngapa-ngapain’. Virgo ngebuang puntung rokoknya.
“Makanya, perhatian dong!. Cewe emang kaya gitu go. Kalo dia ngerasa cowo nya gak perhatian, atau tiba-tiba berubah. Pasti deh bakal mikir macem-macem”. Ujar Popi coba nasehatin Virgo.
“Iya, Tar diperhatiin, lagian aku gak pernah berubah kok”. Jawab Virgo seadanya, sambil ngambil Handphone di Sakunya. Lalu ngetik sesuatu.
“Berarti kau harus berubah Virgo!”  Suara Popi meninggi, mungkin karena kesal dengan jawaban Virgo yang seenaknya.
“Hih! Kenapa kau jadi kaya Citra gini sih?! Nyuruh-nyuruh orang berubah. Ribet ya perempuan, bentar bilang jangan berubah, bentar nyuruh berubah.”  Virgo menggerutu.
“Berubah jadi lebih baik bodoh!, lebih perhatian, lebih ngemanjain.”  Popi noyor jidat Virgo pelan. Lebih…”
“ Hah ribet”, Potong Virgo
“Kau, sendiri gimana Pop? Masih mikirin si Hanoman?”  Tanya Virgo, Sambil asik menendang-nendang kaleng cola dikakinya.
“Roni, go Roni. Namanya Roni.”
“Ah, terserah deh, namanya siapa”. Virgo masih asik dengan mainan barunya.
Raut wajah Popi berubah saat itu. Dia tiba-tiba tertunduk lesu. Virgo diam menatap Popi.

PRAK! Virgo menendang keras kaleng cola nya tadi. “GOOOOL!!” “ YEAAAAH!!”  Virgo mengepalkan tangannya ke atas, berlari-lari kecil mengelilingi Popi. dia girang.
Popi kaget, lalu tersenyum melihat ulah Virgo.

“Tuh kan mulai lagi. Ada kali 6 bulan kau kaya begini. Mau sampai kapan? Udah ah, bahas yang lain aja”. Virgo berdiri dihadapan Popi. Popi hanya mengangguk pelan dan menatap Virgo.
Dinan datang, “Wih ngomong apaan ni?, serius Amit?”
“Ho’oh Seserius Rustam, Linda, Raden Bahtiar, Rukmini”. Sahut Virgo. menyebut silsilah keluarganya Dinan.
Loh kok banyak gitu go?, sampe segala kakek nenek  dibawa-dibawa?!” Aku kan Cuma satu, tadi” Protes Dinan.
“Hahahaa.”  Popi, tertawa melihat dua sahabatnya yang terus saja berdebat.
 “Hei! Liat kami bawa apaan?!” Teriak Imel, sambil menenteng bungkusan di tangannya.
“Kemana sih? Kok lama amat?”  Sambut Popi
“Ini si Adit, ngajakin singgah tadi ke Swalayan, mau jajan katanya”. Imel melirik Adit
“Wow makanan!”, serentak Virgo dan Dinan mengejar Imel
“Nih Pop”, Adit ngasih Popi ice cream
“Wih, thanks dit”. Popi tersenyum, seraya mengambil ice cream dari tangan Adit. Adit balas senyum
Malam itu, mereka menghabiskan waktu disitu. Bercanda, Nelfonin Eca yang gak boleh keluar malem, curhat, main tebak-tebakan. Ahh.. Indahnya masa remaja.

  ***

Pukul 9 malam, Virgo sampai dirumahnya. “Assalamualaikum ya ahli kubur”  teriaknya. Tanpa menunggu jawaban karena tau gak bakal dijawab. ia Langsung masuk kamar, kemudian keluar lagi dengan handuk yang menempel  di bahunya.
“Igo udah makan? “Tanya ibu nya
“Iya bu, Igo mandi dulu”. Dia langsung menuju kekamar mandi
15 menit kemudian, dia udah keluar lagi.
 Dengan handuk yang masih terpasang di pinggangnya, Igo ngebuka tudung saji. Sejurus kemudian tempe goreng udah ada dimulutnya.
“Igooo, makan yang bener”. teriak ibunya lembut.
Virgo nyengir, lalu mencubit pipi ibunya ,terus masuk kamar.
5 menit kemudian, Virgo udah cakep, dengan kaos dan celana pendek favoritnya, ia langsung bergegas keluar rumah. “Bu, Igo pergi dulu, ke rentalnya mas Anto, Assalamualaikum!” teriak Virgo dari luar
“Igo gak jadi makan?”, balas ibunya, sambil berdiri dari depan tv, menghampiri anaknya.
“Ntar aja, Igo udah ada janji ama mas Anto, Biasa, bisnis. Hehehee” , Virgo tersenyum menaik-turunkan alisnya.
“Heleh, Bisnis terus. Bisnis gak jelas”. Ejek ibunya
“Haha..” Virgo tertawa lalu ngeloyor pergi.
“Walaikumsalam”, jawab ibunya pelan

Gak berapa lama, Virgo udah di rental PS nya mas Anto, mas Anto terlihat gusar, “kemana aja sih go? Udah sejak tadi lo ditungguin.Tuh liat”. sambil melirik kearah dua orang berbadan tegap yang tengah asik main PS.
“Oh”, gumam Virgo
“Kaya biasa? “ Sambungnya lagi
“Gak. Kali ini agak gede. Cepek”. Jawab mas Anto
Virgo ngangguk, dan kembali ngelirik calon lawannya. ” ayooo deh!”. ujarnya mantap
Satu setengah jam kemudian, kedua orang berbadan tersebut pulang dengan wajah muram.
Mas Anto, menghitung lagi jumlah duit ditangannya. Virgo membakar rokoknya.
“Empat ratus, lima Ratus. Hihi lumayan go”. Sambil mengibaskan duit ke wajahnya.
“Nih go, buat kamu”. Sambil nyerahin dua lembar duit seratusan ke Virgo.
“Widih. Gak kebanyakan mas?”  Virgo menatap mas Anto.
“Udah go, ambil aja. Sekali-kali ini. Hehee.. Thanks yak!” Sambil mengedipkan sebelah matanya dan masukin duit kekantong celananya Virgo.
Virgo tersenyum lebar, “sama-sama bos! Ane Balik dulu”. Virgo berlalu
“Lumayan”, Virgo  bicara dalam hati.

Sudah hampir 2 tahun ini, Virgo bekerja sambilan di Rental PS nya mas Anto, kalo lagi libur atau gak sekolah, dia ngebantuin mas Anto ngejaga rental PSnya. Kalau lagi ada yang nantangin buat main Taruhan, mas Anto dengan senang hati menerimanya. Dia bakal nyuruh Virgo untuk jadi Joki, jadi Virgo yang main, mas Anto yang nyediain duit taruhannya. Memang kebanyakan menang , Cuma bukan berarti mereka gak pernah kalah. Hanya, Mereka punya cara jitu untuk mengantisipasi  kalo-kalo mereka kalah. Yang pertama, Virgo tau kombinasi tombol yang bisa ngebuat permainan terhenti atau error. Jadinya pertandingan mesti diulang. Namun cara ini jarang dipakai Virgo, karena selain rumit, juga kuatir ketahuan. Tapi, ada cara yang paling mudah dan gak bakal ketauan, Itu mereka pakai sebulan lalu. Saat dirasa udah kalah banyak, mas Anto bakal sms istrinya mbak Sri untuk matiin kontak listrik dari rumah. Rumahnya pas dibelakang rental PS. Dan setelah mati, biasanya mas Anto bakal belagak marahin anak nya si Ajen, yang tadi nyalain radio.
“Ajen! Kan udah ayah bilang, radio itu make daya gede! Matikan jadinya semua!” mas Anto pasang belagak galak.
 Ajen Cuma diem, soalnya saban hari dia ngidupin radio, Listrik gak pernah padam.

Dan begitulah, setelah lawannya pergi. Biasanya mas Anto dan Virgo bakal ketawa ngakak.
“Jahat ya go ya?” Sambil ngelus kepala anak kesayangannya si Ajen.
“Gak apa-apa mas. Lagian mereka mah berisik. Yang main satu, suporternya rame. Bikin emosi mas. Jadinya kan gak konsen”. Ujar Virgo beralasan
“Hahaa iya go! Bener!”
  
Kembali ke Virgo tadi, Dia berencana ke warung buk Jum, mau nraktir kang Asep, dan kumpul ama temen-temennya disitu. Virgo ngeliat jam ditangannya. Jam 11 fikirnya, dia termenung sebentar seperti menimbang-nimbang sesuatu.
Virgo ternyata langsung pulang kerumah, Dia teringat kata-kata Popi tadi. Begitu masuk kamar, dia ngambil Handphone yang sejak tadi di cas. Menekan beberapa tombol, dan…
Panggilan pertama, telfonnya gak diangkat.
Virgo mencoba sekali lagi. Namun belum juga diangkat.
Saat Virgo mau mutusin panggilannya.
 “Ya, Halo” . Terdengar suara perempuan dari ujung telfon. Suaranya bindeng, kaya orang yang lagi pilek.
“Halo. Kamu apa kabar?” Tanya Virgo pelan
“Baik”.kemudian terdengar helaan nafas yang panjang.
“Ada apa, go?”  Suara Citra agak tertahan
Giliran Virgo yang menghela nafas.
“Gak ada. Kangen.”  Jawab Virgo
“Oohh..”  gumam Citra, tak tertarik
Setelah itu, mereka berdua hanya membisu, Hingga 15 detik kemudian…
“Udah ngambeknya? Atau pengen terus kaya begini?”  Virgo memulai pembicaraan.
“Kenapa Tanya aku?! Tanyain ke diri kamu?! Tiga hari ini kamu kemana aja?! Sadar gak sih kamu tuh jahat?! “ Suara Citra meninggi, air matanya jatuh.
“Ssstt.. Jangan gede-gede buk suaranya. Tar kedengeran mama kamu, tarik nafas dulu.coba , satu..hhh dua…hhhh..”
Citra refleks mengikuti arahan Virgo. Walaupun dia pengen nolak.  Karena gengsi dong, kan lagi berantem, Masak nurut. Namun Citra sadar, dengan ngelakuin itu, dan mendengar suara Virgo, Memang menenangkan hatinya.
“Pengen nangis dulu, apa pengen bicara dulu”? bicara dulu aja ya,nangisnya besok aja. Kan libur, jadi bisa puas nangisnya”, tar aku temenin deh”.  Tabiat bawaan lahir Virgo. Nanya, untuk kemudian di jawab sendiri, sampai orang yang ditanya, gak bisa ngejawab apa-apa. Ibunya sering protes tentang itu.
Setelah itu, hampir 20 menit nelfon. Virgo udah senyum-senyum sendiri, sesekali tertawa kecil.

Sekali lagi..., sepertinya ia berhasil meluluhkan hati Citra. Perempuan yang sudah dipacarinya lebih dari setahun ini.
Setelah selesai nelfon . Virgo menarik nafas lega, Lalu membakar rokoknya, dan menuliskan sesuatu di binder keramatnya. Entah apa..

Beberapa kilometer dari tempat Virgo sekarang, Popi. Tengah menangis terisak-isak , karena sejam lalu sepupunya Dinda, nelfon. Ngeliat Roni lagi gandengan tangan ama cewe. Mesra. Popi kecewa…

Dan, disaat yang sama. Diatas kasur empuknya. Citra, Tengah menatap dalam-dalam foto Virgo, Foto yang diambil Vivi sahabatnya. Saat gak sengaja ngeliat Citra lagi ngejewer kuping Virgo. Virgo tampak seperti bocah yang lagi dimarahin ibunya, saat itu. Mukanya memelas. Citra tertawa setiap kali mengingatnya. 

Air matanya kembali jatuh. Namun setelah itu, dia tersenyum.

Virgo, Aku mencintaimu…

Bersambung….

Sabtu, 05 April 2014

Pa, Bangunlah...

Jum'at malam, 24 Juni 2012...


“Ntar laptop ini dijual aja ya bu”..
Ungkapan itu yang pertama kali keluar dari mulutku, ya.. disebelahku saat ini terbaring wanita tua dengan rambutnya yang memutih, dengan rasa lelah yang terlihat jelas dari raut wajahnya, namun langsung terhapus dari senyum tulusnya, senyum yang menyiratkan, ketegaran dan keyakinan, bahwa semua ini bisa kami lewati. 
"Jangan pernah, itu berguna untuk skripsimu", masih dengan senyumnya.


Dia ibuku, wanita terhebat yang  pernah ku kenal sangat hebat. Sampai untuk membayangkan kelak aku akan mendapatkan istri setangguh beliau, aku tidak berani. Dia terlalu hebat.


Dan dibalik dinding tempat kami sekarang. Oh ya, sekarang kami berdua sedang berada dibalkon sebuah rumah sakit pemerintah ditempat tinggalku, Pekanbaru. Jangan dulu Tanya kenapa kami ada disini, nanti aku ceritakan. Oke, aku lanjutin kisah tentang seorang pria paling hebat, paling tangguh, dan paling laki! yang pernah kukenal. Ya, dia yang kini terbaring lemah di balik dinding itu.

Dia ayahku, yang sejak kecil aku memanggilnya “apa”...


Apa, seorang ayah yang gak banyak omong,yang Cuma ngelarang anaknya sekali stelah itu membiarkannya, seorang ayah yang menekankan kepadaku dan anak laki-lakinya yang lain, ”kalian laki-laki, kalian udah gede, dilarang puluhan kali pun sia-sia, lakukan apa yang kalian ingin lakukan, tapi ingat!, bertanggung jawablah akan hal itu.dan satu yang kupesankan! jangan pernah sentuh narkoba!”. Sesederhana itu, ya begitulah dia dan sampai hari ini, dia masih menunjukan padaku bagaimana semestinya seorang laki-laki itu hidup .


Oke lanjut, tentang kenapa kami bertiga bisa sampai disini, ini ceritanya….

Bentar,aku bakar rokok dulu…,

Tentang rokok, selain bisa bantu nemuin inspirasi, rokok yang ku bakar sekarang juga ngebantu buat ngusir nyamuk. Percaya atau nggak, nyamuk disini segede kura-kura.


Mmmm… sekitar 2 minggu yang lalu, atau tepatnya 7 hari sebelum lebaran, ayahku jatuh pas lagi solat subuh dimesjid. Setelah diantar pulang oleh jemaah mesjid yang lain, dia ditidurin dikamarku. Dan saat itu kami skeluarga berfikir, mungkin ayahku hanya drop karena kelelahan dan berpuasa dikombinasiin dengan hipertensinya maka jadilah seperti itu. Seperti biasa apa hanya diberikan obat dari dokter keluarga (dibaca- seseorang yang kebetulan tau banyak soal kesehatan,memiliki izin  praktek, dan membuka klinik tidak jauh dari rumahku). Kami biasanya memanggilnya buk Evi. Sejak lama dia telah menjadi langganan Keluarga kami, jika ada yang sakit. Alasannya sederhana, slain dekat, kami semua kenal dengannya. Dan alasan utamanya adalah tarifnya yang murah hehee..


Kembali ke ayahku,

Satu hari, dua hari, tiga hari,seminggu….


Keadaan apa gak nunjukin, kearah yang yang lebih baik. Dia masih saja terbaring dikasur ku. Pucat, tubuhnya kadang panas, kadang bersimbah keringat. Padahal semua jenis obat telah diminumnya, vitamin dariku, obat yang katanya mujarab dari saudaraku yang datang dari jauh, hampir tidak memberikan efek apapun. Gak ada yang tau sakit yang diderita apa, buk Evi sekalipun. Satu-satunya yang aku tau, ayahku sedang tidak baik-baik saja saat itu. Ada yang salah dibadannya.


Kemudian kami berinisiatif untuk membawanya berobat kerumah sakit. Dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, dia menolaknya. Kalian tau kenapa kukatakan sudah diprediksi sebelumnya? karena dia laki-laki yang memiliki penyakit aneh, penyakit yang gak mau ngakuin kalo dia lagi sakit, dia bakal belagak kuat dan bilang dia gak apa-apa, dia anti rumah sakit. Kadang terfikir olehku, dia takut jarum suntik, tapi aku sangsi jika karena itu, dia pria kuat, pria yang tak takut apapun. hmmh ralat…dia takut pada ibuku .eja! oke pa..sory..sory..,ralat lagi..bukan takut, tapi sayang…hehee…,ya begitulah, seperti yang kukatakan sejak awal dia pria hebat. Yang sangat menyayangi ibuku.


Namun dihari itu dia menyerah. Hari itu lebaran keempat, tiba-tiba dia berkata pada ibuku “bawa aku kerumah sakit”. Kami semua kaget skaligus senang. Kami masih bertanya-tanya angin apa yang ngebuat tulang tengkorak kepalanya yang keras itu menjadi tiba-tiba lunak. Namun aku tidak akan membuang-buang waktu untuk mencari jawabannya. Karena dari dalam matanya,dan lenguhan lemah nafasnya…aku tau…dia sudah sangat lelah…


Dengan menumpangi mobil sahabatku Irwan, kami membawanya ke sebuah Rumah Sakit swasta tidak berapa jauh dari rumahku.sesampainya disana,aku baru menyadari bahwa  kami pergi berempat, ayahku, ibuku, aku, dan irwan. Oke, gak ada masalah?. ini masalahnya, diantara kami gak ada satupun yang tau gimana cara ngebawa orang ke rumah sakit, apa mesti nunggu dulu?, atau langsung masuk ke kamar atau mesti ngisi kertas administrasi dengan segala tet*k bengeknya?


Aku bingung kala itu, Bertanya pada ayahku? aku yakin kalo hanya untuk mengambil kunci inggris dari mobil irwan dan mengelus-ngeluskannya kekepalaku. Tenaganya masih ada…

Bertanya pada ibuku? hhmmmhh… Bukan pilihan yang bijak… Kecuali kau ingin menanyakan harga cabe dan bawang yang fluktuatif paska lebaran ini….

Menelfon abangku? jauh disana telah terbayang, suara pria berteriak dgn telfonnya.. "APA GUNANYA KAU KULIAH SELAMA INI?!!" Membayangkannya saja, aku sudah menghela nafas panjang, Dan sampai hari ini  aku masih mencari korelasi antara aku yang kuliah dengan segala hal yang gak aku tahu, Namun selalu dituntut untuk tahu, hanya karena aku mahasiswa.

Bertanya pada irwan? hmmmhh… Disebelah irwan ada gerobak sate, percaya atau tidak. Lebih bijak rasanya jika bertanya pada gerobak itu.


Sempat bingung memikirkan, namun sejurus kemudian, ting!ya dia orangnya!, kalo untuk urusan Rumah Sakit dia ahlinya. Jam opnamenya sudah tinggi. Benar saja, dari ujung telfon disana dia ngarahin aku dengan penuh kasih sayang, rasa sabar dan lebih banyak kedongkolan. Dikarenakan aku yang kelewat bego. Benar saja setelah mengamalkan arahannya. Tak kurang 10 menit ayahku telah terbaring manis ditempat tidur, dirawat dengan manja oleh suster-suster muda yang ramah, ayahku sepertinya betah disini .

Dan pelajaran yg dipetik hari itu adalah “Berobat kerumah sakit itu ternyata mudah ”.


Dan sehari kemudian aku dapat pelajaran tambahan .

”Berobat kerumah sakit itu memang mudah, satu-satunya yang sulit adalah menyelesaikan administrasinya ....“  percayalah….


Oooh iya, hampir lupa, sebelum kisah ini dilanjutin gak etis rasanya kalo kita gak ngenalin, siapa sosok penyelamat diujung telfon tadi. Dia Delia, seorang sahabat. Dia mantanku. Mantan terbaik tepatnya . Mungkin hari itu aku bisa aja nanyain ke yang lain. Tapi mungkin karena kebiasaan atau ngikutin kata hati kali ya, kebisaan yang kalo aku lagi bingung atau ada masalah yang gak bisa aku selesein sendiri, aku bakal tanyain kedia, selain itu juga karena, hanya dengan mendengarkan suaranya saja, Aku bisa lebih tenang. Dan hari itu. Dia nyusulin aku kesana, ngebantuin aku, dan sesekali mijitin kaki apa. Hebatnya lagi menjelang malam, sahabat-sahabatku juga nyusulin aku ke Rumah sakit. hhhhh… dengan mereka semua sepertinya setelah ini segalanya bakal lebih mudah untuk dilewatin. fikirku...

                               


Sabtu malam, 25 juni 2012...
                               

Masih ingat tentang pelajaran kita tadi soal, ”Berobat kerumah sakit itu ternyata mudah” itu? 

Ya, teruskan lanjutannya...

"Satu-satunya yang sulit adalah menyelesaikan administrasinya“.
  
Pelajaran itu kupetik dua hari yang lalu. Sehari sebelum aku berada disini,dibalkon ini….


Ada yang yang belum kuceritakan pada hari pertama aku dirumah sakit itu, hhhhh... Susah nyeritainnya.. Bentar, bakar rokok dulu.. hhmmm… Diagnosa awal nunjukin ayahku kemungkinan mengidap kelainan darah, aku gak ngerti istilahnya apa?, sedikit yang aku tangkap penyakit ini diakibatkan sel darah putih penderitanya meningkat drastis. Sehingga mengganggu kestabilan tubuhnya.

Kami sekeluarga shock mendengarnya. Karena selain gejala stroke yang pernah dialamin apa tiga tahun yang lalu. Beliau belum pernah ngalamin sakit keras seperti saat ini. Dan jujur saat itu aku teringat tetanggaku, kebetulan anaknya juga ngalamin penyakit yang hampir sama seperti ini. Terbersit olehku pertanyaan, 
”perasaan penyakit kaya gini bakal kliatan sejak kecil”?. Kenapa justru diumur yang setua ini ayahku mengidapnya?. Ingatanku kembali teringat ketetanggaku tadi, membayangkan gimana susahnya dia setiap bulan mesti cuci darah, capek dikit bakal sakit, butuh perawatan ekstra, jujur aku takut saat itu, dan saat ini aku sangat takut, karena tau, anak tetanggaku ada dua, kedua-duanya mengidap leukemia, dan salah satunya…..


Telah pergi…Beberapa tahun yang lalu…


Suka gak suka, penyakit ini bisa dibilang, dan memang harus dibilang, penyakit ganas. Tapi ya sampai hari ini aku, ibuku, kami sekeluarga masih positif thinking dan berdoa ama tuhan, kalo yang bersarang dibadan apa, cuma gejala, sukur-sukur salah diagnosa.  

Amin...


Dua hari diopname di RS swasta itu, dengan perawatan yang memang harus diakui memuaskan. Ngebuat kami tenang, kabar yang mengatakan bahwa RS ini memiliki tarif mahal kami lupakan. Yang terpenting saat ini, adalah kesehatan apa. Sejak ayahku dimasukin kesana kami semua anak laki-lakinya sepakat bakal ngerahin semua tenaga buat kesembuhan apa, dengan uang kami masing-masing, dan sedikit simpanan di BANK kami yakin bisa nyeleseinnya…kami yakin…


Setidaknya sampai hari kedua ayahku disana, rasa ingin tahu dan kekhawatiran karena aku pernah dirawat disana. Membuatku memberanikan diri bertanya pada staff administrasi RS tersebut. Dan…..hhhh ternyata kekhwatiranku terbukti. Hanya dalam dua hari… Sekali lagi hanya dalam dua hari tagihan RS nunjukin angka, empat juta sekian, ditambahin yang lain jadi lima juta lebih dikit buat beli pecel lele.

Dan itu Cuma untuk dua hari ....

Oh god, What should i do now?



Bersambung....