Kamis, 03 Desember 2020

"D"

Saat menulis ini aku bingung sekali.

Tentang perasaan ini.

Siapa yang mau ku salahkan?

atau

Apa yang bisa disalahkan?

atau

Kenapa bisa begini?

atau

Mau ku kemanakan luka ini?


Lama ku renungkan.

Pada malam-malam yang belakangan serasa lebih panjang dan seringnya mencekik.

Sampai akhirnya aku tau,

Mungkin memang tak ada yang harus disalahkan.

Ya sudah ikhlaskan.

Mudah sekali itu ku ucapkan, semoga bisa ku upayakan.

Toh ini bukan kali pertama dalam hidup aku tak diberi pilihan.

Atau setidaknya diberi kesempatan untuk didengarkan.


Ya sudah ikhlaskan.


Pada akhirnya, segala mimpi dan janji menguap, bertebangan.

Yang sampai ke langit akan tercampur dalam hujan jatuh kebumi lalu masuk ke selokan.

Yang buruk-buruk lupakan.

Yang baik semoga jadi kenangan.

Memang begitukan kehidupan berjalan.


Setidaknya kita jadi tau


Aku tidak sehebat seperti katamu.

Dan

Kau juga tak sesabar itu.


Paling tidak ada yang berbahagia setelah ini, semoga itu kamu.


Ya sudah teruskan hidup.

Hiduplah sebaik-baiknya hidup, tersenyumlah.

Menangis biar aku saja.

Sabtu, 14 November 2020

00.40

Tangisan kesekian,
Masih sama.
Tanpa air mata.
Sesak.
Sesal.
Isi perutku seperti meronta ingin memuntahkan semuanya.
Jantungku membengkak ingin meledak.
Hatiku beku, membiru.

Aku ingin memaafkan diriku dulu.
Lalu kau.
Kalian.


Kamis, 20 Agustus 2020

Yeye

Aku ingat sekali dulu, hari setelah papa membelikanku sepeda, si kecil Fika belum lahir saat itu.

Kau selalu ingin ikut aku, ingin dibonceng katamu sambil merengek.

Ya sudah, jadilah itu kegiatan wajibku.

Setiap sore aku akan bersepeda mengitari halaman rumah dengan kau dibelakangku. Kau senang sekali waktu itu, Akupun.

Jangan jauh-jauh teriak mama dari dalam rumah.

Lalu, ada hari dimana kau dengan sok beraninya bersepeda sendiri, tak mau menunggu abangmu.

Lalu kau terjatuh, lututmu luka. Kau menangis lama, sampai maghrib. Aku marah saat itu, pada keberanianmu.

Pada ketiadaanku.

Lalu sampailah hari ini, puluhan tahun setelah hari itu. Aku menikahkanmu.

Adikku yang dulu selalu merengek untuk kubonceng, tak perlu merengek lagi.

Setelah hari ini.

Kau akan terus bersepeda tapi bukan aku lagi yang memboncengimu.

Ada dia, laki-laki yang kufikir paling beruntung di muka bumi saat mendapat kamu.

Ada dia, laki-laki yang ku percaya akan selalu memboncengmu menyusuri jalan kehidupan yang ku yakin akan panjang.

Ada dia, laki-laki yang kupercaya akan menjagamu agar tidak terjatuh lagi.

Dan jika ia lelah mengayuh, berhentilah sejenak, berikan ia minum.

Namun jika kelak diperjalanan kau terjatuh, menangislah sebentar, jangan lama-lama. 

Karena percayalah, kau tidak sendiri saat itu.

Disini, aku. Abangmu. 

Akan selalu melihatmu dari jauh, menghampirimu, Mengobati lukamu. Karena ada darahku di dagingmu.

Tia, Adikku.

Berbahagialah.

Trifad.

Tolong jaga dia, aku menyayanginya.




Senin, 06 Juli 2020

1/3 Malam

Manusia memang tak ada puasnya.
Dulu waktu saya gelisah
Saya cuma ingin tenang
Lalu saya diberi tenang
Tenang sekali.

Lalu hari ini saya ingin senang.
Tenang tak cukup ternyata.
Dulu saya fikir senang dan tenang itu sama.
Ternyata berbeda.

Manusia tak ada puasnya.
Atau cuma saya saja.

Rabu, 13 Mei 2020

....

Belakangan ini, hampir setiap malam saya kesulitan untuk tidur.
Ada hal yang begitu mengganggu fikiran.
Sesuatu yang membuat saya takut.
Sesuatu yang saya sadar itu berlebihan.
Bagaimana tidak,
Saya membayangkan planet uzur yang saya tinggali ini berguncang dengan hebatnya, bukan gempa tapi sesuatu yang lebih buruk dari itu.
Seperti lift rusak,
Jatuh ke sisi paling gelap di ruang hitam tanpa batas.
Setiap saya membayangkannya,
Kaki saya selalu dingin.
Kamar saya seperti bergoyang.
Dan saya mendengar ledakan yang begitu dahsyat yang kemudian memekakan gendang telinga saya.
Saya begitu takut.
Dan saat inipun,
Saya sedang merasakannya.

Selasa, 28 Januari 2020

Saya sedang mengemis

Sebelum ini saya tak pernah takut gagal.
Karena saya sudah terbiasa dengan itu.
Saya bersahabat dengan itu.
Bahkan saya menggelari diri saya sendiri sebagai manusia gagal paling berhasil.
Tapi kali ini saya begitu takut.
Takut sekali.
Saya takut sekali Tuhan.
Takut mengecewakan orang-orang yang percaya bahwa sayapun bisa berhasil.
Kali ini tuhan.
Jika boleh saya mengemis,
Saya ingin berhasil.
Kali ini tuhan.
Saya ingin berhasil.
Terima kasih tuhan sudah membaca ini.