Namanya Rahma.
Jangan
kau panggil Ma, karena ia tak suka.
Kecuali
mungkin kelak kau jadi suaminya, atau anak-anaknya.
Dia,
seperti perempuan kebanyakan.
Hanya
jauh lebih cantik,
Jauh
lebih mempesona. Setidaknya dimataku
Dan
lagi dia penyihir, menurutku.
Sihirnya
ada di mata, tepat di kedua bola matanya.
Didalamnya
ada samudera. Tataplah itu, dan sekalipun kau bisa berenang,
Kau akan tenggelam.
Aku telah membuktikannya.
Sorotnya
tajam kadang seperti sinis, dingin.
Lebih
lagi ia tak banyak bicara.
Silahkan
kau katakan ia sombong.
Tapi aku takkan setuju dengan itu.
Mata
itu, menurutku menyimpan banyak rahasia.
Beberapa
kisah yang ingin disimpan rapat-rapat.
Beberapa
luka yang tak ingin dibagi.
Beberapa
rindu yang mati.
Kali
pertama aku melihatnya adalah suatu sore.
Di
sebuah Caffe dengan satu orang lagi kawannya, yang kebetulan juga kawanku.
Pertemuan
yang direncanakan.
Hampir
dua jam. Tak banyak yang ku ingat saat itu.
Seperti
pertemuan biasa,
Kecuali
aku yang terus bingung harus seperti apa.
Sampai
saat kawanku atau kawannya tadi pergi ke Toilet
Empat
menit.
Disitulah
kami berdua berbicara.
Aku
bisa menatap matanya,
Mendengarkan
ia berbicara sedikit lebih banyak.
Hanya
dibagian itulah semuanya dapat kuingat dengan jelas
Suaranya,
tatapannya, cara dia berbicara, apa yang kami ceritakan
Dan
juga harapanku;
Tentang
waktu yang kuharap terhenti saat itu kecuali untuk kami berdua.
Jika
itu terlalu mustahil,
Kuharap
pintu Toilet terkunci saat itu, dengan tali dan lakban yang tiba-tiba mengikat dan membungkam yang ada
didalamnya.
Jika
itu terlalu kejam,
Buatlah
ia tertidur pulas
Berlebihan?
Saat
itu, kufikir,
jika Tuhan bisa menciptakan keajaiban seperti
yang ada dihadapanku sekarang.
Tak
sulit rasanya ia menciptakan keajaiban kecil semacam itu
"Tuhan,
aku hanya ingin lebih lama berbicara dengannya".
Setelah
sore itu,
Hidup
berjalan seperti biasa
Dengan dia yang terus ada dikepalaku.
Perasaan
aneh.
Semacam
aku yang begitu semangat bertanding,
tanpa harus ada sorakan dia disitu.
Atau
semacam lelah yang terobati,
tanpa harus ada dia yang menanyakan bagaimana
hariku,
mengelus rambutku, memijat
dan berujar bahwa aku hebat, semua akan
baik-baik saja, istirahatlah.
Atau
tentang kekhawatiran akan kehilangan sesuatu
yang nyatanya tak pernah kumiliki
Sederhananya,
Tentangnya
Adalah
penyemangat tak terlihat,
Penawar
letih,
Kekhawatiran
yang tak relevan,
Tempat membagi walau tak pernah berbagi,
Dan
sedikit kesenangan,
Dari
begitu banyaknya hal yang memuakkan di muka bumi ini.
Kau
tak setuju? Maaf, itu yang aku rasakan dan aku yakini.
Jika
kau meminta penjelasan tentang itu
Percayalah,
akupun mencari tau jawabannya
Buatku,
ini pun kali pertama
Cinta?
Dengan
pertemuan sesingkat itu. Jikapun kusebut begitu,
Siapa
yang akan percaya?
Lagipula,
cinta menurutku adalah sesuatu yang harus diuji
Oleh
waktu dan keadaan
Bukan
perkataan tapi perlakuan
Pun
aku belum ingin menyebutnya begitu.
Kufikir
satu pertemuan lagi akan mampu sedikit menjelaskan
Sekali
lagi, Setidaknya buatku
Nyatanya,
semua tak semudah itu
Dia
hilang.
Beberapa
kisah kadang memang harus disudahi bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Tapi aku tetap bersyukur
Pertemuan
singkat dan percakapan pendek sore itu
Memberikanku
banyak hal
Tentang
caraku melihat masa depan
Tentang
caraku menilai perempuan
Tentang
caraku berdamai dengan keinginan
dan
yang terbaik adalah,
Kenangan.
Jadi Rahma,
dimanapun kau saat ini
dan
apa yang akan terjadi dihidupmu setelah ini
Kuharap
adalah segala kebaikan dan kebahagiaan untukmu
Tanpa kurang suatu apapun
Karena
kau layak untuk itu.
Perbanyaklah
tersenyum apalagi tertawa.
Karena percayalah,
Kau lebih cantik saat itu
Dan
terimakasih sudah ada
Memberiku
perasaan yang seluarbiasa ini
Ya.
Kau memang sehebat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar