Minggu, 29 April 2018

Hey,.


 Namanya Rahma.
Jangan kau panggil Ma, karena ia tak suka.
Kecuali mungkin kelak kau jadi suaminya, atau anak-anaknya.
Dia, seperti perempuan kebanyakan.
Hanya jauh lebih cantik,
Jauh lebih mempesona. Setidaknya dimataku
Dan lagi dia penyihir, menurutku.
Sihirnya ada di mata, tepat di kedua bola matanya.
Didalamnya ada samudera. Tataplah itu, dan sekalipun kau bisa berenang,
 Kau akan tenggelam.
 Aku telah membuktikannya.
Sorotnya tajam kadang seperti sinis, dingin.
Lebih lagi ia tak banyak bicara.
Silahkan kau katakan ia sombong.
Tapi aku takkan setuju dengan itu.
Mata itu, menurutku menyimpan banyak rahasia.
Beberapa kisah yang ingin disimpan rapat-rapat.
Beberapa luka yang tak ingin dibagi.
Beberapa rindu yang mati.
Kali pertama aku melihatnya adalah suatu sore.
Di sebuah Caffe dengan satu orang lagi kawannya, yang kebetulan juga kawanku.
Pertemuan yang direncanakan.
Hampir dua jam. Tak banyak yang ku ingat saat itu.
Seperti pertemuan biasa,
Kecuali aku yang terus bingung harus seperti apa.
Sampai saat kawanku atau kawannya tadi pergi ke Toilet
Empat menit.
Disitulah kami berdua berbicara.
Aku bisa menatap matanya,
Mendengarkan ia berbicara sedikit lebih banyak.
Hanya dibagian itulah semuanya dapat kuingat dengan jelas
Suaranya, tatapannya, cara dia berbicara, apa yang kami ceritakan
Dan juga harapanku;
Tentang waktu yang kuharap terhenti saat itu kecuali untuk kami berdua.
Jika itu terlalu mustahil,
Kuharap pintu Toilet terkunci saat itu, dengan tali dan lakban yang  tiba-tiba mengikat dan membungkam yang ada didalamnya.
Jika itu terlalu kejam,
Buatlah ia tertidur pulas
Berlebihan?
Saat itu, kufikir,
 jika Tuhan bisa menciptakan keajaiban seperti yang ada dihadapanku sekarang.
Tak sulit rasanya ia menciptakan keajaiban kecil semacam itu
"Tuhan, aku hanya ingin lebih lama berbicara dengannya".
Setelah sore itu,
Hidup berjalan seperti biasa
Dengan dia yang terus ada dikepalaku.
Perasaan aneh.
Semacam aku yang begitu semangat bertanding,
 tanpa harus ada sorakan dia disitu.
Atau semacam lelah yang terobati,
 tanpa harus ada dia yang menanyakan bagaimana hariku,
 mengelus rambutku, memijat 
dan berujar bahwa aku hebat, semua akan baik-baik saja, istirahatlah.
Atau tentang kekhawatiran akan kehilangan sesuatu
 yang nyatanya tak pernah kumiliki
Sederhananya,
 Tentangnya
Adalah penyemangat tak terlihat,
Penawar letih,
Kekhawatiran yang tak relevan,
Tempat membagi walau tak pernah berbagi,
Dan sedikit kesenangan,
Dari begitu banyaknya hal yang memuakkan di muka bumi ini.
Kau tak setuju? Maaf, itu yang aku rasakan dan aku yakini.
Jika kau meminta penjelasan tentang itu
Percayalah, akupun mencari tau jawabannya
Buatku, ini pun kali pertama
Cinta?
Dengan pertemuan sesingkat itu. Jikapun kusebut begitu,
Siapa yang akan percaya?
Lagipula, cinta menurutku adalah sesuatu yang harus diuji
Oleh waktu dan keadaan
Bukan perkataan tapi perlakuan
Pun aku belum ingin menyebutnya begitu.
Kufikir satu pertemuan lagi akan mampu sedikit menjelaskan
Sekali lagi, Setidaknya buatku
Nyatanya, semua tak semudah itu
Dia hilang.
Beberapa kisah kadang memang harus disudahi bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Tapi aku tetap bersyukur
Pertemuan singkat dan percakapan pendek sore itu
Memberikanku banyak hal
Tentang caraku melihat masa depan
Tentang caraku menilai perempuan
Tentang caraku berdamai dengan keinginan
dan yang terbaik adalah,
 Kenangan.
Jadi Rahma, dimanapun kau saat ini
dan apa yang akan terjadi dihidupmu setelah ini
Kuharap adalah segala kebaikan dan kebahagiaan untukmu
 Tanpa kurang suatu apapun
Karena kau layak untuk itu.
Perbanyaklah tersenyum apalagi tertawa. 
Karena percayalah,
 Kau lebih cantik saat itu
Dan terimakasih sudah ada
Memberiku perasaan yang seluarbiasa ini
Ya. Kau memang sehebat itu.


Tidak ada komentar: