Kerap kali kau minta aku menulis tentangmu.
Susah, ku bilang.
Aku menulis hanya disaat patah.
Sedang kau penyembuh.
Tak sesuai dengan namamu.
Lara.
Nyatanya tak pernah sekalipun kau jadi lara bagiku.
Sering kukatakan dunia ini terlampau berisik, senyummu itu sunyi, aku tenang di situ.
Tawamu lain lagi,
Tawamu itu karnaval penghujung tahun.
Meriah.
Aku bahagia di situ.
Aku ingin bercerita sedikit tentang hari ini, tadi pagi aku membantu temanku yang baru sebulan lalu menikah pindahan rumah.
Rumahnya sederhana kalau tak ingin disebut kecil, berwarna perpaduan putih, coklat terang dan coklat gelap, masih tersisa sedikit tanah di halamannya, nanti disini akan kami bikin kolam kecil katanya.
Lalu cerita berlanjut tentang bagaimana mereka bertemu, sampai akhirnya menikah lalu memberanikan diri untuk mencicil sebuah rumah untuk keluarga kecil mereka.
Fikiranku tertuju padamu saat itu.
Membayangkan kelak kita akan seperti ini.
Menikah ternyata tak semenyeramkan itu fikirku.
Perasaanku bahagia sekali tadi.
Sampai ketika urusanku selesai lalu pulang.
Rasa itu masih ku bawa bersamaku.
Mungkin butuh waktu seumur hidup untuk mengenali seseorang, bahkan kabarnya itupun tak cukup.
Dulu menikah jadi sesuatu yang begitu menyeramkan untukku. Bagaimana tidak, aku harus membagi separuh kehidupanku kepada orang lain. Segala hal, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang baik sampai yang buruk, dari yang indah sampai yang paling hancur, dari yang manis sampai yang pahit, dari yang kasat sampai yang tidak. Semua hal. Dan aku terlalu tamak untuk itu.
Sampai aku ingat lagi hal-hal yang kita lalui setahun ini.
Kita tak pernah bertengkar sekalipun.
Untuk orang lain mungkin biasa.
Untukku yang tempramen dan egois tentunya ini prestasi.
Hubungan kita bukan tanpa masalah.
Tapi kau selalu yakin dan memberiku keyakinan bahwa kita bisa melewati semua ini.
masih melekat hebat dalam ingatanku saat kau katakan: "Sekalipun itu artinya tersesat, selagi bersamaku kau akan ikut".
Kata-kata itu akan selalu kuingat.
Bukan sebagai pembenaran untuk mengajakmu tersesat tapi lebih kepada kesadaran bahwasanya ada orang di sebelahku yang mempercayakan jalan hidupnya kepadaku. Aku harus hati-hati.
Aku harus lebih baik lagi.
Aku harus menjaga kami.
Lara,
Kamu jelas bukan jadi pertama yang pernah aku cintai.
Bahkan bisa saja bukan jadi yang terakhir meskipun aku sangat menginginkan itu.
Dan jika memang kehidupan kedua setelah kematian itu ada, jika itu tanpamu aku tak ingin dihidupkan lagi, cukuplah hidupku sekali ini saja.
Setahun sudah, ayo terus.
Jangan takut.
Kita kuat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar