Jum'at malam, 24 Juni 2012...
“Ntar laptop ini
dijual aja ya bu”..
Ungkapan itu yang pertama kali keluar dari mulutku, ya.. disebelahku
saat ini terbaring wanita tua dengan rambutnya yang memutih, dengan rasa lelah
yang terlihat jelas dari raut wajahnya, namun langsung terhapus dari senyum
tulusnya, senyum yang menyiratkan, ketegaran dan keyakinan, bahwa semua ini bisa kami lewati.
"Jangan pernah, itu berguna untuk skripsimu", masih dengan senyumnya.
Dia ibuku, wanita terhebat yang pernah ku kenal sangat hebat. Sampai untuk
membayangkan kelak aku akan mendapatkan istri setangguh beliau, aku tidak
berani. Dia terlalu hebat.
Dan dibalik dinding tempat kami sekarang. Oh ya, sekarang
kami berdua sedang berada dibalkon sebuah rumah sakit pemerintah ditempat
tinggalku, Pekanbaru. Jangan dulu Tanya kenapa kami ada disini, nanti aku
ceritakan. Oke, aku lanjutin kisah tentang seorang pria paling hebat, paling
tangguh, dan paling laki! yang pernah kukenal. Ya, dia yang kini terbaring lemah
di balik dinding itu.
Dia ayahku, yang sejak kecil aku memanggilnya “apa”...
Apa, seorang ayah yang gak banyak omong,yang Cuma ngelarang anaknya
sekali stelah itu membiarkannya, seorang ayah yang menekankan kepadaku dan anak
laki-lakinya yang lain, ”kalian
laki-laki, kalian udah gede, dilarang puluhan kali pun sia-sia, lakukan apa yang
kalian ingin lakukan, tapi ingat!, bertanggung jawablah akan hal itu.dan satu
yang kupesankan! jangan pernah sentuh narkoba!”. Sesederhana itu, ya
begitulah dia dan sampai hari ini, dia masih menunjukan padaku bagaimana
semestinya seorang laki-laki itu hidup .
Oke lanjut, tentang kenapa kami bertiga bisa sampai disini, ini
ceritanya….
Bentar,aku bakar rokok dulu…,
Tentang rokok, selain bisa bantu nemuin inspirasi, rokok
yang ku bakar sekarang juga ngebantu buat ngusir nyamuk. Percaya atau nggak, nyamuk
disini segede kura-kura.
Mmmm… sekitar 2
minggu yang lalu, atau tepatnya 7 hari sebelum lebaran, ayahku jatuh pas lagi
solat subuh dimesjid. Setelah diantar pulang oleh jemaah mesjid yang lain, dia
ditidurin dikamarku. Dan saat itu kami skeluarga berfikir, mungkin ayahku hanya
drop karena kelelahan dan berpuasa dikombinasiin dengan hipertensinya maka
jadilah seperti itu. Seperti biasa apa hanya diberikan obat dari dokter keluarga
(dibaca- seseorang yang kebetulan tau banyak soal kesehatan,memiliki izin praktek, dan membuka klinik tidak jauh dari
rumahku). Kami biasanya memanggilnya buk Evi. Sejak lama dia telah menjadi
langganan Keluarga kami, jika ada yang sakit. Alasannya sederhana, slain dekat,
kami semua kenal dengannya. Dan alasan utamanya adalah tarifnya yang
murah hehee..
Kembali ke ayahku,
Satu hari, dua hari, tiga hari,seminggu….
Keadaan apa gak nunjukin, kearah yang yang lebih baik. Dia masih
saja terbaring dikasur ku. Pucat, tubuhnya kadang panas, kadang bersimbah
keringat. Padahal semua jenis obat telah diminumnya, vitamin dariku, obat yang
katanya mujarab dari saudaraku yang datang dari jauh, hampir tidak memberikan
efek apapun. Gak ada yang tau sakit yang diderita apa, buk Evi sekalipun. Satu-satunya yang aku tau, ayahku sedang
tidak baik-baik saja saat itu. Ada yang salah dibadannya.
Kemudian kami berinisiatif untuk membawanya berobat kerumah
sakit. Dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, dia menolaknya. Kalian tau
kenapa kukatakan sudah diprediksi sebelumnya? karena dia laki-laki yang
memiliki penyakit aneh, penyakit yang gak mau ngakuin kalo dia lagi sakit, dia
bakal belagak kuat dan bilang dia gak apa-apa, dia anti rumah sakit. Kadang
terfikir olehku, dia takut jarum suntik, tapi aku sangsi jika karena itu, dia
pria kuat, pria yang tak takut apapun. hmmh ralat…dia takut pada ibuku .eja! oke
pa..sory..sory..,ralat lagi..bukan
takut, tapi sayang…hehee…,ya begitulah, seperti yang kukatakan sejak awal dia
pria hebat. Yang sangat menyayangi ibuku.
Namun dihari itu dia menyerah. Hari itu lebaran keempat,
tiba-tiba dia berkata pada ibuku “bawa
aku kerumah sakit”. Kami semua kaget skaligus senang. Kami masih
bertanya-tanya angin apa yang ngebuat tulang tengkorak kepalanya yang keras itu
menjadi tiba-tiba lunak. Namun aku tidak akan membuang-buang waktu untuk
mencari jawabannya. Karena dari dalam matanya,dan lenguhan lemah nafasnya…aku
tau…dia sudah sangat lelah…
Dengan menumpangi mobil sahabatku Irwan, kami membawanya ke
sebuah Rumah Sakit swasta tidak berapa jauh dari rumahku.sesampainya disana,aku
baru menyadari bahwa kami pergi berempat,
ayahku, ibuku, aku, dan irwan. Oke, gak ada masalah?. ini masalahnya, diantara
kami gak ada satupun yang tau gimana cara ngebawa orang ke rumah sakit, apa
mesti nunggu dulu?, atau langsung masuk ke kamar atau mesti ngisi kertas
administrasi dengan segala tet*k bengeknya?
Aku bingung kala itu, Bertanya pada ayahku? aku yakin kalo
hanya untuk mengambil kunci inggris dari mobil irwan dan mengelus-ngeluskannya
kekepalaku. Tenaganya masih ada…
Bertanya pada ibuku? hhmmmhh… Bukan pilihan yang bijak… Kecuali
kau ingin menanyakan harga cabe dan bawang yang fluktuatif paska lebaran ini….
Menelfon abangku? jauh disana telah terbayang, suara pria
berteriak dgn telfonnya.. "APA GUNANYA KAU KULIAH SELAMA INI?!!" Membayangkannya
saja, aku sudah menghela nafas panjang, Dan sampai hari ini aku masih mencari korelasi antara aku yang
kuliah dengan segala hal yang gak aku tahu, Namun selalu dituntut untuk tahu,
hanya karena aku mahasiswa.
Bertanya pada irwan? hmmmhh… Disebelah irwan ada gerobak
sate, percaya atau tidak. Lebih bijak rasanya jika bertanya pada gerobak itu.
Sempat bingung memikirkan, namun sejurus kemudian, ting!ya
dia orangnya!, kalo untuk urusan Rumah Sakit dia ahlinya. Jam opnamenya sudah
tinggi. Benar saja, dari ujung telfon disana dia ngarahin aku dengan
penuh kasih sayang, rasa sabar dan lebih banyak kedongkolan. Dikarenakan aku
yang kelewat bego. Benar saja setelah mengamalkan arahannya. Tak kurang 10 menit
ayahku telah terbaring manis ditempat tidur, dirawat dengan manja oleh
suster-suster muda yang ramah, ayahku sepertinya betah disini .
Dan pelajaran yg
dipetik hari itu adalah “Berobat kerumah sakit itu ternyata mudah ”.
Dan sehari kemudian aku dapat pelajaran tambahan .
”Berobat
kerumah sakit itu memang mudah, satu-satunya yang sulit adalah menyelesaikan
administrasinya ....“ percayalah….
Oooh iya, hampir lupa, sebelum kisah ini dilanjutin gak etis
rasanya kalo kita gak ngenalin, siapa sosok penyelamat diujung telfon
tadi. Dia Delia, seorang
sahabat. Dia mantanku. Mantan terbaik tepatnya . Mungkin hari itu aku bisa aja nanyain ke yang
lain. Tapi mungkin karena kebiasaan atau ngikutin kata hati kali ya, kebisaan
yang kalo aku lagi bingung atau ada masalah yang gak bisa aku selesein sendiri,
aku bakal tanyain kedia, selain itu juga karena, hanya dengan mendengarkan
suaranya saja, Aku bisa lebih tenang. Dan hari itu. Dia
nyusulin aku kesana, ngebantuin aku, dan sesekali mijitin kaki apa. Hebatnya lagi menjelang malam, sahabat-sahabatku
juga nyusulin aku ke Rumah sakit. hhhhh… dengan mereka semua sepertinya setelah ini
segalanya bakal lebih mudah untuk dilewatin. fikirku...
Sabtu malam, 25 juni 2012...
Masih ingat tentang pelajaran kita tadi soal, ”Berobat
kerumah sakit itu ternyata mudah” itu?
Ya, teruskan lanjutannya...
"Satu-satunya yang
sulit adalah menyelesaikan administrasinya“.
Pelajaran itu kupetik dua hari yang lalu. Sehari sebelum aku berada disini,dibalkon ini….
Ada yang yang belum kuceritakan pada hari pertama aku
dirumah sakit itu, hhhhh... Susah nyeritainnya.. Bentar, bakar rokok dulu.. hhmmm… Diagnosa
awal nunjukin ayahku kemungkinan mengidap kelainan darah, aku gak ngerti istilahnya
apa?, sedikit yang aku tangkap penyakit ini diakibatkan sel darah putih
penderitanya meningkat drastis. Sehingga mengganggu kestabilan tubuhnya.
Kami
sekeluarga shock mendengarnya. Karena selain gejala stroke yang pernah dialamin
apa tiga tahun yang lalu. Beliau belum pernah ngalamin sakit keras seperti saat
ini. Dan jujur saat itu aku teringat tetanggaku, kebetulan anaknya juga
ngalamin penyakit yang hampir sama seperti ini. Terbersit olehku pertanyaan,
”perasaan penyakit kaya gini bakal kliatan sejak kecil”?. Kenapa justru diumur yang setua ini ayahku mengidapnya?. Ingatanku kembali teringat ketetanggaku tadi, membayangkan gimana susahnya dia setiap bulan mesti cuci darah, capek dikit bakal sakit, butuh perawatan ekstra, jujur aku takut saat itu, dan saat ini aku sangat takut, karena tau, anak tetanggaku ada dua, kedua-duanya mengidap leukemia, dan salah satunya…..
”perasaan penyakit kaya gini bakal kliatan sejak kecil”?. Kenapa justru diumur yang setua ini ayahku mengidapnya?. Ingatanku kembali teringat ketetanggaku tadi, membayangkan gimana susahnya dia setiap bulan mesti cuci darah, capek dikit bakal sakit, butuh perawatan ekstra, jujur aku takut saat itu, dan saat ini aku sangat takut, karena tau, anak tetanggaku ada dua, kedua-duanya mengidap leukemia, dan salah satunya…..
Telah pergi…Beberapa tahun yang lalu…
Suka gak suka, penyakit ini bisa dibilang, dan memang harus
dibilang, penyakit ganas. Tapi ya sampai hari ini aku, ibuku, kami sekeluarga masih
positif thinking dan berdoa ama tuhan, kalo yang bersarang dibadan apa, cuma gejala, sukur-sukur salah diagnosa.
Amin...
Dua hari diopname di RS swasta itu, dengan perawatan yang
memang harus diakui memuaskan. Ngebuat kami tenang, kabar yang mengatakan
bahwa RS ini memiliki tarif mahal kami lupakan. Yang terpenting saat ini, adalah
kesehatan apa. Sejak ayahku dimasukin
kesana kami semua anak laki-lakinya sepakat bakal ngerahin semua tenaga buat
kesembuhan apa, dengan uang kami masing-masing, dan sedikit simpanan di BANK kami
yakin bisa nyeleseinnya…kami yakin…
Setidaknya sampai hari kedua ayahku disana, rasa ingin tahu
dan kekhawatiran karena aku pernah dirawat disana. Membuatku
memberanikan diri bertanya pada staff administrasi RS tersebut. Dan…..hhhh
ternyata kekhwatiranku terbukti. Hanya dalam dua hari… Sekali lagi hanya dalam
dua hari tagihan RS nunjukin angka, empat juta sekian, ditambahin yang lain jadi
lima juta lebih dikit buat beli pecel lele.
Dan itu Cuma untuk dua hari ....
Oh god, What should i do now?
Bersambung....
1 komentar:
Nice Hand dude!
Posting Komentar