Sabtu, 05 April 2014

Pa, Bangunlah...

Jum'at malam, 24 Juni 2012...


“Ntar laptop ini dijual aja ya bu”..
Ungkapan itu yang pertama kali keluar dari mulutku, ya.. disebelahku saat ini terbaring wanita tua dengan rambutnya yang memutih, dengan rasa lelah yang terlihat jelas dari raut wajahnya, namun langsung terhapus dari senyum tulusnya, senyum yang menyiratkan, ketegaran dan keyakinan, bahwa semua ini bisa kami lewati. 
"Jangan pernah, itu berguna untuk skripsimu", masih dengan senyumnya.


Dia ibuku, wanita terhebat yang  pernah ku kenal sangat hebat. Sampai untuk membayangkan kelak aku akan mendapatkan istri setangguh beliau, aku tidak berani. Dia terlalu hebat.


Dan dibalik dinding tempat kami sekarang. Oh ya, sekarang kami berdua sedang berada dibalkon sebuah rumah sakit pemerintah ditempat tinggalku, Pekanbaru. Jangan dulu Tanya kenapa kami ada disini, nanti aku ceritakan. Oke, aku lanjutin kisah tentang seorang pria paling hebat, paling tangguh, dan paling laki! yang pernah kukenal. Ya, dia yang kini terbaring lemah di balik dinding itu.

Dia ayahku, yang sejak kecil aku memanggilnya “apa”...


Apa, seorang ayah yang gak banyak omong,yang Cuma ngelarang anaknya sekali stelah itu membiarkannya, seorang ayah yang menekankan kepadaku dan anak laki-lakinya yang lain, ”kalian laki-laki, kalian udah gede, dilarang puluhan kali pun sia-sia, lakukan apa yang kalian ingin lakukan, tapi ingat!, bertanggung jawablah akan hal itu.dan satu yang kupesankan! jangan pernah sentuh narkoba!”. Sesederhana itu, ya begitulah dia dan sampai hari ini, dia masih menunjukan padaku bagaimana semestinya seorang laki-laki itu hidup .


Oke lanjut, tentang kenapa kami bertiga bisa sampai disini, ini ceritanya….

Bentar,aku bakar rokok dulu…,

Tentang rokok, selain bisa bantu nemuin inspirasi, rokok yang ku bakar sekarang juga ngebantu buat ngusir nyamuk. Percaya atau nggak, nyamuk disini segede kura-kura.


Mmmm… sekitar 2 minggu yang lalu, atau tepatnya 7 hari sebelum lebaran, ayahku jatuh pas lagi solat subuh dimesjid. Setelah diantar pulang oleh jemaah mesjid yang lain, dia ditidurin dikamarku. Dan saat itu kami skeluarga berfikir, mungkin ayahku hanya drop karena kelelahan dan berpuasa dikombinasiin dengan hipertensinya maka jadilah seperti itu. Seperti biasa apa hanya diberikan obat dari dokter keluarga (dibaca- seseorang yang kebetulan tau banyak soal kesehatan,memiliki izin  praktek, dan membuka klinik tidak jauh dari rumahku). Kami biasanya memanggilnya buk Evi. Sejak lama dia telah menjadi langganan Keluarga kami, jika ada yang sakit. Alasannya sederhana, slain dekat, kami semua kenal dengannya. Dan alasan utamanya adalah tarifnya yang murah hehee..


Kembali ke ayahku,

Satu hari, dua hari, tiga hari,seminggu….


Keadaan apa gak nunjukin, kearah yang yang lebih baik. Dia masih saja terbaring dikasur ku. Pucat, tubuhnya kadang panas, kadang bersimbah keringat. Padahal semua jenis obat telah diminumnya, vitamin dariku, obat yang katanya mujarab dari saudaraku yang datang dari jauh, hampir tidak memberikan efek apapun. Gak ada yang tau sakit yang diderita apa, buk Evi sekalipun. Satu-satunya yang aku tau, ayahku sedang tidak baik-baik saja saat itu. Ada yang salah dibadannya.


Kemudian kami berinisiatif untuk membawanya berobat kerumah sakit. Dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, dia menolaknya. Kalian tau kenapa kukatakan sudah diprediksi sebelumnya? karena dia laki-laki yang memiliki penyakit aneh, penyakit yang gak mau ngakuin kalo dia lagi sakit, dia bakal belagak kuat dan bilang dia gak apa-apa, dia anti rumah sakit. Kadang terfikir olehku, dia takut jarum suntik, tapi aku sangsi jika karena itu, dia pria kuat, pria yang tak takut apapun. hmmh ralat…dia takut pada ibuku .eja! oke pa..sory..sory..,ralat lagi..bukan takut, tapi sayang…hehee…,ya begitulah, seperti yang kukatakan sejak awal dia pria hebat. Yang sangat menyayangi ibuku.


Namun dihari itu dia menyerah. Hari itu lebaran keempat, tiba-tiba dia berkata pada ibuku “bawa aku kerumah sakit”. Kami semua kaget skaligus senang. Kami masih bertanya-tanya angin apa yang ngebuat tulang tengkorak kepalanya yang keras itu menjadi tiba-tiba lunak. Namun aku tidak akan membuang-buang waktu untuk mencari jawabannya. Karena dari dalam matanya,dan lenguhan lemah nafasnya…aku tau…dia sudah sangat lelah…


Dengan menumpangi mobil sahabatku Irwan, kami membawanya ke sebuah Rumah Sakit swasta tidak berapa jauh dari rumahku.sesampainya disana,aku baru menyadari bahwa  kami pergi berempat, ayahku, ibuku, aku, dan irwan. Oke, gak ada masalah?. ini masalahnya, diantara kami gak ada satupun yang tau gimana cara ngebawa orang ke rumah sakit, apa mesti nunggu dulu?, atau langsung masuk ke kamar atau mesti ngisi kertas administrasi dengan segala tet*k bengeknya?


Aku bingung kala itu, Bertanya pada ayahku? aku yakin kalo hanya untuk mengambil kunci inggris dari mobil irwan dan mengelus-ngeluskannya kekepalaku. Tenaganya masih ada…

Bertanya pada ibuku? hhmmmhh… Bukan pilihan yang bijak… Kecuali kau ingin menanyakan harga cabe dan bawang yang fluktuatif paska lebaran ini….

Menelfon abangku? jauh disana telah terbayang, suara pria berteriak dgn telfonnya.. "APA GUNANYA KAU KULIAH SELAMA INI?!!" Membayangkannya saja, aku sudah menghela nafas panjang, Dan sampai hari ini  aku masih mencari korelasi antara aku yang kuliah dengan segala hal yang gak aku tahu, Namun selalu dituntut untuk tahu, hanya karena aku mahasiswa.

Bertanya pada irwan? hmmmhh… Disebelah irwan ada gerobak sate, percaya atau tidak. Lebih bijak rasanya jika bertanya pada gerobak itu.


Sempat bingung memikirkan, namun sejurus kemudian, ting!ya dia orangnya!, kalo untuk urusan Rumah Sakit dia ahlinya. Jam opnamenya sudah tinggi. Benar saja, dari ujung telfon disana dia ngarahin aku dengan penuh kasih sayang, rasa sabar dan lebih banyak kedongkolan. Dikarenakan aku yang kelewat bego. Benar saja setelah mengamalkan arahannya. Tak kurang 10 menit ayahku telah terbaring manis ditempat tidur, dirawat dengan manja oleh suster-suster muda yang ramah, ayahku sepertinya betah disini .

Dan pelajaran yg dipetik hari itu adalah “Berobat kerumah sakit itu ternyata mudah ”.


Dan sehari kemudian aku dapat pelajaran tambahan .

”Berobat kerumah sakit itu memang mudah, satu-satunya yang sulit adalah menyelesaikan administrasinya ....“  percayalah….


Oooh iya, hampir lupa, sebelum kisah ini dilanjutin gak etis rasanya kalo kita gak ngenalin, siapa sosok penyelamat diujung telfon tadi. Dia Delia, seorang sahabat. Dia mantanku. Mantan terbaik tepatnya . Mungkin hari itu aku bisa aja nanyain ke yang lain. Tapi mungkin karena kebiasaan atau ngikutin kata hati kali ya, kebisaan yang kalo aku lagi bingung atau ada masalah yang gak bisa aku selesein sendiri, aku bakal tanyain kedia, selain itu juga karena, hanya dengan mendengarkan suaranya saja, Aku bisa lebih tenang. Dan hari itu. Dia nyusulin aku kesana, ngebantuin aku, dan sesekali mijitin kaki apa. Hebatnya lagi menjelang malam, sahabat-sahabatku juga nyusulin aku ke Rumah sakit. hhhhh… dengan mereka semua sepertinya setelah ini segalanya bakal lebih mudah untuk dilewatin. fikirku...

                               


Sabtu malam, 25 juni 2012...
                               

Masih ingat tentang pelajaran kita tadi soal, ”Berobat kerumah sakit itu ternyata mudah” itu? 

Ya, teruskan lanjutannya...

"Satu-satunya yang sulit adalah menyelesaikan administrasinya“.
  
Pelajaran itu kupetik dua hari yang lalu. Sehari sebelum aku berada disini,dibalkon ini….


Ada yang yang belum kuceritakan pada hari pertama aku dirumah sakit itu, hhhhh... Susah nyeritainnya.. Bentar, bakar rokok dulu.. hhmmm… Diagnosa awal nunjukin ayahku kemungkinan mengidap kelainan darah, aku gak ngerti istilahnya apa?, sedikit yang aku tangkap penyakit ini diakibatkan sel darah putih penderitanya meningkat drastis. Sehingga mengganggu kestabilan tubuhnya.

Kami sekeluarga shock mendengarnya. Karena selain gejala stroke yang pernah dialamin apa tiga tahun yang lalu. Beliau belum pernah ngalamin sakit keras seperti saat ini. Dan jujur saat itu aku teringat tetanggaku, kebetulan anaknya juga ngalamin penyakit yang hampir sama seperti ini. Terbersit olehku pertanyaan, 
”perasaan penyakit kaya gini bakal kliatan sejak kecil”?. Kenapa justru diumur yang setua ini ayahku mengidapnya?. Ingatanku kembali teringat ketetanggaku tadi, membayangkan gimana susahnya dia setiap bulan mesti cuci darah, capek dikit bakal sakit, butuh perawatan ekstra, jujur aku takut saat itu, dan saat ini aku sangat takut, karena tau, anak tetanggaku ada dua, kedua-duanya mengidap leukemia, dan salah satunya…..


Telah pergi…Beberapa tahun yang lalu…


Suka gak suka, penyakit ini bisa dibilang, dan memang harus dibilang, penyakit ganas. Tapi ya sampai hari ini aku, ibuku, kami sekeluarga masih positif thinking dan berdoa ama tuhan, kalo yang bersarang dibadan apa, cuma gejala, sukur-sukur salah diagnosa.  

Amin...


Dua hari diopname di RS swasta itu, dengan perawatan yang memang harus diakui memuaskan. Ngebuat kami tenang, kabar yang mengatakan bahwa RS ini memiliki tarif mahal kami lupakan. Yang terpenting saat ini, adalah kesehatan apa. Sejak ayahku dimasukin kesana kami semua anak laki-lakinya sepakat bakal ngerahin semua tenaga buat kesembuhan apa, dengan uang kami masing-masing, dan sedikit simpanan di BANK kami yakin bisa nyeleseinnya…kami yakin…


Setidaknya sampai hari kedua ayahku disana, rasa ingin tahu dan kekhawatiran karena aku pernah dirawat disana. Membuatku memberanikan diri bertanya pada staff administrasi RS tersebut. Dan…..hhhh ternyata kekhwatiranku terbukti. Hanya dalam dua hari… Sekali lagi hanya dalam dua hari tagihan RS nunjukin angka, empat juta sekian, ditambahin yang lain jadi lima juta lebih dikit buat beli pecel lele.

Dan itu Cuma untuk dua hari ....

Oh god, What should i do now?



Bersambung....










1 komentar:

andre mengatakan...

Nice Hand dude!