“Percayalah,
sampai kapanpun laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa bersahabat”…
Tiba-tiba,
Kata-kata itu kembali terngiang difikiran Virgo, dia ingat pertamakali
mendengarkan ungkapan itu hampir setahun lalu. Itu tengah malam, didepan warung
buk Jum. kata-kata itu diucapkan kang Asep saat si Amin cerita tentang rasa
sukanya kepada Ningsih, teman sekelasnya. Menjadi masalah karena Ningsih adalah teman Amin sejak TK.
Di lantai dua
gedung sekolahnya itu, Virgo mencoba mengingat , apalagi yang dikatakan oleh
kang Asep kala itu. Karena saat kang Asep bercerita dulu. Virgo tengah sibuk
meladeni buk Jum yang bercerita tentang, anak bungsunya si Kifli yang tidak
tinggal kelas tahun ini. Betapa bangganya dia.
“Hey! Buruan, Dinan udah mau tampil! Ayook!” Suara Popi memecahkan lamunan Virgo.
“Hah! Serius?!”
Tanpa menunggu
jawaban Popi, Virgo melompat dari tempat duduknya .
“Iya! Lagian apa enaknya sih disini? Betah amat duduk sendirian”
“Disini tenang, dari atas kita bisa ngeliat orang-orang”. Jawab Virgo pendek.
“Yok!” Sambungnya, Sambil menepuk pelan bahu
Popi.
Mereka berjalan menuruni anak tangga.
“Anak-anak mana?” Tanya Virgo
“Semua udah dilapangan, Cuma si Dido yang gak keliatan sejak tadi”.
“Dia gak tau Dinan tampil hari ini?”
“Kayaknya nggak”. Jawab Popi
Dilapangan, Semua
Siswa-siswi Tumpah Ruah. Ramai, Maklum ini pertengahan bulan Agustus, dan sudah
jadi even wajib di SMA Harapan Bangsa
, menjelang hari kemerdekaan, diadakan berbagai macam lomba, mulai dari Festival band, Fashion Show, Dance competition, Bazar, Lomba Mading dan perlombaan khas 17an lainnya. Murid-murid tentunya senang, bagaimana tidak, selama tiga hari kegiatan belajar mengajar
ditiadakan.
Suasana di
lapangan sekolah riuh rendah. Virgo menatap sekelilingnya ,seperti mencari
sesuatu..
“Popii,Igoo siniii! “ Teriak Eca, dari kejauhan.
Sambil terus melambaikan tangannya.
Virgo, melambailan tangannya. Popi setengah
berlari, mendatangi Eca, disitu juga
duduk Imel yang tengah asik bercanda dengan Adit.
Virgo berjalan
pelan, namun pandangannya tertuju ke kelas IIIA2.
Disitu ada Citra
yang sedang asik ngobrol dengan teman-temannya.
Pandangan mereka
sempat beradu, sampai kemudian Citra memalingkan wajahnya, lalu kembali tertawa
bersama teman-temannya.
Virgo menghela
nafas panjang. Kemudian berjalan pelan…
“Plak! Kembalian yang kemaren hehe”.
Kepala Virgo ditepuk seseorang dari belakang.
“Kampret!” Teriaknya. Sedetik kemudian Virgo dan Dido
sudah kejar-kejaran, Dido berlari kearah Eca, bersembunyi di balik badan
mungilnya. Eca kaget . Bungkusan Syomai
yang dipegangnya jatuh.
“DIDOOO! IGOOOOO!! GANTIIII!! “ Teriak Eca
dengan matanya yang langsung berkaca-kaca, Eca mewek.
Mereka berlima tertawa melihatnya.
Eca makin manyun.
“Eh, itu Fashion Show udah mulai!” Imel berdiri,
sambil nunjuk kearah panggung.
Tanpa aba-aba
mereka langsung lari ke arah panggung, Bersama siswa-siswi lainnya.
“Dari kelas IIIA4 Dinan dan Putriiii!”
Aba-aba Pipit, anak kelas I yang ternyata jago ngeMC.
Sorak sorai dan
tepuk tangan penonton menggema, “suit..suit..!
Putri ! Putri juaranya! Putri Ozawa ! Hidup Putri!” Teriakan para Siswa bersahut-sahutan. Iya, di
SMA Harapan Bangsa, putri dikenal sebagai cewek paling bohay. Dengan postur tinggi dan wajah oriental, wajar bila ia
dielu-elukan cowo sesekolahan. Termasuk Dido. Yang langsung menerobos kedepan
panggung.
Dari balik panggung, muncul Dinan dan Putri
diikuti peserta lainnya.
Penonton hening,
mereka kecewa…
Ternyata tema
tahun ini adalah pakaian muslim. Putri tampil dengan gamis lengkap dengan jilbabnya, yang sukses menutupi lekuk
tubuhnya.
Dan Dinan tampil
menggunakan pakaian model ulama jaman
dulu, lengkap dengan sorban merah putih yang melingkar dilehernya. Tidak
seperti Putri ,langkah Dinan gontai. Tatapannya kosong.
Selang beberapa
detik kemudian….
“WUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAK!!!!!!” Keheningan dipecahkan oleh tawa
Virgo dan Adit.
“HASALAMUALAIKUMMMM WAK HAJIIII !!!!” Teriak Adit sambil tangan kirinya merangkul Virgo, dan tangan kanannya
terus melambai ke panggung.
“WUAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!” Virgo dan Adit masih terus saja tertawa.
Imel, Popi, Eca mencoba menahan tawa mereka.
Dido yang
sebelumya tertunduk lesu didepan panggung, akhirnya sadar diatas panggung ada
Dinan.
Dia langsung
bergabung dengan Virgo dan Adit. Lengkap sudah penderitaan Dinan.
Dinan semakin
tertunduk, Namun ketiga sahabatnya itu tak berhenti tertawa.
“Udah dong!, kasian Dinan”, gerutu Popi.
“Ho’oh. Jahat ih”. Timpal imel, namun dengan wajah yang
memerah karena sejak tadi menahan tawanya. Ngeliat itu Popi malah tertawa.
“Emang
lucu sih ya mel? Hahaa”
“DINAN KEREN! CAKEP!!” Eca tiba-tiba teriak. Dua jempolnya
diangkatnya ke atas
Popi, Imel
tersenyum ngeliat Eca. lalu langsung merangkulnya.
“DINAN CAKEP! DINAN PUTRI JUARANYA! BANG DINAN KEREN EUY!” Bertiga mereka bersahut-sahutan.
Dinan, yang semula
tertunduk, mulai mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum.
Ngeliat itu ,
Virgo, Dido, Adit pun serentak mengikuti.
“Woi, kalian gak denger itu teriakan?!” Ujar Adit kepada penonton yang sejak tadi diam
melihat polah mereka. Kebanyakan anak kelas I dan II.
“Denger bang”. Jawab mereka.
“Ikutin dong!” Sergah Adit
“Ya, ya, ya ikutin-ikutin”.Tambah Dido,
sambil menepuk-nepuk pundak mereka.
Akhirnya, teriakan
DINAN! DINAN! DINAN! Berkumandang,
Senyum Dinan semakin lebar.
Virgo, Adit, Dan Didopun
tersenyum lebar dan mengacungkan jempol mereka kearah Dinan. Dinan mencibir.
Dan tak diduga,
Dinan dan Putri menjadi juara 2. Dinan kaget, Putri senengnya gak ketulungan,
langsung reflex meluk Dinan. Dinan sumringah.
***
Sorenya, begitu
acara selesai, mereka ngumpul di warung bakso langganan mereka, gak jauh dari
sekolah. Dinan yang traktir katanya.
“Dinan, kemana sih?” Tanya Dido, sambil nyomot tahu goreng
yang ada di meja.
“Katanya tadi, mau nemuin wali kelas bentar. Abis itu langsung nyusul kesini”. Sahut Imel
Nah,itu dia!
Dinan datang
dengan grasak-grusuk , masih dengan pakaiannya yang tadi.
“Lah, gak jadi nan, nemuin Buk Lastrinya?” Ujar Popi.
“Itu dia masalahnya Pop”. Dinan langsung
duduk disebelah Imel, “,Mbok es teh nya
satu ya”.
“Maksudnya?” Tanya Popi lagi.
“Gini
Pop, yang nyediain baju ama dandanin aku kan
buk Lastri, Jadinya bajunya aku, aku titipin kedia. Eh, Tadi pas aku mau ganti baju lagi. Taunya
dia udah pulang”.
“Kebayang gak, aku mesti pulang pake pakaian kaya begini?. Mana gerah
lagi”. gerutu Dinan, sambil mengelap keringatnya dengan
sorban.
Virgo dan Dido yang
sejak tadi asik membaca Majalah Bola, ngikik , mendengar gerutuan Dinan.
Dinan cuek.
“Gak apa-apa kali nan, yang pentingkan juara . Hehee”. Popi senyum coba menenangkan
“Bener juga sih.Eh, Eca mana Pop? Udah dijemput ya?”
“Ho’oh, ada kali sejaman yang lalu, dijemput papanya”. Potong Imel
“Si bontot mah, semboyannya pantang pulang sebelum maghrib” . Celutuk Adit
“Haha.. bener “, sahut Popi
“Wiiiiih… Anak lanange sopo iki? guanteng tenan” . Sambar mbok Darsih, sambil menaruh pesanan ke meja mereka.
Dinan senyum kecut.
“Ah., mbok ngenyek ih”
“Nggak kok, emang gantenge tenanan”. Jawab mbok Darsih yakin.
Virgo dan Dido
yang sejak tadi duduk agak jauh dari tempat Dinan, langsung mendekat.
“Mbok,
ini tulang nya udah banyakan? Laper lo”. Virgo memelas
“Udah go, nanti kalo kurang, ambil sendiri”. Sahut mbok, lembut
“Asik!”
Virgo duduk
didepan Popi. Langsung masukin saos, kecap, dan cabe ke mangkok baksonya.
“Banyak amat go cabenya, tar usus buntu, baru tau rasa”. Celutuk Popi
“Elah Pop, gak bakalan deh. Paling top juga mencret”. Balas Virgo
“Virgo, stop!” Sergah Imel, sambil mengarahkan
telunjuk ke bibirnya.
“Hehehe.. Iya, eh nan tolong kerupuk”.
Pinta Virgo
Dinan tak bergeming.
Terus saja melahap baksonya.
Imel , menggeser
tempat kerupuk didepannya , kearah Virgo.
“Tuh kan Do, Kau sih. Becanda nya kelewatan, marahkan wak Haji”. Ujar Virgo
“Lah kok aku?, yang duluan ngetawain kan kau ama Adit”. Bela Dido sambil menarik kuat mie kedalam mulutnya.
“Nah, berarti Adit yang salah”. Timpal Virgo
lagi, sambil nunjuk Adit yang sejak tadi tenang menikmati mie pangsitnya.
“Kapan sih Virgo salah?” . Sindir Adit
sambil ngelirik kearah Dinan, Imel, dan Popi.
“Hihihi”. Virgo nyengir.
“Tapi beneran, keren lo tadi Nan, serius”. Popi menatap sekelilingnya, meminta persetujuan.
Imel, Adit, Dido
ngangguk.
“Keren Nan!”, sahut Imel sembari nyeruput es teh
nya.
“Hohem..Hohemm..Hohemm..” Virgo
ngangguk-ngangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Abisin dulu, itu yang dimulut”. Sergah Popi
“Bukan gitu Pop, diketawain kalian mah udah biasa, tapi tau nggak kenapa
aku yang kepilih jadi Model kaya tadi?” Tambah Dinan
“Uhuk!” Virgo tersedak. Langsung menenggak
habis es teh nya.” Mbok es teh nya satu
lagi ya”. Pintanya.
Lalu Dinan bercerita, bagaimana 5 hari yang
lalu, buk Lastri ngadain rapat kelas, buat nentuin siapa-siapa aja yang jadi
perwakilan kelas buat ikutan lomba. Untuk lomba fashion Show, buat yang
perempuan udah kepilih Putri. Nah, yang buat cowonya belum ada yang berani
ngajuin diri. Tiba-tiba Virgo, ngangkat tangannya. Cowo-cowo satu kelas lega.
Ketua kelas berani ngajuin diri, fikir mereka
“Ya, Virgo?” Tanya buk Lastri
Virgo berdiri,
lalu menghela nafas. Kelas hening…
“Buk, sebelum rapat ini dimulai, kami tadi sebenarnya udah bikin rapat
kecil-kecilan, dan kami semua bersepakat, menunjuk Dinan sebagai model cowonya
buk. Mengingat sebelumnya, Dinan emang pernah jadi model buk, malah pas kemaren ada lomba di kelurahan,
dia juaranya buk. Ya kan, ya an?” Virgo
mengangguk-anggukan kepalanya, melirik seisi kelas, untuk mengiyakan
perkatannya. Dinan yang sejak
tadi asik tidur dibangkunya, shock. Lalu narik-narik baju Virgo.
“YA BUK! BENAR BUK! DINAN MAH UDAH PRO BUK! DINAN AJA BUK! “ Serempak cowo-cowo satu kelas berteriak riuh rendah. Kelas heboh
“Sudah tenang! “ Teriak buk Lastri, sambil memukul
pelan tangannya kemeja.
“Benar Dinan?” Tambahnya lagi
“Nggak buk! Bohong, Saya gak pernah…”
Sebelum Dinan
meneruskan perkataannya, Virgo langsung memotong.
“Dinan, memang suka merendah buk. Dia kuatir dikira sombong”. Sambil melirik dan mengelus pundak Dinan.
“Oke, jadi udah diputuskan perwakilan kelas kita buat fashion show,
Putri dan Dinan. Dinan, Putri, nanti pas jam istirahat temui ibuk ya”. perintah buk Lastri sambil mencatat sesuatu dibukunya.
Cowo-cowo satu
kelas berteriak kegirangan, mereka selamat…
Dinan pasrah,
Virgo langsung kabur keluar kelas.
“Hahahaaa..” Imel, Dido dan Adit tertawa mendengar
cerita Dinan, Popi geleng-geleng sambil tersenyum ngeliat Virgo.
Dinan, meneruskan
makannya.
“Hih!, udah ah, pamali tau, marah-marah dimeja makan. Lagian kan dapat
juara, dipeluk Putri pula, kan enak?, coba kemaren kalo nolak? Mungkin sekarang
kita gak disini. Ya kan?”. Ujar Virgo ngebela diri, sementara
garpunya udah nancap di baksonya Popi.
“Pop, cewek gak boleh makan bakso banyak-banyak lo, tar susah dapat
jodoh”. Sambil memasukan bakso tadi kemulutnya.
“Apa hubungannya?!” Sergah Popi.
Dinan tersenyum melihat ulah sahabat baiknya
itu.
***
Senja sudah menghinggapi langit Kota sore itu,
Sayup-sayup terdengar kumandang adzan maghrib. Lampu-lampu jalanpun sudah
menyala, berlomba-lomba dengan cahaya matahari yang perlahan tenggelam .
Mereka kini
tinggal berlima, Dido udah pergi. Katanya ada janji dengan Ranti anak kelas 2 yang tadi kenalan
dengannya, di sekolah.
“Bentar ya”, ujar Dinan. Lalu dia pergi
Semua tau, dia
pergi ke mesjid. Karena selain Eca, diantara mereka, Dinan yang paling rajin
Sholat.
“Trus kita kemana nih?” Tanya Imel.
“Tau”. Jawab Popi
Virgo hanya diam,
dan terus berjalan kearah sebuah warung yang masih tutup, kebetulan disitu ada
kursi.
Mereka semua
akhirnya duduk disitu.
“Eh, Dit temenin aku beli pulsa dong”. Pinta
Imel, Adit mengangguk lalu berjalan bersama Imel.
Virgo membakar
rokoknya. Popi membenarkan ikat rambutnya.
“Citra gimana go? Kalian udah baikan?” Tanya popi tiba-tiba.
“Hmmmm?” Virgo menaikan alisnya. Semacam
isyarat, meminta popi mengulangi pertanyaannya.
“Citraa.. . kata Dinan kalian berantem”. Ulang Popi
“Ooh, Iya sih, ada kali 3 hari. Tapi biarin deh, tar juga baik sendiri”. Jawab Virgo cuek, sambil menghisap rokoknya.
“Jangan kelewat dikerasin go. Citra anaknya baik lo, cewe mah Cuma minta
diperhatiin”. Popi menatap Virgo.
“Iya, tau”. Jawab Virgo pendek
“Emang berantem kenapa?” Tanya Popi lagi
“Yah, biasalah. Gak percayaan gitu. Padahal aku gak ngapa-ngapain’. Virgo ngebuang puntung rokoknya.
“Makanya, perhatian dong!. Cewe emang kaya gitu go. Kalo dia ngerasa
cowo nya gak perhatian, atau tiba-tiba berubah. Pasti deh bakal mikir
macem-macem”. Ujar Popi coba nasehatin Virgo.
“Iya, Tar diperhatiin, lagian aku gak pernah berubah kok”. Jawab Virgo seadanya, sambil ngambil Handphone di Sakunya. Lalu ngetik sesuatu.
“Berarti kau harus berubah Virgo!” Suara Popi meninggi, mungkin karena kesal
dengan jawaban Virgo yang seenaknya.
“Hih! Kenapa kau jadi kaya Citra gini sih?! Nyuruh-nyuruh orang berubah.
Ribet ya perempuan, bentar bilang jangan berubah, bentar nyuruh berubah.” Virgo menggerutu.
“Berubah jadi lebih baik bodoh!, lebih perhatian, lebih ngemanjain.” Popi noyor jidat Virgo pelan. Lebih…”
“ Hah ribet”, Potong Virgo
“Kau, sendiri gimana Pop? Masih mikirin si Hanoman?” Tanya Virgo, Sambil asik menendang-nendang kaleng cola dikakinya.
“Roni, go Roni. Namanya Roni.”
“Ah, terserah deh, namanya siapa”. Virgo masih asik
dengan mainan barunya.
Raut wajah Popi
berubah saat itu. Dia tiba-tiba tertunduk lesu. Virgo diam menatap Popi.
PRAK! Virgo
menendang keras kaleng cola nya tadi.
“GOOOOL!!” “ YEAAAAH!!” Virgo mengepalkan tangannya ke atas,
berlari-lari kecil mengelilingi Popi. dia girang.
Popi kaget, lalu
tersenyum melihat ulah Virgo.
“Tuh kan mulai lagi. Ada kali 6 bulan kau kaya begini. Mau sampai kapan?
Udah ah, bahas yang lain aja”. Virgo berdiri
dihadapan Popi. Popi hanya mengangguk pelan dan menatap Virgo.
Dinan datang, “Wih ngomong apaan ni?, serius Amit?”
“Ho’oh Seserius Rustam, Linda, Raden Bahtiar, Rukmini”. Sahut Virgo. menyebut silsilah keluarganya Dinan.
Loh kok banyak gitu go?, sampe segala kakek nenek dibawa-dibawa?!” Aku kan Cuma satu, tadi” Protes
Dinan.
“Hahahaa.” Popi, tertawa melihat dua sahabatnya yang
terus saja berdebat.
“Hei!
Liat kami bawa apaan?!” Teriak Imel, sambil menenteng bungkusan di
tangannya.
“Kemana sih? Kok lama amat?” Sambut Popi
“Ini si Adit, ngajakin singgah tadi ke Swalayan, mau jajan katanya”. Imel melirik Adit
“Wow makanan!”, serentak Virgo dan Dinan mengejar Imel
“Nih Pop”, Adit ngasih Popi ice cream
“Wih, thanks dit”. Popi tersenyum, seraya mengambil ice
cream dari tangan Adit. Adit balas senyum
Malam itu, mereka
menghabiskan waktu disitu. Bercanda, Nelfonin Eca yang gak boleh keluar malem,
curhat, main tebak-tebakan. Ahh.. Indahnya masa remaja.
***
Pukul 9 malam,
Virgo sampai dirumahnya. “Assalamualaikum
ya ahli kubur” teriaknya. Tanpa menunggu jawaban karena tau gak
bakal dijawab. ia Langsung masuk
kamar, kemudian keluar lagi dengan handuk yang menempel di bahunya.
“Igo udah makan? “Tanya ibu nya
“Iya bu, Igo mandi dulu”. Dia langsung
menuju kekamar mandi
15 menit kemudian,
dia udah keluar lagi.
Dengan handuk yang masih terpasang di
pinggangnya, Igo ngebuka tudung saji.
Sejurus kemudian tempe goreng udah ada dimulutnya.
“Igooo, makan yang bener”. teriak ibunya
lembut.
Virgo nyengir,
lalu mencubit pipi ibunya ,terus masuk kamar.
5 menit kemudian,
Virgo udah cakep, dengan kaos dan celana pendek favoritnya, ia langsung
bergegas keluar rumah. “Bu, Igo pergi
dulu, ke rentalnya mas Anto,
Assalamualaikum!” teriak Virgo dari luar
“Igo gak jadi makan?”, balas ibunya,
sambil berdiri dari depan tv, menghampiri anaknya.
“Ntar aja, Igo udah ada janji ama mas Anto, Biasa, bisnis. Hehehee” , Virgo tersenyum menaik-turunkan alisnya.
“Heleh, Bisnis terus. Bisnis gak jelas”. Ejek ibunya
“Haha..” Virgo tertawa lalu ngeloyor pergi.
“Walaikumsalam”, jawab ibunya pelan
Gak berapa lama, Virgo
udah di rental PS nya mas Anto, mas Anto terlihat gusar, “kemana aja sih go? Udah sejak tadi lo ditungguin.Tuh liat”. sambil
melirik kearah dua orang berbadan tegap yang tengah asik main PS.
“Oh”, gumam Virgo
“Kaya biasa? “ Sambungnya lagi
“Gak. Kali ini agak gede. Cepek”. Jawab mas Anto
Virgo ngangguk,
dan kembali ngelirik calon lawannya. ”
ayooo deh!”. ujarnya mantap
Satu setengah jam
kemudian, kedua orang berbadan tersebut pulang dengan wajah muram.
Mas Anto,
menghitung lagi jumlah duit ditangannya. Virgo membakar rokoknya.
“Empat ratus, lima Ratus. Hihi lumayan go”. Sambil mengibaskan duit ke wajahnya.
“Nih go, buat kamu”. Sambil nyerahin dua lembar duit
seratusan ke Virgo.
“Widih. Gak kebanyakan mas?” Virgo menatap mas Anto.
“Udah go, ambil aja. Sekali-kali ini. Hehee.. Thanks yak!” Sambil mengedipkan sebelah matanya dan masukin duit kekantong celananya
Virgo.
Virgo tersenyum
lebar, “sama-sama bos! Ane Balik dulu”.
Virgo berlalu
“Lumayan”, Virgo
bicara dalam hati.
Sudah hampir 2
tahun ini, Virgo bekerja sambilan di Rental PS nya mas Anto, kalo lagi libur
atau gak sekolah, dia ngebantuin mas Anto ngejaga rental PSnya. Kalau lagi ada
yang nantangin buat main Taruhan, mas Anto dengan senang hati menerimanya. Dia
bakal nyuruh Virgo untuk jadi Joki, jadi Virgo yang main, mas Anto yang
nyediain duit taruhannya. Memang kebanyakan menang , Cuma bukan berarti mereka
gak pernah kalah. Hanya, Mereka punya cara jitu untuk mengantisipasi kalo-kalo mereka kalah. Yang pertama, Virgo
tau kombinasi tombol yang bisa ngebuat permainan terhenti atau error. Jadinya pertandingan mesti
diulang. Namun cara ini jarang dipakai Virgo, karena selain rumit, juga kuatir
ketahuan. Tapi, ada cara yang paling mudah dan gak bakal ketauan, Itu mereka
pakai sebulan lalu. Saat dirasa udah kalah banyak, mas Anto bakal sms istrinya
mbak Sri untuk matiin kontak listrik dari rumah. Rumahnya pas dibelakang rental
PS. Dan setelah mati, biasanya mas Anto bakal belagak marahin anak nya si Ajen,
yang tadi nyalain radio.
“Ajen! Kan udah ayah bilang, radio itu make daya gede! Matikan jadinya
semua!” mas Anto pasang belagak galak.
Ajen Cuma diem, soalnya saban hari dia
ngidupin radio, Listrik gak pernah padam.
Dan begitulah,
setelah lawannya pergi. Biasanya mas Anto dan Virgo bakal ketawa ngakak.
“Jahat ya go ya?” Sambil ngelus kepala anak
kesayangannya si Ajen.
“Gak apa-apa mas. Lagian mereka mah berisik. Yang main satu, suporternya
rame. Bikin emosi mas. Jadinya kan gak konsen”. Ujar Virgo beralasan
“Hahaa iya go! Bener!”
Kembali ke Virgo
tadi, Dia berencana ke warung buk Jum, mau nraktir kang Asep, dan kumpul ama
temen-temennya disitu. Virgo ngeliat jam ditangannya. Jam 11 fikirnya, dia
termenung sebentar seperti menimbang-nimbang sesuatu.
Virgo ternyata
langsung pulang kerumah, Dia teringat kata-kata Popi tadi. Begitu masuk kamar,
dia ngambil Handphone yang sejak tadi
di cas. Menekan beberapa tombol,
dan…
Panggilan pertama,
telfonnya gak diangkat.
Virgo mencoba
sekali lagi. Namun belum juga diangkat.
Saat Virgo mau
mutusin panggilannya.
“Ya,
Halo” . Terdengar suara perempuan dari ujung telfon. Suaranya bindeng, kaya
orang yang lagi pilek.
“Halo. Kamu apa kabar?” Tanya Virgo pelan
“Baik”.kemudian terdengar helaan nafas yang
panjang.
“Ada apa, go?” Suara Citra agak tertahan
Giliran Virgo yang
menghela nafas.
“Gak ada. Kangen.”
Jawab Virgo
“Oohh..” gumam Citra, tak tertarik
Setelah itu,
mereka berdua hanya membisu, Hingga 15 detik kemudian…
“Udah ngambeknya? Atau pengen terus kaya begini?” Virgo memulai pembicaraan.
“Kenapa Tanya aku?! Tanyain ke diri kamu?! Tiga hari ini kamu kemana
aja?! Sadar gak sih kamu tuh jahat?! “ Suara Citra
meninggi, air matanya jatuh.
“Ssstt.. Jangan gede-gede buk suaranya. Tar kedengeran mama kamu, tarik
nafas dulu.coba , satu..hhh dua…hhhh..”
Citra refleks
mengikuti arahan Virgo. Walaupun dia pengen nolak. Karena gengsi dong, kan lagi berantem, Masak
nurut. Namun Citra sadar, dengan ngelakuin itu, dan mendengar suara Virgo, Memang
menenangkan hatinya.
“Pengen nangis dulu, apa pengen bicara dulu”? bicara dulu aja
ya,nangisnya besok aja. Kan libur, jadi bisa puas nangisnya”, tar aku temenin
deh”. Tabiat bawaan lahir Virgo. Nanya, untuk kemudian di jawab sendiri, sampai orang yang ditanya, gak bisa ngejawab apa-apa. Ibunya sering protes tentang itu.
Setelah itu,
hampir 20 menit nelfon. Virgo udah senyum-senyum sendiri, sesekali tertawa
kecil.
Sekali lagi...,
sepertinya ia berhasil meluluhkan hati Citra. Perempuan yang sudah dipacarinya
lebih dari setahun ini.
Setelah selesai
nelfon . Virgo menarik nafas lega, Lalu membakar rokoknya, dan menuliskan
sesuatu di binder keramatnya. Entah
apa..
Beberapa kilometer
dari tempat Virgo sekarang, Popi. Tengah menangis terisak-isak , karena sejam
lalu sepupunya Dinda, nelfon. Ngeliat Roni lagi gandengan tangan ama cewe.
Mesra. Popi kecewa…
Dan, disaat yang
sama. Diatas kasur empuknya. Citra, Tengah menatap dalam-dalam foto Virgo, Foto
yang diambil Vivi sahabatnya. Saat gak sengaja ngeliat Citra lagi ngejewer
kuping Virgo. Virgo tampak seperti bocah yang lagi dimarahin ibunya, saat itu.
Mukanya memelas. Citra tertawa setiap kali mengingatnya.
Air matanya
kembali jatuh. Namun setelah itu, dia tersenyum.
Virgo, Aku
mencintaimu…
Bersambung….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar