Senin, 06 Agustus 2018

Mimpi


Tadi aku bermimpi, kira-kira seperti ini ;

Namanya Dwi, itu yang kuingat selain parasnya, hidungnya mancung, tidak terlalu tinggi jika tak ingin menyebut dialah yang paling pendek di antara teman-temannya dulu. Juga paling imut.
Pendiam namun senyumnya menggemaskan. Cukup untuk menjadi alasan seorang anak manusia untuk pergi ke sekolah dulu.

Pertama kali aku melihatnya di kelas 2, kelas kami dipisahkan oleh satu kelas lainnya. Katakanlah ruangan kelasku adalah A maka kelasnya adalah C, di lantai 2. Jika ingin turun kebawah harus melewati kelas C dulu karena tangga ada disebelahnya. Kecuali kau ingin menghemat waktu dan cukup berani untuk langsung melompat kebawah.

Aku tak pernah melihatnya  di kelas 1 dulu, entah karena ia memang anak baru, atau memang aku yang tak terlalu memperhatikan.

SMA tak kan lengkap tanpa berpacaran, kata sebagian orang. Sebagian lainnya sibuk bermain, menjadi suporter bola militan atau berkelahi. Berpacaran akan melemahkanmu, kebebasan adalah harga mati! Pemikiran bodoh. Ya, aku bodoh.

Saat itu, Sekolahku adalah sekolah favorit. Sekolah anak pejabat, SMAnya anak gaul lagi tajir, isinya anak-anak orang berduit. Setidaknya, begitu anak SMA lain melabelinya. Disitulah aku, bukan anak pejabat, bukan anak orang kaya, apalagi anak gaul (sampai hari ini aku masih tidak faham definisi anak gaul, entah itu manusia yang bergaul dengan semua orang di semua kalangan atau anak-anak dengan pakaian dan sepatu mahal, gadged terbaru, mobil modifikasi yang menurut kepercayaan ia dan gerombolannya akan membuat mereka menyandang prediket anak gaul)

SMA memang masa-masa paling indah, hidup sangat mudah saat itu. Bermain!

Tentang perempuan, tak banyak yg bisa kuingat. Beberapa yang ku tau, karena begitu seringnya namanya disebut saat para siswa laki-laki berkumpul. “si ini cantik”, “idola”, “si itu nafsunya gede”, “si anu dadanya besar”, “si itu pantatnya seksi”, “si ini sudah tidur dengan si anu”, “si itu doyan dugem”.

Aku? Lebih suka menceritakan sepak bola, Totti dan Roma adalah yang terhebat,  lebih hebat dari Juventus, AC Milan, Inter milan. Bahkan dari MU, Real Madrid dan Barcelona. Kau tak sepakat? Mari berdebat, energiku begitu banyak saat itu. Hahaha. Hanya tentang klub lokal daerah kami, kami akan bersepakat, dukung total! Mari bolos! Kita ke Stadion!

Dan tentunya, sesekali memperhatikan dada dan pantat yang diceritakan tadi.

Kembali ke Dwi, setelah terbangun dan menulis ini ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk mencari tau, seperti apa dia hari ini.
sehatkah?
bertambah tinggikah?
cantik sudah pasti.
sudah menikahkah? 

Baik-baik sajakah?..

Zaman telah semakin maju, internet akan selalu membantu. Tinggal ketik nama lengkap, entah itu di Instagram, Twitter, atau Facebook pasti ketemu. Kecuali ia memilih hidup seperti di zaman batu. Mustahil. atau menggunakan nama lain dibelakang namanya, entah ditambahkan embel-embel nama artis Korea atau hanya Cephy cElaluu yang bekerja di PT. Mencari cinta sejati. Itu lebih mustahil lagi. 

Dwi, dulu kita pernah dekat (ralat) dulu aku pernah menyukaimu, sampai membuat aku bangun pagi dan segera berangkat ke sekolah, hampir tiap jam aku akan izin keluar kelas entah dengan berbagai urusan.

Kencingku pun tak sebanyak itu.

Tapi hanya dengan begitu, aku bisa terus melihatnya, saat melewati pintu kelasnya, ia dengan bandonya, dengan ikat rambutnya, kadang dengan poninya.

Satu hari kulihat ia sedang sibuk menulis.

Kadang kalau aku sedang beruntung, ia akan melihatku, dan tersenyum. Ah, senyum itu.

Kami pernah sms-an, ia mungkin tau aku menyukainya.
Tapi kenapa semuanya tiba-tiba hilang? Aku lupa.
Sekarang aku coba mengingat-ingat lagi semuanya, tapi aku tak mendapat petunjuk sedikitpun.
Yang ku ingat malah teman-temanku, sepakbola, guru-guru (guru BP terutama).

Bahkan aku lupa nama belakangmu, dan sekarang mulai ragu apakah namamu Dwi atau Dewi. Yang kuingat adalah wi. Atau i . dan nama kebule-bulean di belakangnya. Ingatan macam apa itu!

saat aku mencoba lebih keras untuk mengingat-ingat, yang teringat justru dada dan pantat dalam balutan putih abu-abu si ini itu si anu. ingatan bangsat.

Kalau aku yang menyukainya saja bisa melupakan itu. Apalagi dia.

maaf, yang sangat kuingat hanya senyum itu.

Kembali ke mimpi tadi;
Aku sedang berada di sebuah gedung (seperti hotel) dengan teman-temanku (yang juga tak ku kenal), berpakaian batik (mungkin urusan pekerjaan) lalu kami bertemu (Seperti di depan meja resepsionis) lalu ia tiba-tiba memelukku. dengan mata yang terlihat seperti ingin menangis.
kami berpelukan. Dengan pakaian yang kufikir tidak tepat ia gunakan disitu.
Aku menanyakan kabarnya (masih berpelukan)
Sampai di pertanyaan, yang setelah ia jawab aku langsung terjaga dari tidurku.

Kau sudah menikah?

Dua kali, jawabnya.





Tidak ada komentar: