Kau pernah meramalku.
Tidak, aku tidak sedang menceritakan Dilan, ramalanmu tak sebaik itu dan hal itu jauh sebelum novel dengan sosok fenomenal itu ada.
Kau meramalku, dulu jauh hari sebelum hari menjadi semakin buruk seperti sekarang.
Tidak tentang kita yang akan bertemu di kantin.
Tidak tentang kita yang akan bersama-sama.
Kau meramalku yang sayangnya tidak kau utarakan kepadaku.
Justru kepada orang lain, yang mungkin mengamini itu.
Lalu menyampaikan kepadaku.
Peramal aneh.
Maju kedepan, bertahun-tahun setelah itu.
Aku mengingat lagi apa-apa saja ramalanmu
Tentang aku yang tak akan pernah bisa meyakinkanmu
Tentang masa depanku yang tak terlihat di matamu
Tentang isi kepalaku yang salah yang akan membenamkanku dalam lubang yang kuciptakan sendiri
Tentang kau yang akan meninggalkanku
Tentang kita yang tak akan bersama lagi
Melihat diriku sekarang
Ku kira ramalanmu benar.
Terima kasih.
Setelah semua ini, aku tiba-tiba ingin sekali menjadi peramal seperti dirimu.
Sama sepertimu,aku bukan cenayang.
Hal-hal yang aku ramalkan berdasarkan kebiasaan dan menerka isi kepalamu.
Lalu intuisiku.
Aku berharap ramalanku salah.Karena kufikir ini kelewat buruk buatmu.
Baik kita langsung saja;
Ramalanku adalah, Kau akan segera menikah
Dengan orang yang kau fikir baik buatmu, setidaknya jauh lebih baik dariku.
Semua berjalan baik di awal, kalian bahagia.
Dengan kau yang telah berubah
Dengan ia yang senantiasa memahamimu
Semua berjalan seperti apa yang kalian harapkan
Sampai setahun kemudian kalian menunjukkan wujud asli kalian
Hingga di batasnya. Kalian akan berpisah.
Untungnya setelah itu kau tak sendirian.
Ada bagian dari dirinya yang kelak akan bersamamu.
Maaf, aku tidak sedang menyumpahimu.
Atau sedang mendo'akan hal buruk menimpamu
Atau sedang sakit hati
Atau sedang frustasi ditinggal sendiri
Sama seperti kau dulu
Aku hanya sedang meramal.
Sampai bertemu, satu atau dua tahun lagi.
Dan semoga ramalanku salah.
Dan semoga ramalanku salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar