Aku suka hujan
Yang berhasil menahanmu,untuk lebih lama denganku. Orang yang
baru kau kenal, beberapa tahun lalu.
Aku suka hujan
Yang memaksa kita berteduh didepan ruko waktu zaman kuliah
dulu
Aku suka hujan
Yang membuat sore, kau, gitar dan secangkir kopi menjadi
sesuatu yang begitu khidmat saat itu
Aku suka hujan
Yang membuatmu menjadi begitu manja, memintaku membuatkanmu
puisi atau lagu. Saat kita berjauhan
Aku suka hujan
Yang begitu hebat menciptakan rindu, melembutkan kepala dan
hati kita yang kadang keras, untuk kemudian menyudahi pertengkaran.
Aku suka hujan
Yang membuatmu memeluk erat berkas lamaranku, saat memaksa untuk ikut
menemaniku, "takut nanti basah". Katamu.
Aku suka hujan
Yang membuatku berlari menghampirimu didepan pintu rumahmu,
dengan handuk dan baju kering dikedua tanganmu
Aku suka hujan
Yang membuat kita harus menepi dikedai kopi dengan banyak
bapak-bapak disitu, rencana batal, popcorn berganti kacang kulit, layar bioskop
berganti tv 14 inch, kau ingat dulu? Entah memang kebetulan, atau memang ingin mengejekku, tv itu menayangkan sinetron, tentang dua anak manusia yang sedang
kasmaran, sitampan yang kaya raya dan sicantik, mereka juga kehujanan, tapi tak
basah, mereka didalam mobil. Setelah itu kita beradu pandang, dan kau berkelakar, "Ah, dia bukan tipeku", sambil mengusap rambutku yang basah saat itu. Kau begitu ahli menghiburku.
Aku suka hujan
Yang membuatmu terpaksa memakai baju dan celana olahragaku,
lalu kemudian menirukan gayaku, aku dan ibuku tertawa melihat polahmu.
Aku suka hujan
Yang membuatmu membuatkan secangkir kopi tanpa kuminta, lalu
glendotan disebelahku yang sedang asik dengan tv. Seringnya kopimu terlalu manis, "aku
juga mau". Katamu. Kau tak suka menonton bola, kau hanya ingin disampingku saat
itu.
Aku suka hujan
Yang membuat punggung putihmu menjadi semakin indah, untuk
kemudian kuciumi, sampai kemudian kau terbangun lalu menggapai tanganku, untuk
memelukmu, "dingin" katamu. Lalu aku tak berangkat kerja hari itu.
Aku suka hujan
Yang membuatmu berlarian kesana kemari didalam rumah,
membawa ember, dan sesekali memberikan komando kepadaku bak Jendral, untuk
kemana lagi harus kuletakan gayung dan panci yang ada ditanganku. Kau tak
meminta rumah baru, Sekali lagi kau berkelakar, "olahraga itu perlu" lalu
kemudian menantangku memperbaiki genteng yang bocor kapanpun aku mau.
Aku suka hujan
Walau kelak itu yang akan membuatmu memarahiku, karena mengajak anakmu bermain
dibawahnya, berlarian dipekarangan rumah. "Nanti sakit", katamu.
Maaf sayang,
saat itu, kami tidak akan mendengarkanmu, kami justru akan menarikmu, bergabung
dengan kami, karena aku tau, kami tau. Kaupun menyukai itu.
Aku suka hujan
Dengan kau yang ada disampingku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar