Ibuku, manusia paling keren di dunia
Atau, Ibu terhebat dimuka bumi.
Kalian tidak setuju? Silahkan.
Toh dia ibuku
Ada banyak hal yang bisa kujabarkan tentang ibuku untuk
menggambarkan ke "kerenannya".
Akan sangat panjang jika kujabarkan disini, jadi
kutulis sebagian saja. Dari sebagian cerita itu pulalah aku tau, meskipun sekolahnya tidak kelewat
tinggi, tapi cara beliau melihat suatu masalah itu hebat, jenius, sangat amat
bijaksana, kalau tak mau disebut kelewat santai.
Jika setelah kuceritakan kalian masih menganggap itu hal
biasa. Ya silahkan, toh penilaianku atas ibu tak berubah.
Oke kita mulai,
Dulu, aku pernah pacaran, pacar pertama, sayangnya kita beda
agama. Saat ibu tau, aku khawatir ia akan menyuruhku putus, tapi ternyata tidak,
ia hanya mengatakan “ Jangan kelewat serius ya sayang, jadiin penyemangat
belajar”. Aku terharu sekaligus senang saat itu, bahkan saat pacarku itu datang
kerumah ibu menyambutnya dengan ramah.
Atau pernah lagi suatu kali, diawal masa kuliah. Mot, abangku
berlari menghampiri ibu, ternyata saat itu ia memegang hpku dan disitu ada foto
pipiku dicium perempuan. (Bukan yang pertama tadi, itu mah udah putus). Setelah melihat
itu ibu berteriak memanggilku, sekali lagi, kufikir ibu akan marah. Tapi
reaksinya ternyata jauh dari dugaanku, Iya cuma bertanya itu siapa, kujawab
pacarku, lalu ibu menciumku dan bilang “Mantaaap, anak ibu udah besar sekarang”,
lalu menyuruhku mengajak pacarku kerumah.
Setelah itu mereka menjadi seperti ibu dan anak, beberapa
kali malah ibuku nyuapin dia makan, dan marahin aku kalo kami abis berantem dan
dia cerita ke ibu.
Tentang perempuan, dimata ibuku, aku selalu salah. Haha
Dulu, sebelum mereka akrab pacarku pernah bertanya
ke aku, “Apa gak apa-apa aku main kesini hampir tiap hari? Dikamar pula? mendengar itu aku langsung bertanya ke ibu, yang kebetulan lagi nyapu
disamping kamar, ibu hanya menjawab santai “Haha, banyak hal didunia
ini yang mesti aku fikirin, soal kalian yang tiap hari pacaran, malah
gak kepikiran sama aku”.
Atau pernah suatu kali pacarku bangunin aku tidur, karena
janji mau jogging, bangun-bangun aku kaget, karena celananya kelewat pendek, trus aku bilang, “Kenapa gak telanjang sekalian?" Kebetulan ibu masuk saat itu,
trus aku tambahin lagi “Bu, liat deh celana ini anak”. Aku bilang begitu,
maksudnya agar ibu ngasih tau dia kalo celananya emang kelewat pendek. Eh, tau
nya ibu malah bilang “Lah apa salahnya? “Biasa tu anak gadis, ibu dulu malah
lebih lagi, lagian kan emang mau jogging bukan kepengajian”. Pacarku tertawa
girang saat itu.
Tentang pacaran dikamar? Mungkin beberapa dari kalian akan
menganggap itu aneh, atau gak ada aturan, kelewat bebas atau semacamnya, karena
beberapa kawanku pun berfikir begitu. Tentang ini, aku pernah mencuri dengar,
saat kawan ibuku menanyakan ke ibu kenapa ngebolehin perempuan masuk ke kamar
anak lelakinya, jawaban ibu saat itu sederhana “Emang takut apaan? Mesum? Hamilin
anak orang? Mereka udah gede, kalopun dilarang disini, kalo mereka mau mereka
bisa ngelakuin itu ditempat lain, lagian mereka pasti tau batasan, pun aku tau
anak aku gak punya banyak duit, aku juga gak bisa ngasi jajan banyak, kalo
punya pasti lebih milih pacaran diluar, dicaffe, dibioskop, kayak orang-orang.
Kalo mereka melenceng trus hamil, ya nikahin. Didaerah sini mah gak aneh kan?
Kayak kejadian langka aja.”
Mendengar jawaban itu, si ibu biang rumpi diam.
Entah karna setuju dengan ibuku, entah merasa tersindir dengan keadaan anaknya. Yang jelas dalam hati aku bertepuk tangan mendengar jawaban ibuku.
Tentang itu, benar. Kami tau batasan.
Yang jelas, pintu kamar wajib kebuka, Tentang batasan tadi
kuralat, kadang-kadang lupa. Hahaa
Pernah suatu kali saat kufikir rumah kosong, ya sudah,
seperti orang pacaran pada umumnya. Lagi asik-asiknya mesra-mesraan, ternyata
ibu ada didepan pintu. Kami shock dong, pasti bakal dimarahin nih, eee taunya
ibu bilang “ Haa?! Ngapain kalian? Eh, Biasa tu anak muda, yalah ibu mau pamit
arisan tadi. Hahaa” trus pergi.
Setelahnya pacarku memaksa untuk pulang saat itu juga, malu kan. Tapi kularang, tunggu ibu
dulu. Tenanglah. Dan benar dugaanku, saat ibu pulang ibu bertingkah seolah
kejadian tadi tak pernah ada, entah memang mendadak amnesia, atau hanya mau membantu
kami, terutama pacarku agar tidak malu atau canggung. Terimakasih ibu dan maaf.
Tentang pasangan untukku atau anak-anaknya yang lain ibu
punya ke khas-an tersendiri.
Ibu tidak pernah mengiyakan atau menidakan saat aku
bertanya pendapatnya tentang pacarku.
Dia selalu menjawab diplomatis “Mau yang Eja bawa gedebong
pisangpun kerumah, asal Eja bahagia, ibu juga bahagia”.
Jawaban itu kadang membuatku senang kadang juga bingung,
karena aku juga mau tau penilaian ibuku terhadap pacarku, karena mungkin
itu yang kelak jadi menantunya. Tapi ibu paling hanya menambahkan “Baik atau
nggaknya orang, butuh waktu untuk tau itu, pun Eja yang pacaran, pasti bisa
nilai sendiri”. Beliau selalu bilang itu, sambil selalu mengusap rambutku saat
mengatakannya.
Ibuku mulutnya ceplas ceplos, apalagi untuk sesuatu yang
diyakininya, itu mungkin yang membuat ia memiliki banyak teman, jadi ketua
geng, dan jadi tokoh berpengaruh di sekitaran rumah, entah karena mereka segan
atau justru takut. Dulu pernah, ada kejadian, jadi disekitaran rumahku seperti kampung
pinggiran pada umumnya, ada pemandian air panas umum. Nah, entah karena apa,
tiba-tiba ada larangan untuk mandi disitu, kabarnya larangan datang dari orang
yang “merasa” dirinya dituakan disini, yang kebetulan rumahnya dekat dengan
pemandian itu. Ibu tak terima, lalu mengajak ayahku untuk menungguinya mandi
disitu. Sepulang dari situ, iya tertawa sambil menceritakan, pak tua tadi
sempat keluar buat ngecek siapa yang mandi disitu, begitu melihat ibu dan
ayahku, ia kembali kerumahnya lalu menutup pintu. Semenjak hari itu tak ada
lagi larangan itu. Romantis ya? Tentang ibu dan ayahku nanti kuceritakan lagi.
Sekarang aku mau bercerita tentang bagaimana ibu ke
kawan-kawanku.
Yap! Mereka akrab. Ibuku seperti menganggap mereka seperti
anak sendiri, kawanku pun begitu. Mungkin karena mereka selalu siap jadi kawan curhat
ibuku tentang betapa pemalasnya aku, berantakannya kamarku, atau tentang berapa
banyak tumpukan pakaian kotorku. Hampir setiap hari ada saja kawanku yang datang kerumah.
Karena itulah kamarku lebih tepat disebut rumah singgah, 24
jam tak pernah terkunci, karena selalu saja ada yang datang, entah untuk tidur,
ngopi,atau sekedar singgah sebentar.
Ibu akan kecewa jika tau kawanku yang datang, tidak sempat
makan dirumahku. Ia pulalah yang mengajarkan aku untuk setidaknya membuatkan teh
dipagi hari saat kawanku tidur dikamarku. Katanya kasian, pagi-pagi perut
kosong gak diisi masak mau langsung pergi.
Ada sebuah cerita tentang ibu dan kawanku yang masih kuingat
sampai hari ini.
Waktu itu kami mau mendaki gunung, karena ibu melarangku.
Teman-temanku sepakat untuk meminta ijin agar aku dibolehin pergi. Lalu
terjadilah dialog seperti ini.
Kawanku: "Bu, boleh ya Eja pergi dengan kami? Diatas gunung
rame kok, ada ratusan."
Ibu : "Biarlah ribuan orang diatas gunung, anakku Cuma satu,
nanti dia ilang".
Kawanku diam
Lalu ibu menambahkan lagi
"Ketimbang dia manjat gunung mending dia manjat anak gadis
orang, gak naruhin nyawa".
Kawanku ngakak.
Setelah itu ibuku tetap tak mengizinkan ku.
Dan aku tetap berangkat, dengan alasan ada kerjaan diluar
kota tiga hari.
Saat pulang, ibu tau dari tumpukan baju kotorku yang
bercampur lumpur, ibu mencubitku puluhan kali, lalu menciumku dan mengucap
syukur aku gak hilang.
Setelah itu tiap aku kegunung, aku selalu minta izin ke ibu.
Dan ibu, seperti biasa tidak mengiyakan tidak pula menidakkan, yang jelas ia
membantuku untuk menyiapkan pakaianku. Aku tau hatinya berat melepaskanku, tapi
aku juga tau hatinya juga berat untuk melarangku. Karena tau, aku senang dengan
itu, aku bahagia saat melakukan itu. Dan aku tau, itu yang paling penting
baginya.
Bersambung….
(Ada banyak sekali yang ingin kuceritakan tentang ibu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar