Jumat, 01 September 2017

It's not a love story ( I )

Laki-laki itu masih disitu
Gelisah
Seperti orang yang menunggu sesuatu
Sesekali menghisap rokoknya
Yang entah batang yang keberapa
Sesekali, meneguk isi dari kaleng bir nya.
Sesuatu yang telah lama tak ia sentuh.
Cukup lama ia berdiri
Berkacak pinggang
Bukan lagak pongah
Lebih ke menahan badan yang mulai sempoyongan.
Hingga akhirnya memilih duduk.
Menatap langit,dengan kedua tangan menjadi penahan.
Bergumam kecil,
Berbicara dengan tuhan mungkin
Ia terlalu yakin bahwa tuhan mau mendengar cerita orang mabuk.

Yang jelas, setelah cukup lama memaku diri disitu
Ia tersenyum
Ia tak tau kenapa ia disitu
Bahkan ia tak tau lagi apa yang sedang dirasakannya.
Atau apa yang membuatnya tersenyum.
Mungkin kebodohonnya.

Tadi pagi ia terbangun dengan tamparan dari istrinya
Menyusul jambakan dan segala umpatan dari bibir tipis wanita itu.
Belum hilang rasa terkejutnya, pertanyaan bertubi-tubi menyerangnya.
Tentang wanita lain.
Tentang kesetiaan.
Dia ingin menjawab, atau balik bertanya
tapi pagi tak seperti ini harusnya.
Bingung. Lalu ia beranjak pergi.
Duduk diam ia disitu, menyeruput kopi langganannya.
Jauh dari rumah
Kembali ia mengingat dengan siapa ia pergi

Kemarin..
Dua hari lalu..
Seminggu yang lalu..
Sebulan..
Setahun..

Lalu ia semakin bingung.
Fikirannya, terbang jauh dari tempat itu.
Sebelum memesan satu cangkir kopi lagi. Tanpa gula

***

“Hari ini begitu hebat, Dalam hitungan jam, hidupku mampu di jungkirbalik kan, seperti roller coaster”, gumamnya dalam hati.

Dalam banyak kesempatan
Pertengkaran kerap tak menyisakan hal baik setelahnya.
Penyesalan, kebencian, atau justru melahirkan pertengkaran baru.
Lalu untuk apa?

Ketahuilah, orang bijak selalu menemukan hal baik dalam keadaan terburuknya sekalipun.
Dan dipenghujung malam, biasanya tiap-tiap anak manusia menjadi lebih bijak.
Entah dipaksa untuk ikhlas, pasrah akan keadaan,
Atau cara mereka untuk menghibur diri.
Dan malam ini, ia telah menjadi lebih bijak.
Pertengkaran tadi, menjadikan ia tau.
Apa yang semula samar menjadi jelas
Apa yang semula abu-abu malah menjadi magenta
Mereka telah hilang jauh sebelum ini.
Mereka telah lupa cara mencintai.
Mereka tersesat, dan tak pernah mencoba kembali.
Kau tak butuh orang lain,
Untuk membunuh apa yang sudah mati.
Karena, beberapa orang lebih memilih membiarkan penyakitnya
Sebagian lagi, malah tak mengakui itu.

***

Hampir siang, ia kembali ke rumah.
Kosong.
Entah apa yang menuntun langkahnya,
Pelan. Ia beranjak ke ruang tamu.
Menuju sebuah lemari tua,
Mengambil sebuah kotak kecil dengan ukiran hati pada penutupnya.
Membuka,dan membaca lagi satu persatu kertas yang ada didalamnya.
Surat cintanya dulu,
Semasa pacaran dengan perempuan yang memakinya tadi.
Perhatiannya beralih ke sebuah foto, yang menguning pada sudut-sudutnya.
Dan sebuah foto mereka, yang diambil tujuh tahun lalu, saat mereka pergi kepasar malam, kencan pertama mereka. Sekaligus merayakan ulang tahun gadis itu. Gadisnya.

Ingatannya kembali kemasa itu, masa-masa setelah itu..
Sampai mereka menikah..
Setahun setelah itu..
Dua tahun..
Lima tahun..
Sampai detik itu..

Ia tersenyum, Semua kenangan adalah hal yang manis, indah.

Ia sepertinya lupa kejadian hari ini..
Kemarin..
Setahun kebelakang..
Yang bahkan istrinya menyebut itu neraka.

“Aku akan berubah”,
“Kami akan berubah”
Ia sepertinya yakin dengan itu.

Lalu ia mulai menyalahkan diri.
“Kenapa aku begini”
“Harusnya aku begitu”
“kenapa aku menyakitinya”

Kembali ia tersenyum
“Aku akan menjadi aku yang dulu”
“Aku yang dulu ia cintai”
“Aku yang memanjakannya”
“Aku yang tau cara memperlakukan gadis ku”
“Aku akan berubah, untuknya”

Ia ingin segera pergi dari situ,
Ketempat yang telah lama tak ia datangi. Toko bunga.
“Dia pasti akan senang”, yakinnya dalam hati.

Tapi, Langkah nya tertahan
Oleh suara lenguh nafas, dan bunyi ranjang yang berderit.
Ragu, ia melangkah pelan.
Kekamarnya,
Kekamar mereka. Suara itu jelas dari sana.
Dan benar,
Saat ia membuka pintu, ia melihat gadisnya dikangkangi oleh pria lain.
Bahkan butuh beberapa detik bagi mereka untuk sadar, ia ada disitu.
Nafasnya tertahan.

***

Ia tak menemukan istilah untuk menyebut apa yang dirasakannya, atau harus bereaksi seperti apa saat itu.
Istrinya, mungkin merasakan hal yang sama.
Dengan selimut yang sudah menutupi tubuh berpeluhnya.
Alih-alih mengambil pisau lalu menghujam jantung keduanya, atau memukuli hingga mati pria telanjang dihadapannya. Ia hanya terdiam.
Detik selanjutnya, yang ia ingat hanya satu
Satu pertanyaan, yang meluncur keluar dari bibir menggigilnya.

“Kau Mencintainya?”

Istrinya tak menjawab, hanya menatapnya dalam, lalu beralih menatap pria disampingnya.
Ia tak pernah menunggu jawaban itu
Ia hanya ingin menanyakan itu
Lalu beranjak pergi.
Dan malam ini,
Dengan rokok dan bir kalengan yang sejak tadi menjadi teman terbaiknya.
Iya telah menjadi lebih bijak,
Tak ada lagi pertanyaan dalam dirinya,

“Kenapa Jadi begini?’
“Harusnya aku”
“Padahal aku sudah”
“Harusnya aku mendengarkan orang-orang”
Tak ada pertanyaan..
Tak ada penyesalan..
Tak ada lagi.

Yang ia tahu, dan mungkin menjadi sebab ia tersenyum

Perempuan yang tadi memakinya,
Yang menuduhnya telah bermesraan dengan wanita lain,
Yang mengkhotbahinya tentang kesetiaan,
Dan sejak lama menggelarinya sebagai pria brengsek,
Yang membuatnya berfikir bahwa semua masalah ini adalah kesalahannya
Telah tidur dengan lelaki lain.
Dirumahnya..
Dikamarnya..
Diranjangnya..

Tentu sulit untuk mempercayai sesuatu, yang tak ingin kau percayai.

Perempuan itu, terlepas dari segala kekurangannya, adalah siapa dan apa yang iya cintai dan iya yakini mencintainya..
Dan pernikahan ini, dengan segala ke berantakannya, tak pernah terfikir oleh nya akan menjadi seluluh lantak ini.

Bir nya telah hampir habis, menyusul dua kaleng yang sudah lebih dulu.
Rokoknya pun,hanya tersisa sedikit,
Menanti hisapan terakhir.
Kemudian ia berdiri.
Kali ini lebih mantap. Tanpa perlu mengacak pinggang.
Kembali Ia menatap langit,
Menghembuskan semua asapnya.
Teringat kembali sebuah nasihat yang pernah didengarnya,

“Cinta itu membahagiakan. jika bagimu tidak, mungkin kau salah orang”.

Ia tertunduk.

 “Akulah si brengsek, si brengsek yang salah orang”.

Lalu membuang puntung rokoknya, menginjak hingga rata dengan tanah.
Dan bergegas pergi dari tempat itu.
Tempat yang tujuh tahun lalu dijadikan pasar malam.
“Tempat terkutuk!”.
Umpatnya.



Tidak ada komentar: