Alena :” Kudengar dari orang-orang, kau penyair handal?, berpindah dari
kota satu ke kota lainnya, menuliskan
syair dan puisi bagi orang-orang yang sedang dimabuk
cinta? Berapa banyak uang yang bisa kau dapatkan dari situ?”
Hugo : ”Mungkin kau salah dengar. Atau orang-orang yang terlalu melebih-lebihkan. Uang? Kurasa tak semua orang
menjadikan itu sebagai ukuran. Tapi
jika kau ingin jawaban, kurasa cukup. Cukup untuk membuatku hidup sampai hari ini, membeli beberapa
botol bir, dan membayarmu malam ini”.
Alena : “Haha.
Kau tersinggung? Oke, bayar aku dengan puisimu”.
Hugo : “Maksudmu?”
Alena : ”Buatkan
aku puisi, seumur hidup belum ada yang pernah melakukannya untukku”.
Hugo : “Aku
sedang tak ingin, pun aku masih punya uang”.
Alena : “Ayolah,
tak inginkah kau membuat pelacurmu
senang malam ini? atau harga puisimu
lebih mahal dari hargaku? Oh, aku akan marah jika kau meng-iya kannya”.
Hugo : “Nanti
kau akan membenciku”.
Alena : “Hah?
Kenapa aku harus membencimu?”
Hugo : “Karena
puisiku”
Alena : “Haha.
Tenanglah, seburuk apapun puisimu. Aku akan berpura-pura menyukainya. Toh yang ku tau, puisi berisi
segala ungkapan puja-puji atau segala
hal tentang sepi. Kemana perginya kepercayaan dirimu tadi?”
Hugo : “Hmmmm..”
Hugo : “Angka
berapa yang kau suka?”
Alena : “Maksudmu?”
Hugo : “Jawab saja pertanyaanku”.
Alena : “Oh, 19. Angka sempurna menurutku, awal dan
akhir”.
Hugo : “ Apa lagi yang kau suka?”
Alena : “Uang”.
Hugo : “Bukan,
maksudku sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang sentimentil, sesuatu yang membuat kau teringat akan
sesuatu, atau yang membuatmu senang”.
Alena : “Oh
aku faham, itu yang akan kau jadikan isi dalam puisimu, aku mulai menyukai ini”
Alena : “Kufikir tak ada lagi yang membuatku senang
selain uang. Tapi, mmm waktu kecil
dulu aku suka hujan, hujan dipagi hari, disiang hari, atau disore hari, tapi tidak dimalam hari”.
Hugo : “Kenapa?”
Alena : “Aku
sering ditinggal sendiri saat itu, berlindung dalam rumah dengan penerangan seadaanya, dengan dentuman petir
yang bersahut-sahutan diluar. Aku
sangat takut saat itu. Kau tentu bisa membayangkannya. Hey, kau akan membuatkan puisi, atau akan terus
menanyaiku?”
Hugo : “Hmmmm..
Baiklah, beri aku 15 menit, jangan kau ganggu, dan tetaplah telanjang”.
Alena : “Wow,
tubuhku menjadi inspirasi. Aku tersanjung. Baiklah tuan penyair”
***
Hugo : “Puisimu
telah selesai, mau kau baca sendiri? Atau ingin kubacakan?”
Alena : “Tolong
kaubacakan, buat aku terbuai dengan itu sayang”.
Hugo : “Oke.
Tapi sebelumnya, bolehkah aku mengikat kaki dan tanganmu, dan menutup mulutmu?”
Alena : “Hey, kau
ingin membunuhku?”
Hugo : “Ya.
Jika kau terus bicara”
Hugo : “Aku
ingin bermain sekali lagi denganmu, kali ini sedikit lebih liar”
Alena : “Haha.
Aku faham. Aku tau, tiap laki-laki punya fantasinya sendiri. Tapi aku tak menyangka kau seliar ini. Kau tau? orang-orang harus membayar lebih
untuk itu. Kau tak perlu, anggap itu bonus karena membacakannya untukku. Ambilkan sapu tanganku. Pakai saja itu untuk menutup mulutku. Jangan terlalu kuat. Dan jangan
kecewakan aku!”
***
Hugo : “Puisi
ini untukmu, khusus untukmu”.
Hey Pelacur, Lihat lah dirimu
hari ini
Sudah berapa laki-laki yang
mengangkangimu?
19, 20, 50,100, 1000?
Atau kau lupa saking banyaknya?.
Kau suka uang
Uang menyukaimu. tubuhmu
Tapi kau lupa.
Kau akan tua, sementara uang
tetap ada. Meninggalkanmu.
Lihatlah dirimu hari ini
Kemana perginya buah dada
membusungmu dulu?
Atau bokong padat berisi segala
imajinasi dari laki-laki yang kau lewati?
Mereka hilang, Mereka akan
hilang.
Hugo : “Hey,
kenapa kau menatapku seperti itu? Kau sudah mulai membenciku?dengarkan saja dulu, ini bahkan
belum setengahnya”.
Hey Pelacur, kau serupa ahli
nujum
Ahli meramu, segala yang palsu
Liurmu serupa nanah, hanya
menjadi anggur dihadapan yang buta.
Yang lidahnya tak peka.
Pangkal pahamu?
Hanya tumpukan daging busuk, Lalu
kau hidangkan sedemikian rupa
Menjadi santapan para raja.
Bibir tipismu?
Ah sudahlah, biar gincu merah
murahmu yang bercerita
Lidahmu lah yang terhebat
Dari situlah segala desah dan
janji dimuntahkan
Layaknya rapal mantra paling kuat
Masuk ke pembuluh darah, dan
mengikat hebat.
Hugo : “Hey,
Kenapa kau memberontak?Sia-sia. Kau hanya membuang-buang tenaga, tunggulah sebentar lagi. Ini akan
selesai”
Hey Pelacur, Kau lupa?
Bahwa wanita membawa kutukan
sejak dari lahirnya
Kutukan tentang, masa lalu
Ya, wanita dinilai dari masa
lalunya.
Suka tak suka. Kau harus setuju
dengan itu.
Ibumu, pasti pernah bicara
tentang itu.
Hugo : “Hey
kenapa kau menangis? Sabar, sedikit lagi”.
Hey Pelacur, Kau tak bocah lagi.
Aku yakin kini kau tak takut
lagi dengan hujan diwaktu malam
Sekarang ia temanmu, yang memberi tanda
Agar kau lebih bersemangat
menjajakan satu-satunya yang kau punya
Konon, Saat malam dan
hujan
Rasa lapar dan sepi menjadi semakin kuat
Melesat masuk menghujam
kerongkongan
Turun keperut, lalu berhenti
diantara selangkangan.
Semesta mendukung, fikirmu.
Hey Pelacur. Kau punya Cinta?
Bukan. Maksudku selain uang.
Mustahil kau tak punya cinta,
setidaknya cinta pertama
Kutebak,
Cinta pertamamu berupa penis
hitam busuk yang menjulang dihadapanmu
Berjubah segala janji manis khas penjual obat.
Jadilah ia guru pertamamu
Jadilah ia guru pertamamu
Hey Pelacur, maaf aku menulis ini
Seharusnya bisa lebih panjang
lagi.
Tapi aku ingin muntah sekarang.
Tapi aku ingin muntah sekarang.
Hugo : “Jangan
tatap aku dengan tatapan yang seperti itu. Kau yang memaksaku membuatkan puisi tadi”.
Hugo : “Kau
membenciku? Sayangnya aku tak peduli. Pelacur dimuka bumi bukan cuma kau”. Oh ya, Kawanku metitipkan salam untukmu, ia yang beberapa
tahun lalu tergantung kaku meregang nyawa karena menangisi manusia hina penista kaum macam kau. Ia yang
terlalu mencintaimu. Ia yang memaafkanmu dan mempercayai tiap jengkal cerita
yang kau ceritakan. Tentang kau yang
tak sadar lalu diperkosa. Ia yang bersedia menjadi
bapak bagi siapa yang bukan anaknya kelak. Ia yang kemudian hidup berkalang
malu di rajam tawa dan cemoohan orang sekampung. Kau seharusnya tidak pergi saat itu, setidaknya tidak dihari
itu. Tidak saat semua sudah disiapkan untukmu, untuk anak harammu”.
Hugo : "Kau tau apa yang paling menyedihkan saat
itu? Saat kepergianmu dianggapnya sebagai
tanda cintamu untuknya, kau yang tak mau menyiksanya
dengan aib yang kau bawa, kau yang merasa gagal menjaga apa yang selama ini kalian jaga, kau yang tak mau membuatnya menanggung beban, bahkan ia malah
menyalahkan dirinya saat itu. Sampai
kemudian istri Si tuan tanah berkeliling kampung berteriak-teriak serupa orang gila, bahwa kau membawa lari
suaminya, beserta harta yang mereka punya.
Suami jalang dan gundik yang bunting”.
"Ia mencium kebusukan itu sejak
dulu. Tapi terlalu takut untuk bicara. Lagipula
siapa yang mau dimadu?”
Hugo :“Dan Nakula kawanku. Kawanku yang dungu.
sebenarnya telah mati saat itu, ia hanya
menunggu malaikat maut singgah sesaat untuk menikamkan pedang mahatajamnya ke jantungnya, atau mencengkram lalu
mencabut dengan paksa hati lelaki tolol
itu. Hati yang pastinya telah bengkak, membiru
penuh memar”.“Dan tepat dimalam laknat itu, ditengah
hujan yang begitu deras, kawanku mati dikamar
gelapnya. Dengan fotomu yang masih ditangannya”.
“Aku tak akan bertanya, kemana perginya Si tuan
tanah, kau yang berada disini adalah
sejelas-jelasnya jawaban”. Tujuanku telah sampai, setelah ini, jika kehidupan setelah mati itu memang
ada, semoga kawanku bisa hidup
tenang disana, seperti kau disini. sebelum hari ini".
Hugo : “Kemana
perginya tatapan angkuhmu tadi?Ah air mata itu, aku ingin sekali mempercayainya.
Bersyukurlah kau, aku tak membakar kau hidup-hidup
disini. Walau aku tau, beberapa iblis nyatanya tak kebal api.Tenanglah , setelah aku pergi,
akan ada yang akan melepaskan ikatanmu”.
Hugo : “Ini
bayaranmu, puisi tadi gratis. Dan berharaplah kau tak akan berjumpa denganku lagi”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar