Senin, 25 September 2017

Aphrodisia...

Alena :” Kudengar dari orang-orang, kau penyair handal?, berpindah dari kota satu ke kota lainnya, menuliskan syair dan puisi bagi orang-orang yang sedang dimabuk cinta? Berapa banyak uang yang bisa kau dapatkan dari situ?”

Hugo   : ”Mungkin kau salah dengar. Atau orang-orang yang terlalu melebih-lebihkan. Uang? Kurasa tak semua orang menjadikan itu sebagai ukuran. Tapi jika kau ingin jawaban, kurasa cukup. Cukup untuk membuatku hidup sampai hari ini, membeli beberapa botol bir, dan membayarmu malam ini”.

Alena  : “Haha. Kau tersinggung? Oke, bayar aku dengan puisimu”.

Hugo   : “Maksudmu?”

Alena  : ”Buatkan aku puisi, seumur hidup belum ada yang pernah melakukannya untukku”.

Hugo   : “Aku sedang tak ingin, pun aku masih punya uang”.

Alena  : “Ayolah, tak inginkah kau membuat  pelacurmu senang malam ini? atau harga puisimu lebih mahal dari hargaku? Oh, aku akan marah jika kau meng-iya kannya”.

Hugo   : “Nanti kau akan membenciku”.

Alena  : “Hah? Kenapa aku harus membencimu?”

Hugo   : “Karena puisiku”

Alena  : “Haha. Tenanglah, seburuk apapun puisimu. Aku akan berpura-pura menyukainya. Toh yang ku tau, puisi berisi segala ungkapan puja-puji atau segala hal tentang sepi. Kemana perginya kepercayaan dirimu tadi?”

Hugo   : “Hmmmm..”

Hugo   : “Angka berapa yang kau suka?”

Alena  :  “Maksudmu?”

Hugo   :  “Jawab saja pertanyaanku”.

Alena  :  “Oh, 19. Angka sempurna menurutku, awal dan akhir”.

Hugo   :  “ Apa lagi yang kau suka?”

Alena  :  “Uang”.

Hugo   : “Bukan, maksudku sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang sentimentil,   sesuatu yang membuat kau teringat akan sesuatu, atau yang membuatmu senang”.

Alena  : “Oh aku faham, itu yang akan kau jadikan isi dalam puisimu, aku mulai menyukai ini”

Alena : “Kufikir tak ada lagi yang membuatku senang selain uang. Tapi, mmm waktu kecil dulu aku suka hujan, hujan dipagi hari, disiang hari, atau disore hari, tapi tidak dimalam hari”.

Hugo   : “Kenapa?”

Alena  : “Aku sering ditinggal sendiri saat itu, berlindung dalam rumah dengan penerangan seadaanya, dengan dentuman petir yang bersahut-sahutan diluar. Aku sangat takut saat itu. Kau tentu bisa membayangkannya. Hey, kau akan membuatkan puisi, atau akan terus menanyaiku?”

Hugo   : “Hmmmm.. Baiklah, beri aku 15 menit, jangan kau ganggu, dan tetaplah telanjang”.

Alena  : “Wow, tubuhku menjadi inspirasi. Aku tersanjung. Baiklah tuan penyair”


***

Hugo   : “Puisimu telah selesai, mau kau baca sendiri? Atau ingin kubacakan?”

Alena  : “Tolong kaubacakan, buat aku terbuai dengan itu sayang”.

Hugo   : “Oke. Tapi sebelumnya, bolehkah aku mengikat kaki dan tanganmu, dan menutup mulutmu?”

Alena  : “Hey, kau ingin membunuhku?”

Hugo   : “Ya. Jika kau terus bicara”

Hugo   : “Aku ingin bermain sekali lagi denganmu, kali ini sedikit lebih liar”

Alena  : “Haha. Aku faham. Aku tau, tiap laki-laki punya fantasinya sendiri. Tapi aku tak menyangka kau seliar ini. Kau tau? orang-orang harus membayar lebih untuk itu. Kau tak perlu, anggap itu bonus karena membacakannya untukku. Ambilkan sapu tanganku. Pakai saja itu untuk menutup mulutku. Jangan terlalu kuat. Dan jangan kecewakan aku!”

***

Hugo   : “Puisi ini untukmu, khusus untukmu”.



Hey Pelacur, Lihat lah dirimu hari ini
Sudah berapa laki-laki yang mengangkangimu?
19, 20, 50,100, 1000?
Atau kau lupa saking banyaknya?.
Kau suka uang
Uang menyukaimu. tubuhmu
Tapi kau lupa.
Kau akan tua, sementara uang tetap ada. Meninggalkanmu.
Lihatlah dirimu hari ini
Kemana perginya buah dada membusungmu dulu?
Atau bokong padat berisi segala imajinasi dari laki-laki yang kau lewati?
Mereka hilang, Mereka akan hilang.


Hugo   : “Hey, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau sudah mulai membenciku?dengarkan saja dulu, ini bahkan belum setengahnya”.


Hey Pelacur, kau serupa ahli nujum
Ahli meramu, segala yang palsu
Liurmu serupa nanah, hanya menjadi anggur dihadapan yang buta.
Yang lidahnya tak peka.
Pangkal pahamu?
Hanya tumpukan daging busuk, Lalu kau hidangkan sedemikian rupa
Menjadi santapan para raja.
Bibir tipismu?
Ah sudahlah, biar gincu merah murahmu yang bercerita
Lidahmu lah yang terhebat
Dari situlah segala desah dan janji dimuntahkan
Layaknya rapal mantra paling kuat
Masuk ke pembuluh darah, dan mengikat hebat.


Hugo   : “Hey, Kenapa kau memberontak?Sia-sia. Kau hanya membuang-buang tenaga, tunggulah sebentar lagi. Ini akan selesai”


Hey Pelacur, Kau lupa?
Bahwa wanita membawa kutukan sejak dari lahirnya
Kutukan tentang, masa lalu
Ya, wanita dinilai dari masa lalunya.
Suka tak suka. Kau harus setuju dengan itu.
Ibumu, pasti pernah bicara tentang itu.


Hugo   : “Hey kenapa kau menangis? Sabar, sedikit lagi”.


Hey Pelacur, Kau tak bocah lagi.
Aku yakin kini kau tak takut lagi dengan hujan diwaktu malam
Sekarang ia temanmu, yang memberi tanda
Agar kau lebih bersemangat menjajakan satu-satunya yang kau punya
Konon, Saat malam dan hujan
Rasa lapar dan sepi menjadi semakin kuat
Melesat masuk menghujam kerongkongan
Turun keperut, lalu berhenti diantara selangkangan.
Semesta mendukung, fikirmu.

Hey Pelacur. Kau punya Cinta?
Bukan. Maksudku selain uang.
Mustahil kau tak punya cinta, setidaknya cinta pertama
Kutebak,
Cinta pertamamu berupa penis hitam busuk yang menjulang dihadapanmu
Berjubah segala janji manis khas penjual obat.
Jadilah ia guru pertamamu

Hey Pelacur, maaf aku menulis ini
Seharusnya bisa lebih panjang lagi.
Tapi aku ingin muntah sekarang.


Hugo   : “Jangan tatap aku dengan tatapan yang seperti itu. Kau yang memaksaku membuatkan puisi tadi”.


Hugo   : “Kau membenciku? Sayangnya aku tak peduli. Pelacur dimuka bumi bukan cuma kau”. Oh ya, Kawanku metitipkan salam untukmu, ia yang beberapa tahun lalu tergantung kaku meregang nyawa karena menangisi manusia hina penista kaum macam kau. Ia yang terlalu mencintaimu. Ia yang memaafkanmu dan mempercayai tiap jengkal cerita yang kau ceritakan. Tentang kau yang tak sadar lalu diperkosa. Ia yang bersedia menjadi bapak bagi siapa yang bukan anaknya kelak. Ia yang kemudian hidup berkalang malu di rajam tawa dan cemoohan orang sekampung. Kau seharusnya tidak pergi saat itu, setidaknya tidak dihari itu. Tidak saat semua sudah disiapkan untukmu, untuk anak harammu”.


Hugo    : "Kau tau apa yang paling menyedihkan saat itu? Saat kepergianmu dianggapnya sebagai tanda cintamu untuknya, kau yang tak mau menyiksanya dengan aib yang kau bawa, kau yang merasa gagal menjaga apa yang selama ini kalian jaga, kau yang tak mau membuatnya menanggung beban, bahkan ia malah menyalahkan dirinya saat itu. Sampai kemudian istri Si tuan tanah berkeliling kampung berteriak-teriak serupa orang gila, bahwa kau membawa lari suaminya, beserta harta yang mereka punya. Suami jalang dan gundik yang bunting”.
"Ia mencium kebusukan itu sejak dulu. Tapi terlalu takut untuk bicara. Lagipula siapa yang mau dimadu?”
       

Hugo      :“Dan Nakula kawanku. Kawanku yang dungu. sebenarnya telah mati saat itu, ia hanya menunggu malaikat maut singgah sesaat untuk menikamkan pedang mahatajamnya ke jantungnya, atau mencengkram lalu mencabut dengan paksa hati lelaki tolol itu. Hati yang pastinya telah bengkak, membiru penuh memar”.“Dan tepat dimalam laknat itu, ditengah hujan yang begitu deras, kawanku mati dikamar gelapnya. Dengan fotomu yang masih ditangannya”.
“Aku tak akan bertanya, kemana perginya Si tuan tanah, kau yang berada disini adalah sejelas-jelasnya jawaban”. Tujuanku telah sampai, setelah ini, jika kehidupan setelah mati itu memang ada, semoga kawanku bisa hidup tenang disana, seperti kau disini. sebelum hari ini".


Hugo   : “Kemana perginya tatapan angkuhmu tadi?Ah air mata itu, aku ingin sekali mempercayainya. Bersyukurlah kau, aku tak membakar kau hidup-hidup disini. Walau aku tau, beberapa iblis nyatanya tak kebal api.Tenanglah , setelah aku pergi, akan ada yang akan melepaskan ikatanmu”.


Hugo   : “Ini bayaranmu, puisi tadi gratis. Dan berharaplah kau tak akan berjumpa denganku lagi”.

Tidak ada komentar: